Konsep Kenabian Islam dalam Serial Avatar (Nickelodeon)

Saya sudah lama menyukai serial Avatar The Last Airbender (ATLA), beberapa tulisan terkait juga bisa dibaca pada tulisan jadul saya Alasan Avatar The Legend of Aang masih Jadi Serial Animasi Terbaik Hingga Saat Ini dan Series ATLA di Netflix Gak Sebagus yang Orang Bilang.

Belakangan, saya kembali menonton serial kedua Avatar (bukan biru) itu setelah ke-999 kalinya. Ada satu hal yang membuat saya sangat menyukai kedua serial tersebut, apalagi ketika ditayangkan asal-muasal Avatar pertama, Wan. Wan mungkin diambil dari one yang berarti satu dalam bahasa Inggris.

Kalau ditanya,

Lebih suka cerita Aang atau Korra?” 

Tentu dengan mudah saya jawab Aang, namun dari semuanya, yang membuat saya terus-terusan menyukai serial ini adalah konsep-konsep yang ditawarkan begitu beragam dan multilayer. Dalam tulisan ini, secara khusus saya akan membahas konsep kenabian Islam dalam serial Avatar ini.

Sebetulnya, konsep kenabian terlihat sangat jelas bahkan sejak episode pertama ATLA. Konsep kenabian dalam serial ATLA dapat dilihat pada karakter Aang.

Aang, yang menjadi tokoh utama pada serial pertama ATLA memiliki karakter yang (setidaknya) sangat serupa dengan seorang nabi dalam agama Islam. Dikisahkan, Aang merupakan seorang pengendali udara (yang kebetulan) saya lihat sebagai seorang biksu. Selain karena tampilannya yang sangat “biksu”, kesederhanaan dan personal Aang pun sangat mirip seperti para biksu umumnya:

1, Aang adalah seorang vegan

2. Menghindari konflik

3. Menyukai perdamaian, dan tidak membunuh.

Disebabkan karakter dan sifat naluriahnya untuk tidak membunuh ini lah, pada beberapa episode akhir menuju puncak peperangan dengan Raja Api Ozai, Aang menghilang.

Menghilangnya Aang ternyata dipicu oleh kebingungan “cara” ia menghentikan agresi negara api yang dimiliki oleh kerakusan dan arogansi Ozai. Aang lalu bermeditasi untuk menilik kembali sejarah dan berbincang dengan para Avatar sebelumnya.

Pada momen Aang “meminta nasihat” ini lah saya menyadari bahwa sepertinya ia memang “seorang nabi.” Saya mengingat kisah-kisah nabi yang waktu kecil diajarkan pada saya. Setiap Avatar memiliki “misi” dan “musuh” yang sesuai zamannya, begitu pula nabi dalam kisah-kisah Islam.

Dalam mode pertapaannya (yang seperti mode anak Indigo memasuki alam ruh), Aang menemui para Avatar senior yang “menghabisi” musuh-musuhnya dengan cara membunuh. Aduh bukan gue banget. Begitu pikir Aang, sebab tentu saja membunuh sama sekali bukan solusi menurut Aang.

Gagal mendapatkan jawaban atas kebingungannya, Aang lalu kembali melakukan perjalanan (kali ini mode fisik dan bukan di alam ruh), sampai Aang bertemu kura-kura besar dengan pulau di  tempurungnya. Kura-kura ini muncul juga pada serial Avatar Korra, dan yang terpenting, kura-kura ini juga muncul pada wallpaper Windows 7. 

Kura-kura inilah, yang ternyata saksi ahli pada jalan cerita seluruh serial Avatar.

Untuk pertama kali dalam sejarah, kura-kura legenda itu memberikan “kekuatan” kepada Aang untuk “mencabut” pengendalian seseorang, dan dalam konteks ini tentu saja Raja Api Ozai.

Hal ini juga menjadi semacam keahlian langka yang akhirnya muncul pada plot season 1 di Avatar Korra, yang dimiliki oleh seseorang bernama Amon. Kindly reminder, pada bagian awal, kita dibuat percaya bahwa Amon merupakan seorang non-bender yang kemudian memiliki kekuatan untuk “mengambil pengendalian orang lain.”, sebagaimana Aang pada Raja Api Ozai.

 

Konsep Kelahiran dan Penobatan Seorang Avatar dan Seorang Nabi

Bagaimana seseorang bisa menjadi Avatar? Dari lahir, kah? Atau di usia tertentu seperti Nabi?”

