Kopi, Api, dan Kopdes

Fajar yang dingin menjadi hangat oleh riang matahari terbit dari ufuk timur. Sinarnya menerangi ayam yang berkokok saling bersahutan hingga membangunkan manusia-manusia yang terdampar di pulau kapuk untuk bangkit dan mengais rezeki seperti hari-hari sebelumnya.

Bagus sibuk mengengkol motor Supra tua untuk memanaskannya.  Berharap motor tersebut cepat menyala dan mesinnya panas. Kenyataannya justru sebaliknya, Bagus yang justru dibuat panas oleh motornya sendiri. Maklum saja, motor Supra tua yang telah di bore-up sedemikian rupa membuatnya susah untuk dinyalakan.

Bagus tidak kekurangan akal, ia memukul totok kepala motornya lalu menyala seketika. Sakti mandraguna memang Supra tua milik Bagus yang tidak hanya liar dalam kecepatan tetapi liar juga untuk dipahami.

Dalam perjalanan menuju tempat kerja, ia melewati jalanan aspal desa yang berlubang bak wisata 1000 sumber sumur. Lubang jalanan tak membuat lupa Bagus untuk sekadar memberi salam dan sapaan hangat kepada tetangganya. Pelan-pelan Bagus mengendarai motornya di tengah desa karena tentu ia tak ingin membangunkan bayi yang masih tertidur akibat suara knalpot trondol yang begitu buas.

Di ujung desa yang hanya menyisakan ladang sawah luas, di sinilah waktunya Supra bore-up menunjukkan tajinya. Ia langsung menarik tuas gas sedalam mungkin membuat motornya langsung liar hingga terangkat. Bagus adalah pengendali Supranya, nyawanya menyatu dengan mesin dan di sanalah ia cukup liar hingga mengejutkan para pemancing di pinggir jalanan sawah.

Sampailah ia di sebuah warkop di ujung desa yang terletak di tengah-tengah sawah. Warkop yang berdiri di antara rerumputan padi hijau menguning, di depannya terdapat lapangan kosong dengan rerumputan kecil yang menambah keindahannya. Paman Bagus dengan telaten selalu membabati rerumputan yang berada di depan warkop jika mulai memanjang tak karuan. Warkop Asri sebutannya.

Telah viral menghiasi FYP media sosial selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Rating Google maps-nya seperti bintang di angkasa yang begitu ramai dan indah. Warkop tersebut tidak hanya dikenal oleh akamsi melainkan hingga penjuru seluruh kota sebelah atau bahkan seluruh dunia tahu akan eksistensinya. Orang-orang kota pun rela melakukan perjalanan jauh hanya untuk mampir ngopi di warkop ini. Yang dijual oleh warkop hingga selalu viral tidak hanya kopi ataupun jajanan desa yang legendaris, tetapi juga pemandangan sawah dan gunung yang begitu asri yang bisa dilihat dari warkop ini. Tuhan menurunkan kepingan surga dan sudah tertulis sedia kala dalam takdir bahwa Warkop Asri ini diciptakan atas kehendak-Nya.

Warkop Asri viral ketika Bagus berperan sebagai penjaga di tiga bulan pertamanya. Meskipun tempat ini sudah ada sebelum Bagus bekerja di sini, semuanya tak akan terjadi tanpa ada campur tangan Bagus sebagai orang yang memasarkan warkop melalui konten video pendek yang diunggah di media sosial. Maklum saja, Bagus punya pengalaman bekerja di sebuah agensi kreatif di ibu kota selama dua tahun. Maka hal-hal seperti promosi lewat media sosial sudah dikhatamkan olehnya. Ia memutuskan berhenti dari pekerjaan agensi karena budaya kerja kelewat gila. Akhirnya, ia lebih memilih kembali ke desa sebagai rakyat biasa dan menjaga Warkop Asri milik pamannya.

