

Aku seperti mendadak diserang demam waktu dengar ucapan Hanip, Umi bakal kawin sama Om Ipul.
Celaka tiga belas! Kalau itu sampai terjadi dunia bakal kiamat, dan aku pasti masuk neraka. Membayangkannya saja serasa malaikat Malik sedang mengelus-elus pundakku.
Tiga hari yang lalu Om Ipul bertengkar hebat sama Baba, dan berakhir dengan ancaman kematian.
Di kampung kami, sangat pantang menelan ludah sendiri karena kehormatan adalah taruhannya. Setiap kali ada kejadian berdarah semacam itu, Hanip selalu antusias menceritakannya, dan aku jadi membayangkan mereka seperti dua binatang yang sedang bertengkar gila-gilaan, sama-sama tidak punya otak.
Baba pernah bilang kalau yang membedakan manusia sama binatang adalah akal. Manusia punya ilmu, tegasnya. Itu kenapa aku yakin Baba bakal kalah kalau duel benar-benar terjadi, karena Baba orang pintar, sedangkan lawannya adalah binatang.
Itu benar, percayalah, karena Om Ipul suka makan daging anjing, dan kata guru olahragaku: kamu adalah apa yang kamu makan.
Aku tidak suka anjing, begitu juga orang-orang kampung. Mereka memasang jebakan di tepi hutan biar tidak ada anjing liar yang masuk. Memang viasanya ada binatang lain yang sial, seperti garangan, tapi kebanyakan memang anjinglah byang terjebak.
Baba bilang air liur mereka kotor, bikin kita tidak bisa sembahyang. Kalau kakinya kena jebakan, biasanya orang-orang bakal pukul kepalanya sampai mati. Tapi Hanip punya cara yang beda.
“Ini cara yang lebih baik,” kata Hanip sambil mengeluarkan sebungkus bubuk kuning, yang sebulan kemudian baru aku tahu kalau itu bubuk kembang kecubung, “gak repot juga. Awas, jangan kau incip, kena sedikit saja bisa pusing nanti.”
Dari Hanip juga aku tahu Om Ipul suka makan daging anjing, karena Hanip menjual bangkai buruannya ke warung Ba Poki yang kemudian memasaknya.
Dan di sanalah, di antara berbotol-botol arak beras dan suara nyaring penuh umpatan. Hanip sering melihat Om Ipul makan daging anjing bumbu rica-rica. Dari cerita Hanip itulah aku mengerti kenapa perangai Om Ipul yang suka marah-marah ke Baba, adiknya sendiri, jadi masuk akal.
Dia suka berteriak sambil sempoyongan, berkata soal hutang budi, soal tata-krama, seperti: Dasar gak tahu diuntung! Kalo bukan karena aku, kamu bakal jadi gembel. Ngerti?
Atau seperti … yang masukin kamu ke pabrik itu aku! Inget itu! Kalo aku gak ngomong sama Pak Erik, palingan kamu nguli.
Kalau sudah begitu, Umi bakal masuk kamar, ambil uang di bawah tumpukan selimut di lemari, dan berikan itu ke Baba. Lalu Baba memberikannya ke Om Ipul, sampai teriakannya itu berhenti. Saat Baba tidak punya uang. Ia biarkan Om Ipul berteriak-teriak seperti ajag, sampai dia memuntahkan arak yang baru diminumnya sendiri. Lalu tidur begitu saja di kursi ruang tamu kami.
Kadang-kadang, malam usai itu terjadi, aku mendengar Umi menangis pelan di kamar, atau di dapur, atau di sekitar sumur. Pokoknya jauh dari pendengaran Baba.
Besok atau lusanya, Umi bakal mengajakku antar makanan ke rumah Om Ipul supaya Baba tidak lagi dibentak-bentak. kadang meski itu berhasil bikin Om Ipul senang dan sopan, tapi bukan jaminan ia tak kumat lagi beberapa hari kemudian. Terutama setelah pulang makan anjing dari warung Ba Poki.
Pernah aku tanya kenapa Baba diam saja dibentak seperti itu. Baba bilang, orang pintar selalu mengalah karena percuma meladeni hal-hal bodoh.
Ya, Om Ipul memang bodoh seperti binatang. Kau tahu, hanya orang bodoh yang suka bilang kalau orang lain bodoh, dan Om Ipul selalu bilang aku bodoh hanya karena bentuk kepalaku.
Di umur belum genap dua tahun, kata Umi, aku pernah jatuh dari dipan bambu belakang rumah. Tidak parah memang, tapi ada lengkungan di kepala yang tidak balik seperti semula sampai sekarang, sembilan tahun kemudian.
