

Di antara burung-burung gereja yang mengapung di atap rumahku
Ada sebagian ekor lagi yang tersesat di belukar matamu
Sudah kulempari batu. Mata peluru. Bahkan rintik matamu
Mereka sengap. Tak mau menatapku
Mereka palingkan mata seperti pencuri memalingkan tubuh dari cahaya
Seperti langit memalingkan gemuruh agar tidak basah disapa
Kemudian gelap
Mereka bergegas mengibas sayap untuk beristirahat di belukar matamu
Kaubiarkan mereka membasuh paruh dan tertidur di perdu matamu
Kaubiarkan mereka bermimpi menjadi seekor gagak di atap-atap awanmu
Lalu terbangun dengan siulan paling merdu di semak-belukar matamu
Dan akhirnya aku tahu sebabnya mengapa mereka tak mau menatapku
Dan mereka pula tahu mengapa sebabnya aku mencintaimu
Cirebon, 2025
Aku selalu mencarimu
Entah di gedung-gedung tua
Atau di sepanjang jalan beraspal
Yang tubuhnya kadang diunggis curut-curut binal
Aku selalu mencarimu
Bahkan sampai di sarang serigala
Atau di taring-taring penjaga istana
Aku terus mencarimu. Di mana pun kau berada
Barangkali tubuhmu terselip
di lembaran-lembaran buku mahasiswa
Yang kemudian menyebabkan mereka mati—ha, ha, ha
Atau di dalam labirin yang berdindingkan kepentingan
Dingin dan kelam
Yang kemudian menyulih jadi bayang-bayang ketika ketahuan, ha, ha, ha
Aku terus mencarimu. Aku ingin mencintaimu dengan merdeka
Tanpa adanya dinding penjara
Atau disekap karena cintaku lantang di gulita
Cirebon, 2025
Kita Jelaga
Kita adalah jelaga yang terbakar oleh hujan
Yang bertebaran ke dasar cintanya
Dan ikut terhanyut menjadi sepotong kecil
yang menempel di tepian rindunya
Tanpa gersang pula hangus
Karena dibentur-benturkan arus
yang membabi-buta
Kita adalah jelaga
Yang terbakar oleh hujan
Kadang membara di ujung sumbu
Pula tak saling dendam jika jadi abu
Kita adalah jelaga yang terbakar setelah gerimis menjadi api
Yang dihembuskan angin ke atap-atap langit subam
Dan diturunkan kembali karena cintanya yang abadi
Cirebon, 2025
Lahir pada 28 Februari 2004 di Cirebon. Seorang mahasiswa prodi Tasawuf dan Psikoterapi di Univesitas Muhammadiyah Cirebon. Saat ini tinggal di pondok Buntet Pesantren Cirebon. Karyanya dimuat di sayembara buku-buku antologi puisi dan media sastra nasional.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!