Sebenarnya menjadi penjaga warkop bukanlah impian bagi Bagus. Hal tersebut terjadi karena pengambilan keputusan yang bodoh sebelum melepas pekerjaan dari agensi; ia tak punya cadangan pekerjaan. Akhirnya, ia menganggur selama setengah tahun meskipun telah mencoba berbagai upaya untuk melamar pekerjaan sana-sini. Putus asa dengan harapannya, akhirnya ia mau tak mau menerima tawaran pamannya untuk menjaga warkop kecil di ujung sawah desa. Bayaran tak seberapa, setidaknya ia masih hidup dari upah harian kerja menjadi penjaga warkop.

Sebelum hendak membuka warkop, Bagus terdiam sejenak. Ada pemandangan tak biasa di pagi itu. Di sana ia melihat Pak Lurah bersama beberapa perangkat desa sedang berada di lapangan depan warkop.

Tampaknya mereka berbincang seperti ingin melakukan sesuatu di lapangan depan warkop tersebut. Terlihat dari cara mereka melayangkan tangan seperti menghitung jarak, luas, dan lebar dari lapangan kosong. Disusul dengan anggukan tanpa arti dari Pak Lurah. Mungkin akan dibangun perumahan lagi, begitu setidaknya dalam benak Bagus.

Entah sampai kapan sawah di desanya akan terus berkurang karena lahan hijau yang semakin dilahap oleh pemukiman baru. Suatu saat nanti, tidak akan ada bedanya hidup di desa dengan kota yang sama-sama padat penduduk. Namun, Bagus tak perlu memikirkannya secara berlebihan selagi tak mengusik warkop yang akan dibuka sebentar lagi.

Seperti kebiasaan setiap pagi, Bagus membuka pintu dan satu per satu jendela agar udara segar di pagi hari menerobos masuk ke dalam warkop. Meja dan kursi kecil dikeluarkan satu per satu dan ditata sedemikian rupa berjajar rapi. Di luar terdapat empat meja kecil dengan masing-masing meja terdapat empat kursi pantai yang mana anak muda lebih suka menyebutnya sebagai kursi skena. Di dalam berjajar dua meja panjang yang menghadap jendela, lalu ada juga meja yang menjadi satu dengan tempat Bagus meracik kopi serta memasak gorengan. Interior hanya dibangun di atas kayu dengan cat kecokelatan yang menambah kesan ndeso dan asri. Bagi siapa saja yang masuk akan merasakan seperti di sebuah rumah nenek.

Sebelum jam buka, Bagus mencuci gelas-gelas kemarin malam yang tergeletak di bak plastik. Mengisi kembali stoples kopi dengan berbagai isian biji kopi. Tak hanya biji kopi asli, warkop ini juga menyediakan kopi saset yang mungkin tak semua konsumen tahu-menahu mengenai biji kopi terbaik untuk diminum. Tak luput juga membuat gorengan dari pisang hingga bakwan yang terkenal enak. Semuanya telah disiapkan sedemikian rupa untuk menerima para konsumen. Bagus tak lupa mengangkat gawainya untuk merekam detik-detik warkop tersebut dibuka untuk kebutuhan story di media sosial.

“Yok Warkop Asri sudah dibuka! Monggo konco-konco dan dulur-dulur bisa mampir menikmati kopi sambil ditemani pemandangan yang asri ini!” ucap Bagus dengan penuh semangat pagi hari.

Cahaya matahari meninggi perlahan dan warkop di tengah sawah tampak menambah keteduhan suasana. Meskipun interior warkop tak seestetis kafe di pusat kota ataupun kopinya tak semahal racikan barista ternama, pemandangan alam adalah hal paling mahal di sini. Itulah yang dapat mengundang para remaja puber ataupun para pengguna media sosial yang FOMO untuk mengantre datang tidak hanya untuk mencicipi kopi dan jajan, tetapi juga berswafoto dengan alam yang mungkin tidak akan ditemui di pusat kota. Healing itulah istilah tepat untuk menargetkan para konsumen Warkop Asri. Bagus dengan pengalamannya bekerja di agensi media sosial, selalu lihai dalam menangkap cahaya warkop melalui angle sinematik yang menambah kesan keindahannya. Alhasil, semenjak itu warkop selalu ramai dikunjungi oleh berbagai kalangan, tidak hanya akamsi melainkan juga para turis lokal.