Kata orang-orang tua kampung, bentuk kepala sebab jatuh seperti ini bisa mengganggu kerja otak dan kemampuan berpikir anak-anak. Cuma Abah Djaelani, Babanya Hanip, yang bilang sebaliknya, waktu Baba dan Umi membawaku ke rumahnya.
Tapi, kata beliau, aku mesti sering-sering dikasih makan ikan laut. Sayang, ikan laut sangat mahal buat orang-orang kampung kami yang dikelilingi hutan dan gunung, karena itu aku memutuskan buat berobat ke Hanip. Meski umurnya cuma beda tiga tahun di atasku tapi Hanip punya banyak ilmu yang dia dapat dari Babanya.
Kata Baba, orang yang pernah pergi ke Mekah pasti bertambah ilmunya, dan Abah Djaelani sudah empat kali ke sana.
Rumah Abah Djaelani sering didatangi orang buat berobat, baik dari kampung kami atau dari luar. Kalau sudah begitu Hanip pasti sibuk mendampingi Babanya dari pagi sampai sore. Dari sanalah Hanip belajar bagaimana cara mengobati penyakit, dan untungnya mengobati kepala penyok termasuk yang dia kuasai.
“Otak itu butuh udara buat bekerja,” kata Hanip, “dan kepala penyok bisa menghambatnya, tapi tenang, udara itu bisa dipompa dari bagian tubuh lainnya.”
Dia mengajakku ke rumah pohon di pekarangan belakang rumahnya, sarang tempat dia menimba ilmu. Setelah rutin datang ke sana, aku baru tahu kalau caranya belajar ilmu adalah dengan nonton video yutup, baca komik, dan membakar rokok dua kali sehari.
Dan di sanalah, dari ponsel mewahnya, dia menunjukkan video pengobatan paling ampuh buat penyakitku.
“Tapi terapi ini lumayan rumit,” kata Hanip sambil berlagak mirip Babanya, “kamu gak bakal ngerti, jadi aku tunjukkan sebagian kecil saja, ya. Cuma bagian awalnya saja. Dan ingat, terapi ini gak bisa instan, paling cepat tiga bulan, itu pun kalau kau punya keyakinan penuh sama caraku.”
Aku datang ke sarangnya tiga hari sekali sepulang les. Umi tidak terlalu ambil pusing soal itu. Asalkan aku sudah pulang sebelum azan ashar. Selain itu, juga karena Umi punya terapinya sendiri.
Suatu waktu, kalau tidak salah di tengah minggu ketiga, Hanip bilang kalau terapi libur. Lalu aku pulang dan sampai ke rumah tanpa mengucap salam.
Berniat mengambil air di dapur, aku tidak sengaja melihatnya …
Dada Umi sedang diremas-remas, agar udara di sana naik ke kepala, mirip terapiku.
Tangan gempal itu meremas dada Umi dengan kasar, sampai Umi mesti menggigit bibirnya, menahan sakit. Ini jelas jenis terapi yang berbeda. Karena remasan Hanip sangat pelan dan aku tidak perlu menahan sakit. Apalagi, tangan itu menjulur dari belakang, sedangkan Hanip melakukannya dari depan.
Merasa tidak sopan melihat terapi orang lain tanpa permisi, aku balik arah keluar rumah, menonton balap burung dara di lapangan bola.
Umi memang sering mengeluh kepalanya pusing. Kepala pusing, kata Baba, adalah pertanda otak sedang mogok kerja.
Dan seperti aku, Umi tidak mau jadi bodoh. Walaupun aku paham apa yang Umi lakukan, tapi bayangan tangan yang meremas dengan kasar itu terus gentayangan di kepala. Ia muncul bukan karena rasa penasaran saja, tapi juga rasa marah karena bikin Umi kesakitan.
Apa ilmu ketabibannya masih di bawah level Hanip? Atau penyakit Umi lebih parah dariku?
Pertanyaan itu, bercampur bayangan tangan gempal, bikin aku susah tidur. Demi menanggulanginya, aku merasa harus tahu siapa tabib Umi.
Aku kembali melihat terapi Umi seminggu kemudian, dan mendapat jawaban: tangan itu milik Om Ipul.
Celaka tiga belas! Bukannya tidur nyenyak yang kudapat tapi malah mimpi buruk.
Di terapi selanjutnya, aku tanya Hanip soal orang pintar selain dia dan Babanya di kampung. Dia jawab tidak ada, karena Babanya tidak punya murid selain dirinya.
