

Pernahkah kamu merasa bosan serta jenuh dengan novel-novel yang berkisah tentang kesenangan, kesedihan, dan tema kisah-kisah lain yang biasa ada di dalam novel?
Jika iya, mungkin kita perlu bersenang-senang dengan membaca buku yang tidak jelas isinya dan tidak jelas juntrungannya. Hal ini dilakukan untuk sedikit me-refresh pikiran dari bacaan-bacaan yang mungkin selama ini kita anggap “begitu-begitu saja”.
Buku Kiat Sukses Hancur Lebur (2016) karya Martin Suryajaya menjadi buku yang tepat untuk menikmati ketidakjelasan yang bisa dituangkan dalam buku. Buku ini adalah novel debut Martin Suryajaya. Namun, pernahkah kamu melihat novel yang terdapat daftar pustakanya? Ya, novel ini terdapat daftar pustakanya dan isinya sangat-sangat random.
Berikut adalah catatan-catatan saya soal buku ini.
Catatan Editor dan Cerita Awal Mula
Novel ini diterima sebagai naskah oleh seorang kritikus bernama Andi Lukito pada 2019. Naskah itu memiliki judul asli Kiat Sukses Hancur Lebur menurut Anto Labil, S.Fil dan diberikan oleh Thomas Tembong (2016: 12).
“Thomas Tembong mengatakan bahwa Anto [Labil] meniatkan ini sebagai ‘novel’ atau paling tidak ‘semacam novel’.”
Andi Lukito akhirnya menjadi penyunting untuk naskah itu. Andi Lukito bilang bahwa kondisi naskah aslinya diketik agak acak-acakan, dengan koreksi di sana-sini menggunakan mesin ketik. Naskah itu berjumlah 113 halaman dengan ukuran kuarto (2016: 13).
“Di beberapa bagian [halaman] ada tinta yang luntur akibat tetesan kopi. Ada juga yang berlubang karena kejatuhan bara rokok. Beberapa halaman cuil, sebagian akibat dimakan tikus, sebagian lain akibat ‘dimakan penulisnya sendiri’.”
Buku ini terdiri dari 8 Bab yang sama sekali saling tidak koheren. Mulai dari Bab I: Menjadi Pribadi Sukses Berkepala Tiga, Bab V: Resep Sukses Tes Calon Pegawai Negeri Sipil, Bab VI: Arahan Seputar Budi Daya Lele, hingga Bab VIII: Cara Gampang Memakai Baju.
Buku yang dianggap sebagai “novel” atau setidaknya “semacam novel” ini benar-benar merusak dan mungkin membuat pembaca (atau saya aja) kembali bertanya,
“Sebenarnya novel itu apa?”
Hal itu bisa terjadi karena novel ini sangat tidak terstruktur. Pembaca tidak akan menemukan nilai moral yang baik dan bisa diambil dari novel ini. Begitu juga dengan konflik, plot, dan standar-standar lain yang ada di dalam novel juga tidak ada dalam novel—kalau boleh disebut demikian—ini.
Novel ini selalu mengawali pembahasannya layaknya orang yang berpidato, yakni dengan menggunakan awalan “Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian”
Pada Bab I yang berjudul Menjadi Pribadi Sukses Berkepala Tiga pada halaman 17, Anto Labil, S.Fil menuliskan bahwa:
“Buku ini terbuat dari lima naga yang terbang mengitari Kota Jakarta, yang dibariskan dengan ketangkasan pandu pramuka, yang dicacah ke dalam dua puluh enam bagian dan disusun secara alfabetis mengikuti hikayat raja-raja dan para maling jemuran.”
Tidak lupa, masih pada Bab I dan di halaman 17, Anto Labil, S.Fil juga memberikan gambaran ringkas dari struktur novel karyanya ini. Alasannya adalah untuk “memudahkan Anda memanjat tebing dan buang hajat seketika,” dan sudah bisa ditebak, gambaran ringkas dari struktur novel karyanya ini benar-benar tidak terstruktur dan sangat-sangat berantakan. Hal itu terlihat dari nomor bab yang loncat-loncat tidak karuan.
Pada Bab IV yang berjudul Pemrograman Komputer Menggunakan Sepuluh Jari, saya merasa bahwa pembaca di sini seperti diajak untuk melihat komputer yang sama sekali tidak konvensional.
Pernahkah Anda melihat komputer sayur, komputer sapu, dan komputer isi ulang? Jika tidak, novel ini menunjukkan bahwa jenis-jenis komputer yang disebutkan sebelumnya itu sejatinya benar-benar ada (2016: 79-81).
Begitu juga dengan Bab VII yang berjudul Etika Hidup di Apartemen, membahas teknik-teknik bunuh diri di apartemen. Begini bunyinya
Di kota, Bapak-Ibu sekalian, di kamar kota metropolitan, manusia belajar mengikat tali jemuran ke leher dan mencantolkannya pada plafon rumah. Inilah ayunan leher kebanggaan orang kota. (2016: 179)
Lalu, Apa yang Ingin Dicapai dari Hadirnya Novel Ini?
Saya melihat bahwa novel ini hadir sebagai antitesis dari banyak novel-novel yang memiliki pesan moral, konflik, dan plot yang rapi serta terstruktur. Dengan ketidakjelasan yang ada di dalam novel Kiat Sukses Hancur Lebur ini, pembaca diajak untuk menuju kekacauan itu dan membuat pembaca merasa tidak baik-baik saja (baca: gila) setelah membaca novel ini.
Ditambah dengan menggunakan judul yang terdapat kata “Kiat Sukses”. Biasanya, buku yang menggunakan judul yang terdapat kata “Kiat Sukses” menjanjikan kesuksesan misal sukses berbisnis, sukses berprestasi, sukses budidaya lele, dan kesuksesan-kesuksesan lain yang bersifat positif. Hadirnya novel Kiat Sukses Hancur Lebur ini menjungkirbalikkan itu semua.
Namun, saya juga merasa bahwa buku ini bisa dibilang bukan untuk semua orang. Saya melihat bahwa buku ini beberapa kali menyenggol pembahasan sensitif seperti agama misalnya. Ditambah juga terdapat pembahasan yang sedikit vulgar dan membuatnya tidak cocok jika dibaca oleh beberapa kalangan, misalnya pada halaman 25,
“Perluas cakrawala batin Anda, pertajam intuisi Anda, dan pikirkanlah kemungkinan bahwa Tuhan adalah sepotong siomay yang melayang-layang di ruang kosong.”
Atau ini:
“Tanggalkan keakuan Anda, lepaskan tubuh Anda, dan mulailah memikirkan hal-hal mesum yang terjadi di luar angkasa.”
Tulisan-tulisan bergaya seperti itu cukup lumrah ditemui di buku ini, dan itulah yang membuat saya merasa bahwa buku ini mungkin tidak cocok untuk semua orang.
Pada akhirnya, saya melihat bahwa buku ini hadir untuk mempertanyakan pakem-pakem sastra yang selama ini kita yakini. Mempertanyakan pakem itu tidak hanya berhenti di isi bukunya yang tidak jelas, tetapi juga melalui kategorisasi buku ini yang bagi saya kurang tepat jika dikategorikan sebagai “novel”. Bagi saya, buku ini lebih pas jika dikategorikan sebagai “semacam novel”.
Daftar Pustaka
Suryajaya, Martin. Kiat Sukses Hancur Lebur. Banana, 2016.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!