Kenapa Kita Berani Nawar kalau di Pasar?

Aku pernah menawar harga daster di pasar hanya karena selisih lima ribu rupiah. Saat itu, seperti kebanyakan orang, aku mencoba mendapatkan harga yang sedikit lebih murah.

“Kurangin lagi, Bu, ya?”

Kalimat itu meluncur begitu saja. Rasanya wajar. Bahkan seperti bagian dari budaya yang tidak tertulis. Ada kepuasan tersendiri ketika berhasil mendapatkan harga yang lebih murah dari harga awal, meskipun selisihnya tidak seberapa, entah. Merasa jago sekali aku kalau berhasil.

Aku tidak pernah benar-benar mempertanyakan kebiasaan itu. Sampai suatu hari, saat sedang duduk di sebuah kafe, aku menyadari sesuatu yang terasa janggal.

Aku baru saja membeli segelas kopi seharga tiga puluh lima ribu rupiah tanpa banyak menawar. Padahal, kalau boleh jujur, rasanya tidak selalu jauh berbeda dengan kopi yang biasa kubuat sendiri di rumah. Mungkin yang membedakan hanyalah cara penyajiannya, suasananya, atau perasaan yang datang saat menikmatinya.

Di situlah aku mulai bertanya-tanya: kenapa aku begitu bersemangat menghemat lima ribu rupiah di pasar, tetapi tidak keberatan mengeluarkan uang berkali-kali lipat di kafe?

Kalau dipikir-pikir, aku sering menjumpai hal yang serupa di sekitar. Banyak orang tampak lebih berani menawar di pasar dibandingkan di kafe. Padahal, sama-sama ada orang yang bekerja keras di baliknya.

Ada pedagang sayur yang bangun sebelum subuh untuk kulakan, ada ibu-ibu yang berdiri berjam-jam menjaga lapaknya, dan ada penjual yang pulang dengan harapan dagangannya habis agar bisa membawa uang untuk kebutuhan rumah.

Di sisi lain, tawar-menawar di pasar memang sudah menjadi hal yang lumrah. Bahkan, terkadang ada anggapan bahwa kita belum benar-benar berbelanja kalau belum mencoba meminta harga yang lebih murah. Mungkin karena itulah kita tidak merasa bersalah saat melakukannya.

Pengalaman yang berbeda sering muncul saat berada di kafe. Dengan interior yang nyaman, lampu yang hangat, dan musik yang diputar pelan, harga yang tertera di daftar menu cenderung diterima begitu saja. Bahkan ketika isi dompet sedang tidak terlalu ramah.

Entah karena gengsi, kebiasaan, atau sekadar tidak ingin terlihat berbeda, banyak dari kita memilih diam dan membayar saja.

Kita tidak ingin terlihat pelit, tidak ingin dianggap tidak mampu, dan tidak ingin menjadi satu-satunya orang yang bertanya, “Memang segini harganya?”

Padahal, semakin dipikirkan, fenomena ini bukan hanya tentang pasar dan kafe. Ini tentang cara kita memandang nilai.

Mungkin, tanpa sadar, kita memang sering memberi nilai lebih pada hal-hal yang terlihat “berkelas”.

Kita cenderung percaya bahwa harga yang mahal sebanding dengan kualitas yang lebih baik. Tempat yang estetik dianggap lebih layak dihargai. Orang yang berbicara dengan percaya diri lebih mudah dipercaya. Sementara sesuatu yang sederhana sering kali harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan penghargaan yang sama.

Padahal, tidak semua yang sederhana berarti murahan. Tidak semua yang mahal berarti lebih berharga. Ada banyak hal yang nilainya tidak bisa diukur hanya dari tampilan luarnya.

Mungkin karena itulah, tanpa disadari, cara pandang yang sama ikut terbawa dalam hubungan kita dengan orang lain.

Orang yang terlalu baik sering dianggap akan selalu memaklumi. Orang yang terlalu mudah membantu sering dibebani lebih banyak. Orang yang jarang marah dianggap akan terus bersabar. Sementara mereka yang memiliki batasan tegas justru lebih dihormati.

Kadang aku berpikir, jangan-jangan kita memperlakukan manusia seperti kita memperlakukan pasar dan kafe.

Kita terus “menawar” orang-orang yang tulus. Meminta lebih banyak waktu mereka. Lebih banyak tenaga mereka. Lebih banyak pengertian dari mereka karena kita yakin mereka tidak akan pergi.

Di sisi lain, kita berhati-hati kepada orang-orang yang terlihat memiliki nilai tinggi di mata sosial. Kita takut kehilangan akses, tidak diterima, atau dianggap tidak setara.

Padahal, setiap orang memiliki nilai yang tak harus diturunkan demi diterima. Setiap orang berhak menetapkan batas, mengatakan tidak, dan berhak dihargai tanpa harus membuktikan dirinya berulang kali.

Namun, mungkin refleksi ini tidak berhenti pada pertanyaan tentang cara kita memperlakukan orang. 

Jangan-jangan, tanpa sadar, kita juga sering “menawar” kebaikan orang-orang di sekitar kita. Kita menganggap waktu mereka selalu tersedia, kesabaran mereka tidak ada batasnya, dan pengertian mereka bisa diminta kapan saja. Kita lupa bahwa setiap orang juga memiliki lelah, kecewa, dan kebutuhan untuk dihargai.

Maka, jika kita ingin diperlakukan selayaknya kafe—dihormati batasnya dan dihargai nilainya—barangkali kita juga perlu belajar memperlakukan orang lain dengan cara yang sama.

Menghargai waktu mereka, menghormati pilihan mereka, dan tidak memaksa mereka untuk selalu mengalah. 

Tentu saja, tulisan ini bukan tentang kafe yang lebih baik daripada pasar. Pasar adalah ruang hidup bagi banyak orang. 

Mengapa kita begitu mudah “menawar” sesuatu yang terlihat sederhana, tetapi langsung menghormati sesuatu yang tampak berkelas?

Mungkin, tanpa kita sadari, kita bisa mengetahui sedang menjadi “kafe” atau “pasar” dari cara orang-orang memperlakukan kita.

Jika setiap saat orang merasa bebas meremehkan, meminta lebih, melanggar batas, atau terus-menerus “menawar” nilai yang kita miliki, kayaknya ada yang mesti kita perbaiki. 

Mungkin kita tidak perlu menjadi “kafe” yang mahal untuk dihargai. Namun, setidaknya kita bisa belajar untuk tidak terus-menerus menjadi “pasar” yang merasa harus menerima setiap tawaran yang datang, meskipun itu mengurangi nilai yang kita miliki.

Jadi, setelah membaca sampai di sini, menurutmu selama ini kamu lebih sering menjadi pasar atau kafe? 

Lahir pada Agustus 2007. Saat ini, belajar di prodi Tadris Matematika di Kampus Hijau Purwokerto. Instagramnya @vie_vi021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!