Pak Lurah dan perangkat desa telah usai mengamati lapangan kosong lalu berjalan mengunjungi warkop tersebut. Bagus tentu telah berfirasat sama akan datangnya mereka ke warkop. Sekejap wajah cerah dan hangat terpancar dari roman Bagus.

“Monggo, Pak, silakan mau pesan apa?”

“Yang biasa aja, kopi hitam satu sama pisang goreng,” jawab Pak Lurah dengan penuh keceriaan.

“Yang lain mau pesan apa?” 

“Kopi hitam saja, Pak!” seru mereka mengikuti apa saja yang dipesan oleh Pak Lurah.

Biji kopi digilas dalam penggilingan, menyajikan suara merdu yang begitu memanjakan telinga. Bau kopi yang terhempas melewati bulu hidung membawa semangat pagi dan energi. Hingga air panas yang mengawini serbuk kopi hasil penggilingan menambah harum rasa kopi yang semerbak ke seluruh penjuru nyawa manusia yang terikat di dalam warkop.

Pak Lurah dan perangkat desa langsung menyeruput kopi hitam dengan kenikmatan yang paling hakiki seakan mereka telah berada di surga. Sebuah pemandangan yang biasa saja bagi Bagus namun akan berbeda bagi para konsumen warkop yang menyeruput kopi. Sementara itu, Bagus menyimpan pertanyaan yang hendak disampaikan kepada Pak Lurah.

“Mau ada apa, Pak, kok pagi-pagi udah di sawah? Mau bikin perumahan lagi, Pak, haha?” tanya Bagus dengan candaan sinis.

“Enggak, Gus. Mau bangun Kopdes, programnya pemerintah yang baru.”

Sejenak Bagus teringat kembali dengan hal ramai yang dibicarakan di media sosial mengenai program pemerintah Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih. Seperti yang diberitakan bahwa Kopdes menuai komentar negatif oleh netizen. Salah satunya adalah penempatan Kopdes yang terlampau tak masuk akal bahwa Kopdes bisa berada di tempat antah berantah seperti di pedalaman hutan, perbukitan, dan tempat-tempat yang jauh dari ingar-bingar manusia. Tak disangka bahwa Kopdes akan dibangun di depan Warkop Asri. Hal tersebut semakin membuat penasaran Bagus untuk mempertanyakan keputusan Pak Lurah.

“Kok di sini, Pak, bangunnya? Kok ga di pasar atau di mana gitu?”

“Bingung, Gus, mau dibangun di mana, di pasar udah penuh ruko gak ada tempat kosong buat bangun Kopdes. Di tempat lain ya sudah banyak dibeli sama developer tanah buat bangun perumahan. Lagi pula Warkop Asri juga ramai terus semenjak viral. Saya tahu karena sering lewat FYP-nya anakku,” terus terang oleh Pak Lurah.

Tanah lapangan kosong ini merupakan milik Pak Marjan, mantan lurah periode sebelumnya. Pak Marjan kesandung kasus korupsi yang membuat seluruh hartanya diaudit hingga ketahuan lah tanah lapang ini yang ternyata milik desa namun diatas namakan dengan namanya. Akhirnya tanah lapangan kosong ini kembali milik desa.

Rerumputan liar dibabat habis karena direncanakan akan dibangun lapangan sepak bola. Namun, tak kunjung terealisasikan hingga rerumputan  kembali menjulang tinggi. Pamannya Bagus akhirnya membeli sepetak tanah berukuran 3 x 3 meter yang awalnya akan digunakan untuk menanami bijian garbis, tetapi berubah menjadi membangun warkop di tengah sawah.

