Komunitas itu wadah. Maka ada kemungkinan wadah itu ada isinya, atau malah kosong belaka, dan akhirnya cuma jadi pajangan di lemari kaca.

Misalnya salah satu komunitas internal di kampusku, yang bagiku ibarat wadah kosong, Koni Waska namanya, Komunitas Seni Sekolah Tinggi Teknologi Wastukancana Purwakarta. Aku masuk di bidang sastra. Ini wadah baru, sebagai program kerja dari Badan Eksekutif Mahasiswa tahun 2018.

Tapi nyatanya sastra (sebagai kesenian juga) ternyata di ruang lingkup fakultas teknik bukanlah jenis seni yang mudah diterima. Buktinya saja, sudah satu periode berakhir, namun beberapa proyeknya tidak dapat direalisasikan. Melihat dari sikap civitas akademik sini tidak punya apreasiasi terhadap sastra.

Ini menyesakkan mengingat penanggung jawab komunitas sastra di kampusku, sebut saja si Akang, mempunyai banyak ide di setiap pertemuan yang kami gelar, dia juga banyak bergiat di komunitas–komunitas sastra di kota kami.

Pada kali pertama pertemuan, kami mengisinya dengan sama-sama mengenal biografi tokoh sastra beserta karyanya. Minggu berikutnya, mengenalkan tokoh sastra idaman dan membacakan salah satu puisinya. Betapa puisi karya Sapardi Djoko Damono sangat aku sukai, begitu juga buku-buku sastra karya Pramoedya Ananta Toer sangat kukagumi.

Lalu minggu-minggu berikutnya, kami mulai sarat dengan rencana-rencana kegiatan berbau sastra lainnya. Termasuk membuat event berupa musikalisasi puisi, dramatisasi puisi, teatrikal sederhana, workshop sastra, dan lain sebagainya.

Sebagai mahasiswi di sekolah teknik, keberadaan wadah seperti ini tentu sangat mewakili apa yang aku minati dan nikmati, yaitu sastra. Tapi sayang, rencana cuma rencana. Sekali lagi, civitas akademik di kampusku kurang memberikan apresiasi. Hanya sedikit yang mau ikut serta di Koni Sastra kami.

Mungkinkah sastra di lingkungan pendidikanku sekarang hanya dianggap sekadar hobi dan bukan menjadi semacam kebutuhan sehari-hari? Maka hanya orang-orang yang tertarik terhadap sastra saja yang harusnya menekuni. Yang tidak tertarik bebas saja untuk tidak tahu dan tidak ingin tahu. Tapi bukankah kitab suci pun disajikan dalam bentuk bahasa sastra yang paling ragam macamnya? Bukankah setiap orang pasti dikenalkan kepada sastra sejak awal mereka mengenyam pendidikan, khususnya dalam pelajaran Bahasa Indonesia.

Kini seakan-akan sastra menghilang begitu saja dari dalam diri anak-anak kuliahan. Mungkin itu sebabnya rasa empati mati. Tidak ada kepekaan. Jangan membicarakan penderitaan orang lain sebagai cara bersimpati.Puitis sedikit, disebut “lebay”. Aksi nyata mahasiswa sebagai bentuk pemberontakan melalui puisi, disebut “apa-apaan?”. Ingin pentas dramatisasi puisi pun disebut “tidak masuk akal”.

Wadah kami kosong, dengan ketahanan personil yang jumlahnya hanya 6 jari. Haruskah menjadi komunitas besar dahulu agar diperhatikan, dikenal dan diminati?

Sampai di titik ini aku berpikir. Koni Waska mau diapain? Diapresiasi tidak, apalagi dipandang sebagai wadah yang potensial. Ini wadah sudah ada. Apa mau dibiarkan wadah ini  hanya sekadar pajangan di brosur-brosur promosi saja?

Profil Penulis

Kania Tresna Palupi
Kania Tresna Palupi
Mahasiswa yang juga pekerja