

Lagi dan lagi. Bukan wajahnya yang Nata lihat di pantulan cermin, tetapi cerita masa lalunya. Seketika, mimik wajahnya menekuk. Rasa geram menggerogotinya. Ketika bercermin, Nata seolah membuka cara pikirnya yang dulu, lukanya yang tak kunjung sembuh, dan mimpi-mimpinya yang terkubur tanpa sempat tumbuh.
Di tengah pergulatan sunyi dengan pikirannya sendiri, dering gawai terdengar. Nama Daniel terpampang. Tanpa lama, Nata menekan tombol jawab.
“Sudah di mana?”
Suara di seberang telepon itu menimbulkan kilas balik yang aneh dalam diri Nata. Seperti sesuatu yang sudah berakhir, tetapi tetap Nata ulangi.
“Baru selesai siap-siap. Ini mau pergi,” Nata menjawab, setelah diam beberapa detik.
“Perlu aku jemput?”
Mendengarnya, Nata tampak menimbang-nimbang sejenak. “Eh, gak perlu. Ketemu langsung di sana aja.”
“Oke. Sampai jumpa di sana, ya.”
Usai membalas sapaan selamat tinggal, panggilan telepon itu berakhir.
Laki-laki itu, Daniel, mantan pacarnya. Terlalu banyak hal kecil yang diabaikan dalam hubungan mungkin adalah alasan dari usainya hubungan mereka. Dua tahun tanpa pertemuan, tanpa kabar yang berarti, hingga akhirnya mereka kembali dipertemukan dalam jarak yang dekat. Nata, entah mengapa, masih membuka pintu yang sama untuknya.
Kebingungan meliputi dirinya, mengapa ia masih memberi ruang bagi seseorang yang pernah ia lepaskan?
Sebelum benaknya membawa dirinya semakin jauh, Nata menggelengkan kepalanya dengan cepat beberapa kali.
“Astaga! Fokus, Nata. Jangan mikirin hal yang gak perlu!” Ia bermonolog, berusaha menyadarkan diri sendiri.
Selesai dengan urusan mengingatkan diri sendiri, Nata langsung mengenakan sepatu yang telah dipersiapkannya. Kemudian, ia meninggalkan rumah dan pergi menuju tempat yang telah disepakatinya dengan Daniel, mantan pacarnya.
Waktu dua puluh menit yang ditempuh, membawa Nata kembali berdiri di bangunan dengan dominasi warna putih dan cokelat. Bangunan ini seolah menyeretnya kembali ke masa lalu, masa yang Nata harap bisa dihapusnya dari jejak hidupnya.
Refleks, Nata memejamkan matanya erat. Tak mau menerima sapaan masa lalu yang sejenak memerihkan dadanya.
“Nata!”
Suara yang begitu familiar, tetapi juga jauh sampai di pelabuhan gema Nata.
Nata sontak berbalik ke belakang. Daniel, lelaki itu tersenyum manis sembari melambaikan tangannya. Ia mendekat ke arah Nata yang hanya diam di tempat dengan ekspresi kikuk.
“Udah lama nunggu? Kenapa gak masuk duluan?” tanpa rasa canggung, Daniel langsung membuka percakapan dengan hal-hal ringan yang terasa cukup untuk mencairkan suasana.
“Enggak kok. Aku baru sampai,” jawab Nata, berusaha tersenyum tipis tanpa terlihat dipaksakan.
Kemudian, Daniel mengajaknya masuk ke dalam kafe kecil dengan lampu temaram dan alunan musik pelan itu. Mereka duduk di sudut ruangan, sebelum Daniel memesan minuman dan beberapa makanan ringan.
Dalam waktu yang dihabiskan bersama Daniel, tak ada percakapan yang membawa Nata ke masa lalu. Namun, mengapa pikiran Nata tak henti-henti berkelana ke masa-masa itu?
Daniel membangun waktu-waktu kebersamaan pada saat ini dengan obrolan ringan, gurau tawa, dan sesuatu yang menyenangkan. Namun, Nata tak berada di sini. Nata kembali terlempar ke masa lalu, masa ketika ia membenci hampir seluruh bagian dari hidupnya.
“Tetap enak, ya, makanannya. Aku kira bakal berubah,” celetuk Daniel yang baru saja merasakan roti panggang, menu yang memang biasa dibelinya ketika datang kesini.
Nata menanggapinya dengan senyum tipis. Waktu-waktu mereka berdua dihabiskan dengan Daniel yang mendominasi percakapan.
