

Sebutir debu dalam padang ketidakpastian
Melihat kabilah-kabilah sejarah lalu-lalang silih berganti
Setiap kabilah menghamba kebenarannya sendiri
Betapa banyak unta-unta sejarah yang dijadikan korban
atas ambisi dan kesewanangan tuannya.
Kemajuan, keadilan, kemakmuran
hanyalah fatamorgana yang akan menjauh
tatkala kita berderap mengejaranya.
Kekeringan kebijaksanaan dan keadilan
menggerogoti tenggorokan
siapa saja yang yang menjadi hamba sahaya.
Kekeringan jabatan, status dan kedudukan
menjadi dahaga para pemimpin yang haus akan pengakuan.
Berkenanlah diri-Mu hadir dalam wujud angin
yang akan memberikan sepoi sejuk
pada hamba sahaya yang tertindas
agar mereka paham dan yakin
bahwa ketenangan akan hadir
dalam dirinya, dalam hatinya.
Berkenanlah juga Engkau hadir
mewujud sebagai badai yang akan
membumihanguskan siapa saja
yang angkuh, congkak dan ingin menang sendiri
agar mereka tau
bahwa angin selalu memihak kebenaran-Mu.
Purbalingga, 2026
Tidak akan aku cecap semua mata air duniawi
yang memabukkan tubuhku.
Tidak ingin pula ragaku ketergantungan
pada fana nista dunia semu.
Aku kunjungi majelis-majelis ilmu
agar hidupku bisa diperciki
mata air surgawi yang abadi.
Aku singgahi rumah-rumah kaum salih
berharap pintu silaturahmi mengantarkanku
ke haribaan rumah-Mu yang sejati.
Aku sadar betul hakikat diri ini
hanya sebagai gelandangan sejarah
yang mondar-mandir dalam keraguan.
Jika di abad ini, ilmu kian terisolir
maka biarkanlah daku
sebagai gelandangan sejarah memungutinya seorang diri
Biar Tuhan yang menentukan Iradat-Nya
siapa sebenarnya yang gelandangan
di kampung akhirat nanti.
Purbalingga, 2026
Tekad dalam diriku sudah bulat
Aku hanya meminjam segalanya
Sebagai penyair, aku meminjam kata-kata-Mu
berharap hati pembaca bisa teduh dan
kembali menuju jalan-Mu lagi.
Sebagai akademisi, aku hanyalah meminjam
kebenaran-Mu, ilmu-Mu dan kebijaksanaan-Mu
agar murid-muridku tidak kehilangan raja-Mu.
Sebagai hamba, semua daya upayaku
hanyalah kisah pewayangan yang sudah ditulis
dalam kitab Lauhul Mahfudz-Mu.
Maka, betapa tidak tau dirinya diriku
jika mengaku sebagai seorang pemilik.
Sedang engkau Malikal Mulki yang
tidak perlu menjelaskan siapa
sebenarnya Aku.
Purbalingga, 2026
Lahir di Purbalingga, Januari 2001. Mukim di Desa Timbang, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga. Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Alumnus Pendidikan Bahasa Arab di kampus yang sama. Dua buku mutakhirnya berjudul Mengaji Pada Alif (2023) dan Melihat Lebih Dekat (2024). Nominator Terminal Award Mojok.co Yogyakarta tahun 2023. Buku terbarunya Wajah Purwokerto: Antara Cinta, Suka dan Duka di Kota Satria (Penerbit Kolofon Yogyakarta,2025) Instagram: @yanuarabdillahsetiadi.