Jam menunjukkan pukul enam pagi yang berarti para konsumen akan berdatangan. Pagi hari adalah waktu yang paling ramai selain sore hari. Di mana dua waktu tersebut adalah waktu paling tepat untuk menikmati pemandangan sawah. Banyak para pesepeda berbondong-bondong untuk KOPAG (kopi pagi). Ada juga para buruh pabrik yang hanya membeli gorengan hangat ataupun orang-orang FOMO yang berswafoto. Memang benar adanya warkop ini ditakdirkan oleh Tuhan berada di tempat yang tepat.

Bagus langsung disibukkan dengan gerombolan konsumen yang datang secara bergantian. Ia tidak sendirian, Bagus dibantu oleh pamannya yang sekaligus pemilik Warkop Asri. Bagus bolak-balik mengantarkan pesanan ke setiap meja konsumen sedangkan pamannya sibuk membuat pesanan. Tak jarang jika agak senggang antara Bagus dan pamannya saling mengobrol hangat dengan para konsumen warkop. Dari obrolan yang remeh-temeh sampai obrolan sinis terhadap pemerintahan. Selama tak ada Pak Lurah di sana, hal tersebut akan menjadi bumbu sedap menemani orang-orang yang duduk di dalam warkop.

Keesokan paginya Bagus dibuat kaget oleh truk muatan pasir berjajar rapi di sepanjang jalan aspal tengah sawah. Bagus menyusuri antrean truk tersebut yang ternyata antrean truk berhenti di lapangan kosong di depan Warkop Asri. Truk-truk bermuatan pasir bergantian untuk memuntahkan apa pun yang ada dalam bebannya. Lapangan kosong yang ditumbuhi rerumputan hijau tertimbun dengan rapat oleh pasir. Seperti membangun sebuah daratan baru, pasir-pasir tersebut diratakan menggunakan mesin perata jalan. Luasnya membentang dari timur ke barat dan selatan ke utara melebihi warkop yang berada di belakangnya. Pemandangan warkop berubah yang awalnya begitu asri oleh rerumputan sawah dan pegunungan berganti menjadi dataran pasir yang tandus dan berdebu. Pembangunan Kopdes akan segera dimulai dan tentu Bagus merasakan suasana paginya yang berbeda tak seperti biasanya. Ia akan ditemani oleh truk-truk pengangkut pasir serta tukang yang sibuk mengaduk semen.

Warkop masih tutup, tetapi jika membuka pintu dan jendela sekarang debu pasir akan ikut menyertai seperti badai pasir di tengah gurun. Suasana asri telah terbenam seketika berganti menjadi padang pasir. Paman tiba-tiba datang dan mendapati warkop masih tertutup rapat. Paman mempertanyakan alasan Bagus hanya duduk diam dan Bagus menjelaskan bahwa debu-debu ini akan masuk ke dalam warkop, dan karena sebentar lagi jam buka, maka paman memutar otak mencari cara meminimalisir debu yang tiba-tiba menyerang warkopnya.

Paman langsung membentangkan kain banner bekas acara tasyakuran tepat di teras warkop. Setidaknya dengan kain banner, paman berharap debu-debu tersebut tak masuk secara seronok ke dalam warkop. Akan tetapi, Bagus yang memandanginya merasa tak nyaman dan aneh. Warkop yang menjual pemandangan alam asri berubah menjadi memandangi tulisan banner “Tasyakuran Keluarga Besar Bani Ahmad” beserta foto keluarga besar yang menatap siapapun yang tak sengaja menatapnya. Setidaknya buka, itulah yang dikatakan oleh paman. Pagi Bagus tak seperti biasanya hingga ia lupa ketika membuka warkop untuk mendokumentasikannya sebagai bahan story di media sosial.