Jawaban itu bikin aku tambah bingung, dan berubah jadi kesal waktu bayangan tangan itu muncul, lalu berubah jadi umpatan dan ejekan pada binatang-binatang. Hanip bilang kalau memang begitulah binatang, ada yang baik dan ada yang buruk. Ada yang menjijikkan dan merugikan, ada yang perlu dirawat dan bermanfaat.
“Babi dan sapi beda walau sama-sama binatang,” imbuh Hanip sambil menelan lidah dan menjilat bibirnya sendiri selagi merapal mantra buat terapiku, “ular dan lele juga. Yang penting kita jangan sampai dekat-dekat sama yang kotor karena biasanya binatang macam itu bakal menulari penyakit.”
“Seperti anjing…”
“Ya benar, seperti anjing.”
Hanip menyudahi ucapannya dengan kepala mendongak, mata terpejam, dan badan menggelinjang, seperti ada yang lepas dari tubuhnya dan wajahnya terlihat puas. Tanda terapi berakhir.
Mendengar petuah Hanip selama terapi selalu bikin aku senang karena aku sering dapat ilmu baru. Hanip memang pintar, dan aku bersyukur dia jadi tabibku. Tapi Umi perlu aku beritahu: tabibnya tidak berilmu, suka makan daging anjing, dan bisa jadi dia justru menulari suatu penyakit.
Niatku mau bilang soal ini luntur seketika, saat ada suara geger dari dalam rumah. Sambil jalan pelan karena takut ketahuan, aku mengintip dari jendela, dan melihat Om Ipul sama Baba sedang berdiri berhadap-hadapan.
Bagaimana bisa? Jam segini harusnya Baba belum pulang kerja.
Belum habis rasa bingung, aku dapat rasa kaget: Baba berteriak melawan gonggongan Om Ipul, dan bicara soal kehormatan dan kepercayaan. Dan di sanalah ancaman itu terucap.
Di terapi selanjutnya aku mendengar cerita utuh kejadian yang melahirkan maklumat duel itu dari mulut Hanip, beserta konsekuensinya, karena waktu geger itu berlangsung aku berlari ke belakang rumah lewat samping, takut melihat muka marah Baba.
Awalnya aku bilang itu tidak mungkin, tapi Hanip bilang dia tahu itu dari Babanya, karena memang itu aturannya, itu hukumnya. Aku mati-matian menahan tangis karena malu dianggap cengeng.
Melihat itu Hanip memutuskan terapi diliburkan, dan lebih baik aku pulang saja. Tapi aku tidak mau pulang. Dia berusaha menghibur dan mengajakku berburu garangan, tapi aku diam saja. Dia mengusulkan beberapa ide lain, hasilnya sama: aku enggan. Ia akhirnya menyerah dan tidak tahu mesti melakukan apa, dia turun dari sarang.
Aku tidak mau Baba kalah duel. Aku tidak mau Om Ipul jadi Babaku. Aku tidak mau Umi sering-sering menggigit bibirnya.
Aku ingin marah dan berteriak di muka Om Ipul, tapi aku takut nanti digigit dan kena air liurnya.
Seandainya saja tidak ada anjing di dunia ini, pastilah hidup bakalan jadi lebih baik.
Kenapa Tuhan ciptakan banyak sekali anjing? Aku bingung, sedang usapan di pundakku terasa makin mesra. Berusaha tidak mengindahkan itu, aku melempar pandang ke atap sarang, ke sawang di pojokan, ke tumpukan komik, ke koleksi ketapel dan kelereng, dan terakhir ke bungkus bubuk kuning, cara tidak merepotkan buat menghabisi anjing.
Cukup lama aku terpaku pada sebungkus bulir kembang kecubung itu, membayangkan busa putih memenuhi mulut anjing di perbatasan desa, anjing yang kotor dan penyakitan, sebelum Abah Djaelani datang bersama Umi dan memanggilku turun.
“Ayo pulang, ikut Umi antar makanan.” Suara Umi serak dan pelan, direnggut tangis semalam suntuk. Walaupun enggan, aku tak punya pilihan. Aku bergerak malas, membuat Umi berdiri cukup lama menunggu.
***
Suasana rumah pelan-pelan mulai membaik. Baba sudah tidak suka marah-marah, Umi sudah tidak lagi tidur sekamar denganku. Dan ini yang paling bikin aku senang, Baba mau menerima lagi salim dari Umi dan mengecup keningnya setiap berangkat dan pulang kerja.