Nata merasa dirinya aneh, tetapi untungnya Daniel tak mencercanya dengan beribu pertanyaan. Harapnya, lelaki itu tak menyadarinya.
Dengan perasaan yang masih menggantung, Nata memilih pulang sendiri. Ia menolak diantarkan oleh Daniel, meski lelaki itu sempat memaksa. Langkah gontainya menyusuri trotoar sore itu, seolah membawa sisa-sisa pikirannya yang belum benar-benar selesai.
Di tengah langkah yang pelan, Nata kembali bersahabat dengan ufuk jingga, semilir angin, dan suara-suara manusia di sekitarnya.
Langkah Nata terhenti seketika saat seorang remaja laki-laki tiba-tiba muncul di hadapannya. Sekilas, ia menaksir usia remaja itu sekitar delapan belas tahun.
Satu
Dua
Tiga
Tiga detik berlalu dan hening masih menyelimuti keduanya. Dahi Nata berkerut, memunculkan ekspresi bingung. Mungkin menyadari keheranan dari diri Nata, remaja laki-laki itu menyodorkan selembar kertas yang berisi tulisan kepada Nata tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.
Dengan agak ragu-ragu, Nata menerimanya. Belum sempat mengeluarkan suara untuk bertanya dan meminta penjelasan, remaja laki-laki itu langsung berjalan menjauhi Nata.
Melihat punggung yang semakin jauh dari mata memandang, Nata berusaha mengejar. Namun, entah kenapa rasa penasaran akan tulisan dalam selembar kertas tersebut mencegat langkah kaki Nata.
Beberapa hal itu milik masa lalu. Jadi, tidak apa-apa membiarkannya tetap berada di tempatnya berakhir.
Hiruk pikuk kendaraan dan obrolan orang-orang yang menggema di telinganya seketika lenyap. Tak satu pun suara berhasil Nata tangkap sebab pikirannya terlalu sibuk memutar ulang kata-kata yang terasa seperti tamparan keras.
Waktu berjalan cepat, tak berminat menunggu insan yang ingin berhenti sejenak. Keesokan harinya, Nata kembali berdiri di depan cermin. Kali ini ia melakukannya dengan sukarela walau kebencian ketika dirinya yang lama muncul itu tak berkurang.
Rintik bening diam-diam luruh membasahi pipi Nata. Bahasa sunyi paling jujur dari luka yang tertimbun dan perih yang senantiasa Nata abaikan. Sebagian retak dalam diri Nata seolah menunjukkan eksistensinya.
Nata benci ini. Nata benci kembali kepada masa lalu. Ia diseret oleh bayang-bayang itu dan dipaksa hidup di dalamnya. Bukankah semuanya sudah usai? Kenapa kepala Nata memperjelas jejak samar yang tak henti-hentinya menghantui?
Nata sadar bahwa ada sesuatu atau seseorang yang menahannya. Ia tahu, jika dibiarkan, semua ini akan kembali menelannya. Lagi dan lagi.
Dengan gesit, Nata mengambil gawai dan mengirimkan pesan kepada Daniel. Pesan yang diketik dengan mengikuti kata hati, pesan yang dikirim dengan keberanian besar, tanpa ragu.
Aku rasa kita udah gak perlu lagi ketemu, Daniel. Kita sudah selesai dan memang seharusnya begitu. Jadi, ayo sama-sama hidup di masa kini meski tak memiliki lagi satu sama lain. Semoga bahagia.
Setelahnya, kembali Nata ambil dan baca kertas yang semalam didapatkannya dari remaja laki-laki tak dikenal itu.
Sekali lagi.
Beberapa hal itu milik masa lalu. Jadi, tidak apa-apa membiarkannya tetap berada di tempatnya berakhir.
Tepat. Ada sesuatu yang memang seharusnya usai—sesuatu yang tak perlu dibawa menyeberang ke kehidupan yang sekarang. Ada hal-hal yang cukup tinggal di masa lalu, tanpa perlu dihidupkan kembali, tanpa perlu diberi ruang untuk kembali menyakiti.
“Mungkin sudah waktunya aku melepas masa lalu. Sesuatu yang bukan milikku lagi di masa kini.”
Monolog yang terasa membangun pertikaian dengan kenangan, tetapi memang tak semua hal harus dipertahankan, kan?
Ketika hal itu usai, maka matilah ia pada saat itu juga.