Tak biasanya warkop di pagi hari masih sepi. Padahal seluruhnya telah disiapkan sedemikian rupa hingga gorengan yang telah dimasak hangat pun menjadi dingin. Tidak ada para pesepeda yang mampir ataupun para buruh pabrik yang membeli gorengan. Hanya para sopir truk dan tukang yang mampir untuk membeli kopi dan rokok, tetapi paman terlalu berbaik hati hanya memberi mereka cuma-cuma. Setidaknya bersedekah, itulah yang dikatakan oleh pamannya. Mindset Bagus yang ditempa oleh budaya keras ibu kota harus mentolerir budaya desa yang ramah-tamah. Apa pun itu, Bagus hanya menuruti apa perkataan bosnya, yaitu pamannya sendiri.

Satu minggu berlalu, Bagus menganggur di warkop hanya duduk-duduk sambil memandangi tukang-tukang yang mulai mengaduk semen di depan warkop. Tak ada pengunjung sosialita, Bagus hanya melayani para tukang dan sopir truk yang kadang mengirim kembali pasir serta semen. Banner masih terpampang di teras warkop agar debu tak ikut menyantap gorengan. Bagus kembali membuat konten untuk mempromosikan Warkop Asri dengan harapan sentuhan magisnya akan mendatangkan para konsumen. Ketika merekam sudut-sudut Warkop Asri dengan angle sinematik yang diusahakan sedemikian rupa, tampaknya debu, tukang-tukang, dan adukan semen ikut masuk ke dalam frame. Pemandangan asri pegunungan dengan hamparan rumput hijau tak lagi mengindahkan visual warkop.

Perasaan Bagus tercampur-aduk layaknya pasir dan semen yang menemani hari-harinya di warkop. Sentuhannya tak lagi magis, seperti ada sesuatu yang menghilangkan kemagisannya. Bagus menyadari perasaan ini, akan tetapi terlalu naif untuk mengatakan semuanya karena adukan semen belaka. Hingga akhirnya ia mencoba menggunggah konten tersebut di laman media sosial Warkop Asri. Satu jam berlalu benar adanya video tersebut berhasil menggaet penonton lebih dari 10 ribu views. Bagus kemudian membaca kolom komentar yang mengatakan bahwa Warkop Asri dikira sudah tutup karena ada proyek yang sedang berjalan di depan warkop ataupun orang-orang mempertanyakan kembali pemandangan gunung dan ketenangan yang merupakan harga paling mahal dari Warkop Asri. Tampaknya konten tersebut tak mendatangkan rezeki melainkan tanda tanya besar mengenai eksistensi Warkop Asri yang kiranya dianggap tutup oleh para netizen.

Dua bulan telah berlalu semenjak truk-truk bergantian datang mengantre dan adukan semen yang terus menghantui Bagus. Lapangan kosong depan warkop telah berdiri bangunan berwarna abu-abu yang memanjang disertai dengan pintu dorong ruko yang melengkapinya. Aksen warna merah-putih terpampang seperti bendera nasional. Bangunan abu-abu telah berdiri dengan gagah menghadap langsung ke jalan aspal, sedangkan Warkop Asri tepat berada di belakang bokong bangunan abu-abu yang melebihi besarnya. Tulisan Kopdes Merah Putih dengan logo yang gemilang terpampang nyata seakan-akan dapat mengundang orang-orang yang datang. Pegunungan dan sawah indah yang bisa terlihat dari Warkop kini tertutupi oleh bangunan tersebut.

Jika dulu muda-mudi hingga para sosialita berdatangan kemari untuk berswafoto dengan pemandangan asri, kini hanya tersisa akamsi desa yang dapat dihitung jari. Itu pun mereka suka kasbon ketimbang membayar langsung. Karena itu juga, upah harian Bagus ikut dikasbon oleh akamsi. Bagus kesal, akan tetapi hanya ini yang bisa menghidupinya selama masih ada kebaikan pamannya. Bagus berupaya terus untuk memberikan sentuhan magisnya melalui video konten pendek yang dibuat ratusan kali, tetapi komentar malah muncul berbagai sindiran yang jenaka. Banyak orang yang berkomentar mengenai Kopdes berada di depan warkop seolah-olah itulah daya tarik terbaru bagi orang-orang. Jika dulu pengambilan gambar sinematik menangkap keindahan dataran hijau dan pegunungan menjulang, kini berubah menjadi pemandangan tembok abu-abu menjulang. Tak sedikit komentar netizen bertuliskan,

“Kopdes menimpa Warkop Asri”

“Kalo nimpa dipikir, Mas.”

dan “Warkop Asri view eksklusif Kopdes.”

