

“Dewasa membuat kita berani, tapi takut berimajinasi.”
Itulah yang paling saya ingat dari obrolan malam ke sekian bersama si kawan yang penulis.
Tak terasa malam yang singkat itu sampai menghabiskan dua botol kopi kemasan dan setengah kotak Sampoerna kecil.
Pantikan berasal dari keluhan saya akan ide yang semakin lama, semakin prosedural. Ide seakan terpengaruh sifat saya yang sangat berhati-hati dan takut mengambil risiko, walau pun sejatinya tak siapa pun bisa menghakimi ide.
Lalu si kawan penulis beranjak dari duduknya, dan kembali membawa sebuah novela tipis berjudul “Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang” karya Luis Sepulveda.
Ia memang pembaca Sastra Amerika Latin (yang tekun) dan acapkali merekomendasikan novel-novel seirama lainnya.
“Saking enaknya saya habiskan buku tipis itu pelan-pelan!” serunya meyakinkan saya.
Untuk mendapatkan hal berharga, tidak selalu melalui cara yang rumit. Saya pelajari itu setelah membaca novela ringan ini. Bagi saya, Luis adalah penulis yang enggan berepot-repot melangitkan bahasanya hanya untuk dibilang nyastra, seperti abang-abang-an skena sastra saat ini.
Bak silet cukur, walaupun kecil dan tak segarang katana, namun bahasa Luis memiliki ketajaman makna di balik kesederhanaannya.
“Camar” (kita singkat saja judul novela ini) merupakan sebuah karya sastra anak. Cerita ini digerakkan oleh Zorbas, seekor kucing hitam gemuk yang terikat janji dengan seekor camar bernama Kengah yang sekarat akibat tumpahan minyak pelabuhan, dan di ambang kematiannya ini, si Camar akan bertelur.
“… Berjanjilah kepadaku kau tidak akan memakan telur ini nanti. Berjanjilah kau akan menjaganya sampai si piyik lahir. Dan berjanjilah kau akan mengajarinya terbang,” kaok Kengah lemah sebelum napas terakhirnya.
Ia kaku di hadapan Zorbas, lalu sebutir telur menggelinding dari kloakannya. Saat menetas, Zorbas menamai piyik dari telur itu dengan Fortuna. Keberuntungan.
Singkat cerita Zorbas bertekad membesarkan Fortuna hingga ia bisa terbang dengan segala cara dan bantuan dari teman-teman seperkucingannya. Seperti Secretario dan Kolonel, dua kucing restoran; Banyubiru, kucing penjelajah samudera; Matias, si kera penjaga toko antik milik Harry; Professor, kucing pintar penyembah ensiklopedia, dan Si Penyair.
Fabel ini tak bisa dianggap angin lalu saja. Luis menyiratkan isu lingkungan yang sangat krusial di balik kepolosan fabel anak-anak. Sang penulis mengantarkan masalah minyak kapal pelabuhan yang mencemari laut ke dalam alam bawah sadar anak-anak. Simbol itu disampaikan melalui Kengah yang tiba-tiba terselimut minyak saat mencoba meraih ikan dengan paruhnya, hingga minyak itu mengakhiri hidupnya.
Di titik ini saya sepakat bahwa anak-anak harus sadar masalah lingkungan sejak dini. Agar besar nanti tidak jadi orang yang semena-mena terhadap apa pun.
Masalahnya memang pengetahuan tentang bencana ekologi kerap datang terlambat. Ia baru dibicarakan ketika laut sudah hitam, udara sudah sesak, dan manusia baru sadar bahwa hutannya sedang ditebang. Sementara anak-anak sering kali hanya menjadi penonton paling akhir dari kerusakan yang diwariskan orang dewasa.
Dalam konteks itulah “Camar” menjadi penting: ia tidak berkhotbah, tidak menunjuk hidung siapa pun, tetapi diam-diam menanamkan kesadaran. Cara yang paling efektif justru karena ia tidak menggurui seperti … ah jawab saja sendiri!
Pilihan Luis Sepúlveda dalam buku ini saya kira bukan alasan estetika semata, melainkan sikap politik. Ia tahu bahwa anak-anak tidak membutuhkan laporan ilmiah untuk memahami bencana; mereka butuh cerita. Mereka butuh sosok Kengah yang mati bukan karena takdir alamiah, melainkan karena keserakahan yang tak pernah disebutkan secara eksplisit sebagai “manusia”.
Dalam satu bagian, Kengah digambarkan tak mampu lagi terbang dengan sayapnya yang berat dan lengket:
“Minyak itu menempel di bulu-buluku, membuatku jatuh ke laut seperti batu.”
Kalimatnya sederhana, tapi iya lagi.
Di titik ini, sastra bekerja sebagai pintu masuk pengetahuan. Anak-anak belajar bahwa ada hubungan sebab-akibat antara kapal, minyak, dan kematian seekor camar—tanpa perlu diagram atau istilah rumit. Mereka merasakan kehilangan sebelum memahami konsep pencemaran. Dan perasaan, seperti kita tahu, jauh lebih lama menetap dibanding data.
Yang menarik, Luis tidak berhenti pada tragedi. Ia justru menaruh beban moral pada makhluk yang secara naluriah adalah pemangsa: kucing. Zorbas, dengan segala kegemukannya dan kesederhanaan pikirannya, memikul janji yang nyaris mustahil.
“Seekor kucing tidak bisa mengajarkan burung untuk terbang,” demikian Profesor mengingatkan. Namun janji tetaplah janji. Dalam dunia anak-anak, ini pelajaran yang sama pentingnya dengan isu lingkungan itu sendiri: merawat warisan alam.
Saya membaca Zorbas sebagai representasi generasi kini yang tidak memulai tumpahan minyak, tetapi harus membersihkan akibatnya.
Pada satu momen menjelang akhir, Zorbas berkata kepada Fortuna: “Terbang adalah sesuatu yang hanya bisa kau lakukan sendiri”
Kalimat ini sering dibaca sebagai pesan tentang kemandirian, tetapi bagi saya, ia juga mengandung pesan ekologis yang getir. Pada akhirnya, alam hanya bisa diselamatkan jika kita membiarkannya hidup sesuai kodratnya.
Di sinilah sastra anak menjadi medan yang serius. Mengajarkan bencana ekologi sejak dini bukan berarti menakut-nakuti, tapi sesederhana membiasakan empati saja.
Membuat anak-anak mengerti bahwa laut bukan sekadar latar liburan, dan burung bukan sekadar gambar di buku mewarnai. Melainkan ada konsekuensi dari setiap tindakan, bahkan yang dilakukan jauh dari pandangan mereka.
Mungkin itulah sebabnya novela tipis justru terasa berat di dada, meski dibaca pelan-pelan. Ia mengingatkan kita bahwa imajinasi bukan pelarian, melainkan latihan awal untuk menjadi manusia yang bertanggung jawab.
Dan barangkali, seperti kata kawan penulis saya malam itu, dewasa memang membuat kita takut berimajinasi, karena imajinasi menuntut kita membayangkan dunia yang seharusnya, bukan malahan menerima dunia yang sudah terlanjur rusak.