Secara menyeluruh, Avatar memiliki misi di setiap timeline kehidupan, kemudian setelah misinya selesai dan seorang Avatar itu mati, Avatar baru akan lahir kembali.

Sebagaimana halnya dengan konsep “The Chosen One” pada kenabian Islam, seseorang bisa dikatakan nabi apabila ia terpilih.

“Allah memilih para rasul dari malaikat dan dari manusia. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.” Al Hajj: 75

Hanya saja, di dalam Islam, pada satu waktu bisa saja terdapat lebih dari satu nabi, seperti Harun-Musa yang juga menjadi nabi dalam satu waktu.

Sedangkan pada serial Avatar, sebutlah “satu misi besar” selesai dan Avatar mati, maka “ruh” seorang Avatar itu akan langsung menginang pada individu terpilih yang baru lahir. Maka, sangatlah tidak mungkin ada dua Avatar dalam satu waktu. (Kecuali Korra dalam serialnya, mari kita bahas di tulisan yang lain nanti).

Pada kenabian Islam, seseorang bisa dikatakan sebagai nabi berdasarkan “cerita” atau “pengakuan” seorang lak-laki yang mengklaim mendapat wahyu Tuhan, dan kebanyakan wahyu ini didapatkan saat tidur, dalam pertapaan, atau dalam perjalanan. Sedangkan pada serial Avatar, penemuan seorang Avatar diraih melalui hasil pencarian “tim panitia” yang berasal dari 4 negara (air, bumi, api, dan udara).

Kelihatannya, serial Avatar memang lebih serius ya. Tim panitia melakukan pencarian dengan mencari anak-anak dari satu negara yang lahir di waktu yang sama ketika Avatar sebelumnya mati. Penelusuran Who’s the next Avatar? ini pun memiliki pola. Misalnya, Avatar Aang adalah pengendali udara. Sebelum Avatar Aang, ada Avatar Roku dari negara api, kemudian setelah Aang, Korra dari negara air yang menjadi Avatar. Maka, dapat disimpulkan siklus avatarnya begini: Api, Udara, Air, Bumi. Maka, sangat mungkin apabila seseorang menjadi “Avatar baru” sesaat setelah ia lahir, hanya menunggu waktunya ketemu panitia saja.

Pada Korra misalnya, ia diketahui menjadi seorang Avatar menginjak usia 4 tahun, sehingga belum tahu misi pun, ia sudah punya jadwal latihan dan program. Berbeda sedikit dengan Aang yang baru diketahui ke-avatar-annya di saat usianya mencapai 10 tahun, itu pun Aang langsung menghilang. Hal ini pun menjadi sangat masuk akal (dalam Avatar universe) apabila melihat kembali bahwa Aang menghilang selama 100 tahun di dalam es, dan dunia sudah berada dalam kekacauan, karena Aang tidak mati dan tidak ada avatar baru. Ya, Aang hanya membeku.

“Bagaimana dalam Islam?”

Entah, saya tidak tahu. Yang saya tahu, seorang nabi diturunkan dari suatu bangsa apabila bangsa itu “harus disadarkan”, namun saya tidak melihat satupun nabi turun di Indonesia~

Ya, dalam situasi seperti ini memang Avatar terlihat lebih terstruktur (di mata saya). Yang tidak setuju, tulis lah ulasanmu sendiri.

 

The Chosen One dalam Ramalan 

Meskipun klise dan lebih mirip Harry Potter (untuk yang ini), saya yakin Aang, Harry, dan beberapa nabi rampung kisahnya karena sebuah ramalan. Harry dan Avatar (Aang) setidaknya memiliki kesamaan, yaitu chosen one dan sama-sama menolak dan sebetulnya gak ingin menjadi itu. Sedangkan dalam kisah kenabian Islam dan juga avatar Korra, saya tidak tahu. Tapi baiklah, begini:

Ozai begitu terobsesi untuk memburu Aang, sama seperti Voldemort pada Harry Potter, begitu pun Raja Firaun pada Musa dan Yusuf. Yang kalau diperhatikan, sebetulnya memiliki kesamaan pola: sebuah peradaban dan konflik besar dimulai sejak ramalan dan sihir.

Ramalan, entah itu dalam Avatar, Harry Potter, maupun kisah-kisah nabi Islam juga punya konsep yang sama. Selalu menciptakan ketakutan yang justru melahirkan bencana itu sendiri. Ozai memburu Avatar, Firaun membunuh bayi, dan Voldemort yang punya panic attack tak urung malah menciptakan musuhnya sendiri waktu membunuh Lily Potter. Dengan kata lain, mari sebut saja ramalan tidak sepenuhnya salah, karena ketakutan itu lah yang menciptakan ramalan entu jadi nyata. Singkatnya, manifestasi! Yash! That simple!

