Klakson Terus-terusan itu Tidak membuatmu Terlihat Keren, Ya!

Sebagai pejuang rupiah yang selalu berangkat pagi-pagi, kita semua memang selalu punya pressure tersendiri di jalan raya. Kemacetan, pengendara roda dua yang suka melawan arus, kendaraan roda empat yang selalu berhenti di tempat yang bukan tempat pemberhentian kendaraan, hingga berbagai macam kendaraan yang menerabas lampu lalu lintas saat lampu merah sudah dimulai. Ini menjadi sebuah pemanadangan yang cukup luar biasa bagi saya saat berkendara. Terutama di pagi hari saat hiruk-pikuk dimulai.

TIN. TIN. TIN.

bunyi klakson yang ditekan dari kendaraan para khalifah bumi yang ingin cepat sampai tujuan.

Semua orang merasa ingin didahulukan di jalan raya dan enggan bergantian. Melihat kejadian seperti ini setiap pagi, rasanya saya ingin istighfar tiga puluh tiga kali di dalam hati.

Rasa kesal, gelisah, tidak nyaman, terkadang semua bercampur aduk di dalam dada saya saat berkendara. Tak jarang saya pun bergumam di dalam hati,

“Kenapa mereka selalu melawan arus di penghujung fly over atau pinggiran jalan raya itu? Bukankah sudah disediakan sistem jalur khusus untus arus putar balik?”

Atau “Kenapa mereka sangat bermental baja saat menerabas lampu lalu lintas? Bukankah lampu-lampu itu akan berubah warna secara bergantian?”

Lalu “Kenapa mereka selalu menekan klakson di tengah kondisi macet saat ini? Bukankah tidak hanya mereka yang sedang terjebak macet? Bukankah kita semua saat ini pagi ini yang sedang berkendara di jalan raya di bawah sinar yang mengandung Vitamin D dengan aroma karbon monoksida dan berbagai zat berbahaya sisa pembakaran lainnya ini sedang terjebak macet?”

Iya betul. Kita semua. Gak hanya mereka aja apalagi kamu. Lantas kenapa kamu masih tekan-tekan terompet yang dibunyikan dengan listrik pada kendaraanmu itu?

Saya jadi merasa nervous dan gak fokus karena kaget.

Mbok ya sabar to kan semua bayar pajak. Hehe”

Saya gak bisa minta mereka satu per satu untuk gak melakukan hal itu, kecuali hanya mengumpat di sepanjang jalan raya dan bertaubat setelahnya. Keegoisan yang ada dalam diri manusia saat berkendara bisa membawa mala petaka bagi kehidupan saya dan orang diluar sana. Tapi itulah sifat manusia. Sifat bak seperti makhluk dari alam lain terkadang melekat dalam diri mereka.

Mereka sudah diberikan sebuah edukasi dalam berlalu lintas, sudah pula menyaksikan kasus kecelakaan secara langsung di atas aspal atau di balik layar TV dan smartphone tapi hasilnya mereka masih tetap acuh tak acuh. Mungkin mereka merasa punya sembilan nyawa seperti anabul.

Saya pernah punya pengalaman mencium aspal dengan tante saya saat saya masih duduk dibangku sekolah dasar.

Seorang pemuda pulang dari bermain futsal di malam hari melaju dengan kecepatan tinggi. Sangat tinggi untuk di kawasan jalan pemukiman warga. Saat itu, saya ditabrak olehnya dari belakang yang mengakibatkan saya dan tante saya terjatuh dari kendaraan roda dua berwarna merah jambu.

Sontak saja mama saya yang melihat kejadian itu langsung menjerit memanggil papa saya. Saya pun merasa panik bukan main saat itu. Alhasil saya dan tante saya terluka lalu pemuda itu terpental sekian meter jauhnya saat itu.

Untungnya tidak ada cedera pada saya dan tante saya tetapi bekas lukanya masih membekas pada tubuh saya. Walaupun warna bekas lukanya sudah cukup samar dan sama dengan warna kulit asli saya tetapi jika orang baru yang mulai dekat dengan saya pasti akan bertanya.

“Kenapa ini? Kok kayak dijahit?”

“Ohhiya, dulu waktu SD aku pernah kecelakaan. Jadi lukanya membekas sampe sekarang”,

Kalau kata orang Jawa, alon-alon asal kelakon alias pelan-pelan tidak apa-apa, yang penting tujuan tercapai. Buru-buru atau enggak, kita semua akan sampai tujuan. Kita semua akan bertemu buah hati dan pujaan hati di tempat yang akan kita tuju. Kita semua punya hak atas berkendara di jalan raya tetapi kita juga berhak menjadi manusia yang bijak. Kamu yang lagi baca tulisan ini, berkendaralah tanpa ada pressure dan memberikan pressure terhadap orang di sekitar ya.

 

lLahir di ujung pulau Sumatra. Hobi menulis di blog dan buku diary (kalau lagi senggang), dan suka upload foto-foto yang menurutnya menarik di Instagram @nabillatinezia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!