Di balik banyaknya keuntungan yang akan kita dapat dari membaca buku, ada beberapa hal yang secara perlahan akan memudar bila kita suka membaca buku. Bukan maksud hati untuk menakut-nakuti agar orang tidak baca buku, tapi lihat, selain berdampak positif, suka baca buku juga mempunyai sisi negatif.

Mata minus mungkin adalah salah satu dari sebuah pengorbanan mahal yang harus direlakan oleh seorang kutu buku atau yang gemar membaca buku. Tapi tidak hanya itu, ada hal lain yang lebih mahal yang tak terelakan. Lihat, betapa banyak para penggemar buku yang tersisih dari realitas sosialnya. Interaksi dan komunikasinya berkurang sebab terlalu nyaman dengan buku.

Berangkat dari sebuah anggapan bahwa setiap sesuatu pasti ada sisi negatif dan positifnya. Bila tak pandai mengatur porsi dan kadar. Maka hal apapun, termasuk membaca buku akan membawa dampak fatal bagi diri kita.

Memang iya buku dicap sebagai jendela dunia, sebab dengan membaca buku-buku kita akan mengetahui banyak informasi di seantero penjuru dunia.

Membaca juga menjadi wasilah dan media untuk mendapat ilmu pengetahuan. Namun tak dapat dipungkiri, seringkali orang-orang terlalu fanatik dan membabi buta sehingga kurang memilah dan mensortir buku apa saja yang sebenarnya penting untuk dibaca. Bicara penting dan tidak maka itu akan tergantung kebutuhan masing-masing. Tapi membaca semua buku secara serampangan, bahkan seolah ingin membaca semuanya adalah tindakan yang kurang terorganisir.

Di antara yang perlu dikhawatirkan saat menggemari baca buku, seperti di awal pembahasan tadi adalah abainya seorang kutu buku terhadap interaksi sosialnya. Memang iya teman paling baik adalah buku. Tapi ingat, musuh paling berbahaya terkadang datang dari teman dekat. Bila tak ada kontrol maka secara perlahan orang akan tersisih dari pergumulan sosialnya karena buku.

Kita lihat, apa kesan masyarakat yang muncul terhadap orang yang gemar baca buku. Dia berkacamata, jalannya merunduk, sering diam, dan tidak terlalu aktif bersosial. Hal ini rasanya sudah cukup untuk menggambarkan realita yang terjadi.

Perlu dipikirkan lagi, membaca buku adalah untuk mendapatkan hal baru berupa informasi atau pengetahuan yang idealnya harus ada komitmen untuk mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari lebih-lebih bermanfaat bagi lingkungan sosial. Sebab bila hanya sampai pada ranah pemahaman apalagi terbatas pada otak sendiri membaca buku bisa dikatakan percuma.

Dalam sebuah puisi yang berjudul Sajak Seonggok Jagung, Rendra pernah menyitir tentang persoalan ini. Bahwa “Seonggok jagung di kamar tak akan menolong seorang pemuda yang pandangan hidupnya berasal dari buku dan tidak dari kehidupan.” Rendra menyadari betul bahwa di masa kini orang-orang yang suka membaca buku selain kurang mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, hanya sampai pada teori, dan mereka juga menarik diri dari pergaulan sosial.

Apa yang salah dengan membaca buku? Apakah bukunya yang salah? Tentunya bukan buku yang salah, sebab bagaimanapun buku itu ditulis berdasarkan kenyataan yang diambil dari kehidupan. Bila ada orang yang suka membaca buku, tapi semakin jelek hubungan sosialnya maka ada misorientasi di sana atau paling tidak ada yang salah. Bahwa dengan membaca buku yang harusnya untuk mengubah peradaban manusia, tapi malah berdampak menjauhkan manusia itu sendiri dari kehidupannya.

Dalam sebuah sajak Widji Tukul pernah menuliskan kalimat: “Apa guna banyak baca buku kalau mulut kau bungkam melulu.” Mungkin di masanya, kutipan sajak ini ditujukan pada orang-orang pintar yang kurang banyak bersuara untuk keadilan dan takut menyatakan kebenaran. Di masa sekarang, kutipan itu dapat diartikan sebagai orang yang suka baca buku tapi sosialnya kurang baik. Mulut dapat kita artikan sebagai kemauan untuk berinteraksi. Bungkam berarti enggan berinteraksi. Sebab sekarang sudah banyak orang yang gemar membaca namun semakin menarik diri dari pergaulan sosial, alias mulut dibungkam melulu.

Maaf, mungkin ini hanya tulisan kritik minim solusi. Tapi bila kegemaran membaca buku semakin menjauhkanmu dari pergaulan sosial maka apa bedanya dengan orang yang kecanduan smart phone sampai lupa lingkungan sekitar. Tapi bukan berarti kita harus anti-buku. Bagaimanapun membaca tetap penting selama kita bisa mengambil manfaat dan mengatur diri sendiri.

Profil Penulis

Ozik Ole-olang
Ozik Ole-olang
Lahir di Lamongan, 21 Desember 1998. Penulis adalah mahasiswa rantau asal Madura. Kerap menulis di sejumlah web. Sekarang sedang mukim di kota Malang