Avatar Wan dan Nabi Syits

Fakta paling menarik dalam cerita nabi-nabi Islam ini adalah: saya baru tahu dulu alam manusia dan alam jin jadi satu. Dalam Avatar Korra, kita diperlihatkan Korra membuka kembali portal dengan alam ruh, sehingga para “spirit” bisa muncul di bumi, sedangkan dalam Islam, ternyata hal ini dikisahkan pernah terjadi sejak zaman Nabi Adam sampai Nabi Syits.

Dengan isengnya mari kita asumsikan Nabi Syits adalah avatar yang menutup portal dunia ruh dan manusia itu seperti Avatar Wan.

Dalam serial avatar Korra dijelaskan dengan runut asal-usul dunia ruh, dan saya cukup tertarik untuk menulisnya panjang-lebar.

Dalam beberapa Youtube yang saya tonton (tidak ada sumber tulisan dan hadis lanjutan tentang Nabi Syits), Nabi Syits dikenal sebagai satu-satunya pewaris kenabian Adam.

Setelah peristiwa Qabil dan Habil, dikisahkan Nabi Adam begitu sedihnya sampai di waktu yang lama. Allah akhirnya menghadiahkan seorang anak untuk menghibur kepedihan itu. Namun, berbeda dari anak-anak Adam dan Hawa yang lain, Allah menakdirkan Syits untuk lahir sendiri, tidak kembar seperti anak-anak Adam yang lain.

Nabi Syits kemudian diwariskan berbagai ilmu pengetahuan oleh (ya maaf dalam tradisi Islam dan Youtube yang saya tonton hanya diwariskan ilmu oleh Adam, Hawa gak tahu), dan ditunjukkan beberapa upaya untuk “mengalahkan” Qabil. Pokoknya, Syits ini kesayangan sekali, lah.

Nah, sebetulnya kan berbeda dari kisah-kisah nabi yang lain, ya. Syits itu bisa jadi diciptakan memang untuk menemani atau “menjadi tokoh utama” masa transisi saja.

Ibrahim kita semua tahu ceritanya seperti apa, Musa, Isa juga. Tapi coba pikirkan Nabi Syits, ia justru diciptakan waktu Nabi Adam lagi sedih-sedihnya dan katakanlah “waktu manusia pertama jadi manusia” kalau kamu setuju dengan kalimat

“Gakpapa nangis aja, kan masih manusia.”

Ya, Syits hadir di masa itu, masa dunia belum sepenuhnya “terpisah” antara manusia dan ruh.

Avatar Wan pun demikian, muncul dari peradaban yang belum ada konflik besarnya, meskipun iya ada ketidak-adilan, tapi Avatar Wan hadir dari dunia yang masih cair, liar, belum terstruktur, bahkan manusia dan ruh masih berdampingan.

Alih-alih bertingkah sebagai messanger, Avatar Wan dan Nabi Syits justru perannya lebih mirip sebagai penyeimbang pertama.

Kemiripan Wan dan Syits terletak pada posisi mereka sebagai karakter “one” yang bukan pencipta, tapi semuanya berasal dari mereka. Ya, meskipun saya juga gak nemu mekanisme Syits memisahkan alam jin dan manusia itu seperti apa, nanti saya cari tahu deh kalau ada sumbernya.

Avatar Wan dan Syits menjadi The Founding Father of pengetahuan dasar tentang hidup bersama. Barulah ketika Korra membuka kembali portal roh, ia seolah mengulang menghancurkan semuanya. Argh!

Kesimpulan

Jika disederhanakan, Avatar dan kenabian Islam bertemu pada sebuah tema besar yang sama, ya. Baik nabi maupun Avatar datang untuk membawa keseimbangan dan kebaikan.

Di titik inilah saya masih tetap yakin bahwa Avatar masih jadi yang terbaik. Ya. mungkin kalau ada kisah nabi yang dibuat animasi seperti Avatar tuh ya seru, ya. Sedikit lagi kan bulan puasa, hehe.

Author

  • Arini Joesoef

    Menulis puisi, prosa, melukis, dan bermusik tipis-tipis. Bukunya sudah 4, As Blue As You (2022), Jayanti (2023), Notes of The Lost Sheep (2024). dan Yusuf dan Sapi Betina (2025). Suka pamer dan suka bikin pameran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like
cratosroyalbet | primebahis | casibom | galabet |