Malam itu rasanya lebih meriah dari biasanya.
Kami berhenti di tukang pempek dulu. Ayah beli beberapa, aku makan satu sambil berdiri di pinggir gerobak. Cukanya sampai menetes ke tanganku malah. Sambil menunggu, Ayah melirik ke tukang kwetiaw di sebelah tukang pempek.
“Kasian ya si Abangnya, kita beli juga aja yuk kwetiawnya.” kata Ayah
“Ayo!”
Kami melangkah sedikit ke tukang kwetiaw. Api wajan menyala tinggi seperti barongsai yang suka kami lihat di Tuparev kalau Cap Go Meh.
Kami melanjutkan perjalanan, dan mampir ke tukang molen di seberang Pasar Kosambi. Aku memegang molen panas yang baru diangkat dari minyak. Rasanya seperti memegang matahari kecil.
Setiap gerobak kami datangi. Pokoknya malam itu hidupku di dunia seru sekali!
Terakhir, kami berhenti di tukang bubur Cirebon, masih satu barisan dengan tukang molen dan es goyobod di seberang Pasar Kosambi.
Gerobak bubur Cirebon itu tidak terlalu besar, tapi aromanya harum sekali. Ada suwiran ayam, bawang goreng, kuah kuning yang banjir, dan kerupuk juga. Ayah memesan satu porsi.
“Sebentar ya,” kata Ayah.
Aku turun dari motor karena Ayah memiringkan motornya. Aku kira ini pasti akan lama dan Ayah akan ikut duduk di kursi panjang tukang bubur itu.
Buburnya masih belum selesai dibuat karena memang ada antrean lain. Tukang bubur sedang mengaduk panci besar dengan sendok panjang. Ayah membayar dulu di awal, dan Ayah beranjak menyalakan motor.
Aku masih berdiri di dekat gerobak. Aku pikir Ayah cuma memajukan motor sedikit supaya tidak menghalangi jalan. Aku mengikuti Ayah dan mengangkat kakiku, tapi bahkan belum sempat naik lagi ke jok belakang, eeeeh motor itu malah melaju.
Bruuum. Ngeng!
Aku berkedip.
Motor Ayah sudah menjauh.
Aku menunggu sebentar.
Mungkin Ayah mau beli sate, pikirku, karena memang di jalan Ayah bilang “Sate kayaknya enak, ya?”
Kadang-kadang Ayah suka begitu. Pergi sebentar, lalu kembali lagi menjemputku.
Buburnya masih dibuat. Jadi aku tidak terlalu khawatir.
Aku berdiri saja di situ.
Tukang bubur menuangkan bubur ke mangkuk yang sudah dialasi plastik. Menambahkan ayam, daun bawang, dan kerupuk.
“Ini buburnya,” kata dia.
Aku mengambilnya. Bubur hangat itu sudah di tanganku. Ayah sudah membayarnya tadi dan aku masih menunggu.
Aku memegang mangkuk bubur itu lama sekali, masih sambil berdiri.
Lampu-lampu jalan tetap menyala. Motor-motor lewat. Orang-orang datang membeli bubur lalu pergi lagi. Aku menunggu. Masih menunggu sambil celingak-celinguk. Berpikir,
“Ayah beli satenya di mana, sih?!”
Aku mulai bosan.
Aku melihat uap bubur naik perlahan seperti awan kecil.
Di dalam hati aku mulai bertanya-tanya.
“Apa Ayah benaran pergi beli sate? Atau dia beli jajanan lain juga?”
Aku tetap berdiri di dekat gerobak, memegang bubur yang sudah mulai tidak terlalu panas. Tukang bubur juga cuma melihatku saja dan membuat pesanan lain.
Sementara itu, di jalan yang lain, Ayah terus menyusuri jalan dengan motor.
Tiba-tiba di depan terlihat keramaian. Lampu-lampu motor berhenti. Ada sedikit kemacetan.
“Wah, ada apa ini?” Ayah bergumam.
Ia mengira ada kecelakaan. Ayah menoleh sedikit ke belakang, seperti biasa ia mengajak aku bicara.
“Lihat tuh, kayaknya ada yang jatuh.”
Tidak ada jawaban.
Ayah tetap menatap ke depan.
“Lihat nggak?”
Tetap tidak ada jawaban.
Ayah menoleh lagi.
Jok belakang kosong.
Ayah langsung mengerem.
“Wah!”
Ia menoleh lagi, benar-benar memastikan.
Kosong.
“Anakku mana?!”
Ayah merasa dadanya seperti dijatuhkan dari langit.
“Wah! Anakku mana?! Jatuh di mana?! Kalau jatuh, kok tidak ada kecelakaan atau suara apa-apa?!” Ayah langsung cekat suaranya.
“Apakah kecelakaan di depan itu… anakku?” begitulah pikir Ayah.
Aku bisa pastikan, tangan Ayah pasti langsung dingin. Ia memutar motor dengan cepat. Ayah menyusuri jalan yang tadi kami lewati. Ia berhenti di semua tukang dagang yang kami beli dagangannya.
“Pak, tadi lihat anak kecil di belakang saya?”
Tukang pempek menggeleng.
Ayah pergi lagi. Berhenti di tukang kwetiaw. Tak ada. Di tukang molen, gak ada juga! Ayah makin panik. Lalu Ayah kembali lagi ke tempat pertama kami berhenti setelah itu. Tukang bubur Cirebon.
Dari jauh, Ayah melihat seorang anak kecil berdiri di bawah lampu gerobak.
Anak itu memegang mangkuk bubur.
Masih menunggu.
Itu aku.
“Wey! Anakku!!!!” kata Ayah sambil menggerung-gerung RX-Kingnya.
Aku bahkan masih berdiri di tempat yang sama.
Menunggu Ayah selesai beli sate yang sampai kami di surga pun gak pernah dibeli tuh. Hadeuuuh. Dasar Bang Baron!







