Kenapa Tukang Parkir Lebih Percaya Diri daripada Aku yang Sarjana

Aku baru sadar ada satu profesi di Indonesia yang tingkat kepercayaan dirinya stabil, tahan banting, dan nyaris tidak terpengaruh inflasi: tukang parkir.

Mau ekonomi lesu, harga naik, atau hidup lagi kacau, atau entah besok kiamat, mereka tetap berdiri tegap di pinggir jalan, meniup peluit, dan memberi aba-aba dengan keyakinan penuh.

Sementara aku, sarjana dengan ijazah berbingkai masih sering ragu bahkan untuk memutuskan mau makan apa hari ini, atau sangat ragu bahkan mengambil nasi di penanak nasi di rumah yang usang itu, ya karena nanti dapat pertanyaan dari orang rumah

“Sek ngene-ngene ae?” yang artinya kurang lebih “Mau gini-gini aja, nih?”

Balik lagi ke tukang parkir, pertemuan kami biasanya singkat, tapi selalu meninggalkan kesan.

Tukang parkir itu tidak pernah terlihat bimbang. Gerakannya tegas dan tangannya mantap. Peluitnya berbunyi seolah berkata,

“Tenang, aku tahu apa yang kulakukan.”

Sebuah kalimat yang jarang sekali bisa kukatakan tentang hidupku sendiri.

Aku kuliah bertahun-tahun. Membaca teori. Diskusi sampai malam. Presentasi pakai Power Point penuh bullet point. Tapi entah kenapa, setelah lulus, kepercayaan diriku malah menurun. Mungkin karena hidupku mulai dipenuhi pertanyaan

“Kamu sekarang ngapain?” dan “Kerja di mana?”

Tentu saja dua pertanyaan yang sanggup meruntuhkan mental sarjana dalam lima detik, serius deh!

Sementara tukang parkir tidak pernah ditanya, “Lima tahun ke depan mau jadi apa?”

Mereka sudah jadi sesuatu hari ini, dan mereka yakin betul akan hal itu.

 

Ilmu Pasti vs Hidup yang Tidak Pernah Pasti

Tukang parkir bekerja dengan satu prinsip sederhana: ada motor, ada mobil, ada uang parkir. Sistemnya jelas hasilnya langsung.

Sedang aku? Hidupku penuh konsep tapi minim kepastian. Banyak rencana, sedikit realisasi. Aku tahu banyak istilah rumit akademik ngehek dan blablanya, tapi tetap gugup saat disuruh memperkenalkan diri di forum baru. Sarjana katanya bikin percaya diri. Nyatanya, aku sering minder hanya karena membaca lowongan kerja dengan syarat “berpengalaman minimal 2 tahun”.

Pengalaman dari mana? Aku juga masih mencari, sial!

 

Dunia Nyata Gak Peduli IPK

IPK-ku lumayan. Tidak cumlaude, tapi cukup untuk dibanggakan di CV. Sayangnya, dunia nyata tidak pernah bertanya soal itu. Dunia nyata lebih peduli apakah aku diam kalau diperlakukan tak adil, bertahan, dan tidak banyak drama?

Tukang parkir tidak punya IPK. Tapi ia punya keahlian yang langsung berguna, jelas ketika orang datang, ia membantu, ada orang keluar, ia mengatur, selesai. Tidak ada krisis eksistensi.

Aku? Setiap hari bisa krisis identitas. Merasa kurang, merasa tertinggal, merasa salah jurusan. Padahal yang salah mungkin ekspektasiku, terlalu percaya bahwa gelar otomatis membawa percaya diri.

 

Sarjana yang Terlalu Sadar Diri dan Pelajaran di Pinggir Jalan

Aku sadar betul kelemahanku. Terlalu sadar, malah. Aku tahu batasanku, aku tahu kekuranganku. Aku tahu risiko dari setiap keputusan dan kesadaran itu sering kali berubah jadi ketakutan.

Tukang parkir tampaknya tidak dibebani kesadaran berlebih itu. Ia hadir sepenuhnya di berbagai momen. Tidak sibuk membandingkan hidupnya dengan orang lain. Tidak scroll LinkedIn dan Jobstreet sambil merasa gagal. Haha.

Aku tidak ingin meromantisasi kemiskinan atau merendahkan pendidikan, tapi aku belajar satu hal penting dari tukang parkir bahwa percaya diri tidak selalu datang dari gelar, tapi dari keberanian berdiri di tempatmu sendiri.

Mungkin masalahku bukan kurang pintar, tapi terlalu sibuk merasa kurang. Terlalu sering menunda hidup sambil menunggu versi diriku yang “siap”.

Padahal, tidak ada versi itu. Yang ada cuma aku hari ini bingung, ragu, tapi tetap hidup.

Dan mungkin, suatu hari nanti, aku ingin berdiri setegap tukang parkir itu. Tidak harus di pinggir jalan, tidak harus dengan peluit. Tapi dengan keyakinan sederhana bahwa aku tahu apa yang sedang kulakukan, meski hidup belum sepenuhnya beres.

Kalau belum bisa, ya tidak apa-apa, dan saat ini aku sedang duduk di depan minimarket dengan seragam hitam putih dengan map coklat serta sebatang rokok kretek yang terasa pedas di lidah, mengawasi tukang parkir di depanku yang sibuk menghitung penghasilan hari ini.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like
meritbet giriş | primebahis | Jojobet | jojobet | meritbet | vaycasino | jojobet | jojobet | meritbet | pusulabet | pusulabet giriş | marsbahis |