Bangunan Kopdes menjadi hantu bagi Bagus di setiap hari kerjanya. Merasa tak nyaman, namun ada rasa juga bahwa terlalu menghakimi jika menggangap semuanya berubah hanya karena Kopdes. Lalu ia sekali-kali berkeliling di waktu pulang dari warkop untuk melihat warkop yang lain yang ada di desa. Banyak warkop telah buka dengan pancaran cahaya gemilang dengan riuh manusia. Kemudian Bagus mencoba mampir ke salah satu warkop milik tetangganya. Kunjungan ini seperti sebuah penguntitan kepada kompetitor bisnis seperti mata-mata yang mencari tahu informasi rahasia setiap warkop.

Di antara riuhan bapak-bapak akamsi dan juga pengemudi ojol yang beristirahat. Riski, yang juga tetangga Bagus menghampiri dan menyapa.

Riski bertanya “Kenapa kamu gak jaga Warkop Asri yang lagi viral itu?”

Tentu Bagus kaget dengan pertanyaan tetangganya seolah-olah selama ini Bagus hanya berdiam diri di rumah tanpa ada kegiatan apa pun. Padahal setiap pagi ia telah membuka warkop seperti biasanya lalu menjaga sepanjang hari hingga petang. Namun, semenjak bangunan Kopdes berdiri, suasananya yang berubah seketika.

“Aku kira Warkop Asri sudah tutup dan diganti sama Kopdes,” celetuk Riski tanpa dosa di hadapan Bagus.

Bagus pulang dengan daftar alasan seribu cara untuk mengatakan bahwa Kopdes telah mengubah segalanya. Ia bahkan diejek menjadi pengangguran sepanjang hari. Bahwa sebenarnya ia tertunduk bosan menunggu para konsumen yang dulunya sering berdatangan. Tak juga dengan upahnya yang ikut berkurang seiring penjualan warkop yang merosot.

Ada harapan kecil di benak Bagus, suatu saat Kopdes akan dibuka dan mendatangkan orang-orang yang akan membeli sesuatu di dalamnya. Setidaknya harapan itu menjadi sebuah khayalan yang diamini. Sialnya, sudah berbulan-bulan bangunan itu berdiri tak kunjung juga bangunan tersebut diisi kehidupan. Masih tertutup rapat dengan bunyi token listrik yang menggema menggantikan suara jangkrik di malam hari. Hingga akhirnya benar-benar warkop viral tak lagi menjadi sesuatu yang berarti untuk dikunjungi oleh orang-orang. Warkop Asri telah tertimpa oleh Kopdes yang terlalu mencolok.

Di suatu malam yang dingin, tak ada lagi pengunjung yang datang. Di dalam warkop menyisakan Paman dan Bagus yang berdiri tegak menatap Kopdes Merah Putih. Dalam renungan yang dalam, masing-masing pikiran berkata apa pun seolah-olah mereka sedang berbicara dalam bahasa telepati. Paman yang sedari tadi berdiri lalu menyeduh dua gelas kopi hitam pekat untuk menemani dinginnya malam.

“Malam-malam gini enaknya ngopi sambil ngerokok,” Paman mengajak Bagus untuk bersantai sejenak dengan duduk sambil menyeruput kopi hitam yang telah dibuat. Mereka duduk di teras warkop di mana berhadapan langsung dengan bokong Kopdes Merah Putih. Dalam diam, sambil menyeruput, pandangan tak bisa membohongi perasaan mereka berdua. Seperti ada sebuah lawan yang menghadang dan mencari cara untuk melawannya, Bagus dan Pamannya mengakui bahwa warkop berubah karena sosok bangunan abu-abu ini.

