Keputusan Hari Lebaran yang Merepotkan Rencana (Setengah) Matang Suami Siaga

Saya mau jadi suami yang bisa diandalkan. Saya amati terus media sosial KAI buat tahu informasi periode pembelian tiket mudik dibuka.

Rencananya sudah matang di kepala. Saya akan mudik H-1 lebaran, 20 Maret 2026. Alasannya agar istri tersayang hanya berpuasa setengah hari saat mendarat di tanah yang gersang. Saya berpikir hal ini adalah bentuk kepekaan, hal yang katanya langka dimiliki pria. Jadi dia hanya ‘menderita’ setengah hari. Sisanya, meski matahari kota ini tetap menyiksa (konon di sini mataharinya tiga), setidaknya dia bisa mengalihkan keluhan dengan Teh Poci dingin buatan mertuanya di siang bolong.

Tiket kereta api Bandung-Cikampek sudah di tangan. War tiket pulang pergi dimenangkan. Tiga kursi di kereta api Cikuray sudah diamankan bahkan seminggu sebelum puasa. Saya menepuk bahu sendiri, seraya bilang,

“Mantap banget sih lu jadi suami tuh.”

Saat saya pikir semua berjalan sesuai rencana, saya ternyata melupakan satu hal: perbedaan penentuan 1 Syawal!

Badjingan,” kata saya dalam hati usai isu perbedaan hari lebaran merebak di minggu terakhir bulan puasa. Patokan saya adalah kalender, dan itu kesalahan fatal. Seharusnya saya memperhitungkan hasil sidang isbat yang anggarannya bersumber dari pajak warga itu.

Muhammadiyah memutuskan 1 Syawal pada 20 Maret 2026 melalui metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal. Sedangkan pemerintah menggunakan metode kombinasi hisab (perhitungan astronomi) dan rukyatul hilal (pengamatan langsung) yang disahkan melalui sidang isbat, sehingga tentu saja membutuhkan pertimbangan alih-alih langsung mengetuk palu.

Saya langsung terdiam. Saya tak bisa lagi menemukan pembenaran. Bahwa memilih pulang H-1 jadi pilihan sembrono. Saya lupa bahwa pemerintah dan organisasi keagaman seringnya sepakat untuk tidak sepakat namun kadang saling menemukan mufakat.

Tiket kereta sudah ludes, opsi lain kepalang nihil. Sekarang tugas saya cuma satu: menyelamatkan muka di depan anak dan istri. Saya mau meyakinkan mereka bahwa lebaran pemerintah jatuh pada 21 Maret. Tidak bisa tidak!

Saya pun meriset untuk menguatkan argumen. Awalnya, kekuatan saya cuma bersumber dari penentuan tanggal merah di kalender yang dibuat pemerintah, bahwa lebaran jatuh pada 21 atau 22 Maret 2026. Namun ini kurang kuat.

Saya pun berselancar dan menemukan video official Nahdlatul Ulama (NU) official bareng merdeka.com tentang prediksi NU menyoal penentuan 1 Syawal. Argumennya jadi penguat. Mereka menganalisa bahwa kemungkinan 1 Syawal jatuh pada 21 Maret. Yes!

Saya cukup lega. Namun saat menggali informasi di kolom komentar, ada yang cukup menggelitik.

Ternyata di akar rumput, tak semua nahdiyin berdiri di satu barisan. Ada yang menulis komentar,

“Saya NU tapi untuk urusan kaya gini saya lebih condong ke Muhammadiyah yang sangat tegas dan gak bertele-tele.”

Juga ada yang menulis, ‘“Gua NU kultural sudah enggak ikut NU lagi, tokoh NU sudah diragukan bukan panutan lagi.”

Saya yang awalnya mau riset buat pribadi, malah jadi menerka dinamika organisasi keagaman di skop yang amat kecil. Bahwa ternyata ada kepercayaan yang terlihat luntur di tubuh NU. Entah ada hubungan atau tidak, tapi kebijakan NU di kancah teras politik nasional memang ‘mencuri perhatian’.

Mereka jadi pionir pengelolaan tambang oleh organisasi keagaman, kisruh antar pimpinan dengan mendesak mundurnya Gus Yahya, hingga kader-kader yang khilaf yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi. Gus Yaqut jadi nama yang paling hangat. Keputusan, kebijakan, dan kasus di atas mungkin gak bikin elite NU kalut karena dianggap sebagai dinamika semata, namun bagi warga kelas menengah, itu jadi titik noda yang seharunya tidak terjadi di muka organisasi agama.

Saya jadi menerka bahwa meski keanggotaan ormas islam seperti NU bersifat gifted, bukan berarti semuanya akan manut. Apalagi ketika kebijakan tokoh dianggap melenceng dari prinsip organisasi, tak menutup kemungkinan bagi ‘umatnya’ untuk pamit dan tak percaya lagi.

Tapi yang lebih penting dari itu semua, mari kita sama-sama berdoa: semoga ramadan memberi banyak hidayah agar pemimpin negeri ini bisa kembali ke jalan yang lurus, keadilan benar-benar bisa ditegakkan, salat ied digelar sehari setelah saya turun dari kereta, dan tidak diambek istri dan anak.

 

 

 

 

Author

  • Nizar Alfadillah

    Penulis medioker yang lahir di Purwasari, Karawang. Sudah 8 tahun jadi buruh sebagai pewarta dan tim kreatif humas instansi. Suka cerita tentang keseharian dengan POV kelas menengah di Instagram: @alfadiln

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
galabet giriş | betasus | imajbet | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | betebet | meritbet | galabet | Meritbet | jojobet giriş | Report Phishing |