Kisah Sunyi Pekerja Migran Indonesia yang Berpuasa di Negeri Orang

Ramadan selalu menghadirkan suasana yang khas dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Bangun dan bersantap sahur sambil melihat joget Caesar dini hari, aktivitas lebih tertata dan terasa lebih tenang sepanjang siang, lengkap dengan harum timun suri di sepanjang jalan menjelang berbuka dan dinikmati bersama keluarga! Uh! 

Lalu bagaimana dengan puasanya para Pekerja Migran Indonesia (PMI)?

Bagi jutaan PMI, ramadan justru berlangsung jauh dari rumah. Setiap tahun, ratusan ribu warga negara Indonesia bekerja di berbagai negara tujuan dari Asia, Semenanjung Arab, dan Eropa. Di tempat-tempat itulah mereka menjalani puasa. Jauh dari keluarga dan orang tersayang, di negeri orang, dengan suasana yang tidak sama dengan yang mereka kenal di tanah air.

Di berbagai negara penempatan seperti Malaysia, Jepang, Taiwan, Tiongkok, Korea Selatan, Jerman, dan lainnya, ramadan hadir dalam konteks sosial yang sangat beragam.

Ada yang atmosfer ramadannya terasa kuat karena masyarakatnya juga menjalankan puasa, namun ada pula yang tidak terasa sama sekali sebab berada di tengah masyarakat yang tidak wajib berpuasa. Dalam situasi seperti itu, para PMI tetap menjalankan dua tanggung jawab sekaligus yaitu bekerja secara profesional sekaligus menjaga ibadah dengan segala tantangannya.

Selama lebih dari satu dekade terlibat dalam pelayanan penempatan Pekerja Migran Indonesia, banyak cerita yang saya dengar tentang kawan-kawan pekerja migran menjalani puasa di negeri orang. Ada yang menyiapkan sahur dengan sangat cepat, berbuka dengan makanan sederhana sambil melakukan panggilan video dengan keluarga di kampung.

Suatu kali seorang pekerja migran re-entry (yang kembali ke tanah air dan kemudian akan berangkat lagi karena memperpanjang kontraknya) pernah bercerita bahwa sahur di tempat kerjanya sering kali hanya sempat dilakukan dengan roti dan kopi, karena ia harus berangkat sebelum matahari terbit. Cerita seperti ini mungkin terdengar sederhana, tetapi di baliknya tersimpan daya tahan yang tidak biasa, lambung yang kuat, jiwa indie yang mantap, dan keteguhan iman yang belum tentu kita semua punya.

Bagi banyak pekerja migran, menjalankan puasa di negeri orang bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga harapan yang mereka kirim pulang kepada keluarga. Mereka sering juga bekerja untuk memastikan keluarganya bisa merayakan lebaran dengan memasak ketupat dan rendang, dan bikin kue nastar buat nanti dihidangkan pas hari H.

 

Lantas, Bagaimana Menyiasati Kerinduan Suasana Puasanya? 

Di berbagai negara penempatan, komunitas PMI sering membangun ruang kebersamaan selama ramadan. Ya, sesederhana buka puasa bersama, pengajian, atau sekadar berkumpul untuk saling menyapa. Pada saat seperti ini lah, ramadan juga menjadi pengingat bahwa perlindungan dan keselamatan pekerja migran merupakan tanggung jawab bersama.

Ramadan memberi kita kesempatan untuk melihat semua upaya tersebut dalam perspektif yang lebih manusiawi. Misalnya, ramadan bagi PMI pada akhirnya bukan cuma,

“Ya, begini lah suasana di sini,”

“Ya, di sini puasanya sekian jam,”

Tapi juga,

“Aku tetap nahan berpuasa di sini supaya keluargaku bisa bikin ketupat dan nastar, bisa zakat fitrah,”

Di saat banyak dari kita merasakan hangatnya rumah sampai kembali kesal pada sanak saudara pada saat kumpul, kawan-kawan pekerja migran justru belajar menciptakan “rumah” dari jauh. Bayangkan, harus berkelahi dengan sambungan video call yang putus-putus, dan sahur indie dengan roti-kopi.

Bisa dibayangkan juga, kawan-kawan pekerja migran mungkin tidak ikut war takjil, nabeuh bedug, dan tidak ikut bermacet-macetan ikut ngabuburit, tapi mereka membuat keluarga dan orang-orang yang dinafkahinya bisa ikut itu semua. Luar biasa!

Maka, saya selalu berharap kehadiran komunitas PMI menjadi semacam tempat “memulangkan” rindu, meskipun sederhana dan seadanya. Gakpapa gak ikut war takjil dan velocity, yang penting buka barengnya 🙂

Pada akhirnya, ramadan para pekerja migran mengajarkan kita sesuatu yang mungkin luput kita perhatikan bahwa,

“Pengorbanan terbesar sering kali berjalan tanpa dilihat.”

Ya, mungkin sama seperti cara kita melihat dan masih sering meremehkan pekerjaan ibu rumah tangga yang memiliki peran besar, sering juga mungkin kita masih menihilkan ayah kita yang bekerja tahu-tahu dapat uangnya saja. Padahal, kalau tanpa ayah-ibu kita itu, rasanya sangat terasa sekali kita tak akan mudah melakukan apa-apa. Seperti itu juga barangkali para pekerja migran, ada yang menahan lapar, kangen, dan memelihara cinta dalam bentuk bekerja keras tanpa lelah:’)

Jadi, jangan lupa hargai dan hormati setiap orang di sekitarmu, ya!

Author

  • Nashruddin Qawiyurrijal

    Praktisi Pelindungan Pekerja Migran, pengajar Ilmu Komunikasi, dan penulis isu-isu migrasi, ketenagakerjaan, komunikasi kebijakan publik, dan dinamika sosial.

    Berdomisili di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dapat dihubungi melalui kontak +62 852 4255 8219 atau surel n.qawiyurrijal@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
galabet giriş | kavbet giriş | kavbet | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | betebet | meritbet | galabet | jojobet | trendbet giriş | Meritbet | jojobet giriş | Report Phishing |