“Pembawa sial ini, Paman!”

“Hussh, kok ngomong gitu? Selama ini ya biasa aja, ada apa pun bukan masalah.”

“Masalahnya kenapa kok semenjak ada Kopdes, warkop jadi sepi?”

“Belum rezekinya aja, Gus. Biasalah risiko penjual selalu gini. Toh, ini juga tanah punyanya desa.”

Bagus seperti tidak terima dengan ucapan Pamannya yang terlalu legowo. Bagus menyodorkan ponselnya dan memperlihatkan komentar-komentar di media sosial warkop yang banyak mempertanyakan Kopdes tersebut. Banyak dari komentar tersebut memberikan penilaian buruk mengenai pemandangan warkop yang tak lagi seperti dulu. Paman Bagus membaca satu per satu namun tetap saja rasanya terlalu mudah untuk menyalahkan Kopdes ini. Bagus yang terlampau terpengaruh oleh komentar netizen terus mendebat Pamannya agar berbuat sesuatu, dengan harapan mungkin Pamannya bisa berbicara dengan Pak Lurah sebagai orang yang pertama kali mendirikan bangunan abu-abu ini.

“Kamu kok ya percaya aja sama perkataan netizen,” hela napas panjang Paman.

Tak lama, paman pulang lebih dahulu menyisakan Bagus sendirian dan diberi tugas untuk menutup warkop. Beberapa menit kemudian Bagus hanya duduk terpaku di tempat yang sama. Ia memandangi langit malam yang mendung dengan suasana desa yang kelabu di malam hari. Bagus melihat kembali komentar netizen dan lagi-lagi rasa kemarahan terhadap Kopdes semakin menjadi-jadi. Ia teringat tadi siang ia habis membeli jerigen bensin untuk pamannya. Jerigen tersebut masih ada di dalam. Ada ide liar bermunculan di dalam kepala Bagus. Seperti kerasukan dewa amarah yang membabi buta. Kemudian ia bangkit dari duduknya lalu berjalan ke dalam. Bagus keluar dari warkop sambil menenteng sebuah jerigen bensin. Ia berjalan mengelilingi Kopdes sambil mengguyur bensin sepanjang jalan yang ia tempuh. Tatapannya begitu tajam dengan senyuman jahat sambil mengisap rokok.

Bagus kemudian menyulut rokoknya ke genangan bensin. Dari situ muncul kobaran api yang besar seketika. Bagus langsung berlari ke warkop dan bersiap-siap untuk menutupnya. Kobaran api tersebut perlahan-lahan melahap bangunan abu-abu yang gagah dan berdebu. Logo yang mencolok meleleh seketika oleh api yang menjilatinya. Bunyi token listrik tak lagi terdengar di malam jahanam kali ini. Genteng seng yang melapisi habis terbakar dilalap oleh si jago merah. Bagus dengan santainya menyapu warkopnya sambil menyeruput kopi hitam yang masih tersisa. Angin dingin malam berubah menjadi hangat seperti sebuah api unggun di Persami. Bagus menutup pintu terakhir sambil mengangkat gawainya.

“Besok Warkop Asri tetap buka seperti biasa! Monggo konco-konco dan dulur-dulur bisa mampir menikmati kopi sambil ditemani pemandangan yang asri ini!”

Kemudian ia menaiki motornya dan mengengkol seperti biasanya sambil memukul totok motornya agar menyala. Motor Supra menderu melewati kobaran api yang membakar bangunan abu-abu. Tak jauh beberapa meter abu hitam menghujani sawah di tengah malam, cahaya rembulan menembus langit mendung dan menyinari Kopdes terbakar. Di sanalah Bagus pulang menuju rumahnya dan menghilang di ujung jalan seperti halnya Kopdes yang dilahap oleh api kemarahan Bagus.

Penulis dan konten kreator asal Bumi Lumpur Lapindo yang aktif berkarya di Medium.com dan Instagram (@nazidahsan, @kursicoklatt). Suka menulis cerpen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!