Aku jadi nyaman di rumah tanpa memeluk Umi yang menangis. Untuk itu aku mesti berterima kasih sama Abah Djaelani.
Baba dan Umi berkunjung ke rumah beliau dua kali seminggu. Kata istri beliau, Baba dan Umi sedang berobat. Aku lega mendengarnya, karena Umi memang butuh tabib baru, tabib dengan ilmu setara Sunan Bonang.
Berkunjung ke rumah beliau selalu bikin aku senang karena banyak camilan dan permen yang bisa aku makan, dan istri beliau sering bercerita soal orang-orang pintar di Mekah. Suatu saat nanti aku bakal ke Mekah, dan aku bakal lebih pintar dari Abah Djaelani. Mendengar aku bilang begitu, Baba dan Umi tersenyum bangga, dan aku bakal buat mereka bangga.
Satu-satunya yang tidak mengenakkan waktu ke rumah beliau hanyalah Hanip. Kami sudah lama berhenti melakukan terapi rutin setelah kematian Om Ipul, dan perangainya yang dulu riang dan baik berubah jadi kaku dan mudah marah, setidaknya kepadaku.
“Terapi selesai, dan kamu gagal!” Mukanya tegang dan terlihat enggan dekat-dekat denganku, lalu melanjutkan dengan kalimat penghabisan, “Mulai sekarang kamu dilarang masuk ke sarang!”
Setelah mengucap itu dia bersikap seperti musuh. Menjaga jarak dan tidak mau menoleh kepadaku. Kami jadi tidak pernah bicara lagi.
Kalau kami berpapasan di rumahnya, aku merasa terancam, takut kalau rumahnya ini juga termasuk sarang yang dia maksud, dan dia bakal mengusirku. Sampai sekarang aku masih bingung apa yang lebih bikin dia marah: gagal menjadi pasien atau gagal menjadi murid?
Seandainya saja dia tahu apa yang aku lakukan, dia pasti bangga karena aku mengamalkan apa yang dia ajarkan.
Aku sempat kepikiran soal Hanip dan sikapnya itu karena aku menghormatinya, baik sebagai teman atau tabib; bagaimanapun juga aku dapat ilmu-ilmu baru darinya.
Ilmu yang menjauhkanku dari kebodohan, yang berguna buat orang lain, terutama buat orang-orang yang kita sayangi. Tapi, kabar kepindahan kami ke Medan karena dinas baru Baba sedikit menghiburku: kalaupun belum sampai ke Mekah, paling tidak aku sudah cukup dekat sama serambinya.
Hiburan itu, rupa-rupanya berumur sangat pendek karena ternyata orang-orang di kampung baru kami masih jauh dari berilmu. Tidak ada yang pernah ke Mekah. Mereka banyak bicara, senang berteriak, dan yang paling bikin aku jengkel: mereka suka daging babi.
Aku rasa ilmu yang kudapat dari Hanip masih berguna di sini, apalagi kalau binatang yang kuhadapi jauh lebih kotor dan penyakitan ketimbang anjing. Beruntung pekarangan belakang rumah kami cukup luas, dan harusnya tidak sulit menemukan kembang kecubung.
Jejak bayangan Baba yang suka marah-marah ke Umi setelah geger dengan Om Ipul sepertinya masih mengikuti. Kalau aku tidak waspada, bisa jadi hal itu benar-benar terulang lagi.
Itu berarti Umi bakal sering menangis. Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Demi Baba dan Umi, aku harus lebih pintar dari sebelumnya.
Pertama-tama, aku mesti tahu siapa orang yang pintar di sini biar aku bisa belajar darinya. Dan terakhir, tentu, mencari tahu siapa yang bodoh.
Rici Swanjaya lahir di Surabaya pada bulan Maret 1986. Gemar membaca sejak kecil, dan semasa kuliah mulai masuk ke ranah sastra, baik lokal maupun internasional. Dari sana, hasrat menulis fiksi mulai lahir dan tumbuh.
Menerbitkan novel berjudul “Awal Musim Kemarau” (Interlude Yogyakarta, 2019) dan “Burung Tanpa Kaki” (Penerbit JBS, 2025). Selama pandemi mencoba merambah ke naskah film, dan menghasilkan film pendek pertama berjudul “Koboi Berak” di tahun 2021. Menulis naskah film pendek lain seperti “Nyai Core” (Boomcraft Production) dan “Affection” (Mufis) di tahun 2023. Menginisiasi Kelas Mengarang Surabaya, bekerja sama dengan C2O Library & Collective di tahun 2023.
Sekarang masih bergelut di dunia penulisan, apa pun bentuknya.