Kenapa Jual Dakwah Lebih Mudah daripada Jualan Buku?

Dalam sejarah keilmuan Islam, otoritas seorang pendakwah tidak pernah diperoleh secara instan, melainkan harus dibangun melalui proses belajar yang panjang, pembinaan karakter, menelaah kitab, serta legitimasi dari para guru yang diakui.

Hal ini disebabkan karena berbicara atas nama agama di hadapan banyak orang merupakan tanggung jawab yang sangat besar, bukan posisi yang bisa diambil begitu saja oleh sembarangan orang.

Hal ini terbukti nyata jika kita menelusuri jejak para kiai yang namanya kini harum dan disebut-sebut dengan penuh takzim dari satu majelis ke majelis lainnya. Mereka, tanpa terkecuali, tidak pernah memosisikan diri sebagai pendakwah sejak awal perjalanannya, tidak ada di antara mereka yang di masa mudanya sibuk membangun citra publik, memasang foto dengan label pendakwah muda, atau mendeklarasikan diri sebagai perwakilan terbaik generasi Islam. Sebab yang mereka lakukan justru sebaliknya: menunduk, belajar, dan mengabdikan diri pada ilmu jauh sebelum ilmu itu sendiri yang akhirnya mengangkat nama mereka.

Gus Baha, misalnya. Coba tanya,

Di mana Gus Baha ketika beliau berusia dua puluh lima tahun?

Hampir tidak ada yang tahu jawabannya. Bukan karena beliau tidak ada, tapi karena beliau sedang khusyuk ngaji di tempat yang tidak ada kameranya, di ruang yang tidak ada yang memotret. Bertahun-tahun beliau menghilang dari permukaan, bukan karena sengaja bersembunyi, tapi karena memang tidak ada yang perlu ditampilkan sebelum ilmunya benar-benar matang. Atau bisa jadi juga ada yang tahu jawabannya tapi ya tidak koar-koar, dan ketika beliau akhirnya berbicara, bobot itu tidak bisa dipalsukan.

 

Kenapa Dakwah Lebih Laku dari Buku?

Jawabannya sederhana. Buku membutuh pemikiran, penulisnya harus tahu persis yang ditulis, dan pembacanya punya kesempatan untuk memeriksanya halaman demi halaman, menandai bagian yang lemah, mempertanyakan argumen yang menyimpang. Sejak halaman pertama, seorang penulis sudah meletakkan dirinya di atas meja untuk dikritik. Buku tidak bisa bersembunyi di balik sorot lampu dan tepuk tangan.

Sedangkan dakwah di atas panggung tidak. Yang dibutuhkan hanya membungkus dirinya dengan jubah sakralitas yang nyaris tidak bisa disentuh. Kritik terhadap mereka dengan mudah dipelintir menjadi “kritik terhadap Tuhan” atau “anti-agama”.

Mekanisme pertahanan ini menciptakan pasar yang tunduk dan tidak kritis dan dalam ekosistem seperti itu, kebenaran bukan yang paling dalam yang menang, melainkan yang paling lantang.

Belum lagi soal eksploitasi emosi. Jualan agama laku keras karena ia tahu persis “celah” untuk menekan: ketakutan akan neraka, ketakutan akan kegagalan hidup, dan rasa bersalah yang telah lama mengendap. Felix Siauw adalah contoh nyata dari fenomena ini, Pada awal dekade 2010-an, namanya meledak bukan hanya dari panggung dakwah, tapi juga dari buku-bukunya yang menjadi rangkuman ceramah-ceramahnaya yang laris luar biasa. Muhammad Al-Fatih 1453, Udah Putusin Aja!, Yuk Berhijab!, semuanya menjadi bestseller, dibaca jutaan orang, dikutip di caption berbagai sosial media dan bahkan dijadikan kado wisuda,

Di balik kemasan branding ustaz gaul dan bahasa-bahasa inspiratif, buku-bukunya banyak dikritik oleh sejumlah kalangan akademisi dan tokoh Islam karena perspektifnya yang dinilai mengusung ideologi yang menyimpang.

Narasi tentang sistem khilafah, pandangan tentang demokrasi yang dianggap bertentangan dengan Islam, hingga asumsi bahwa hanya perempuan cantik yang wajib memakai hijab, semuanya dibungkus dalam bahasa yang terasa inspiratif dan tidak mengancam.

Puncaknya datang ketika pemerintah membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) pada 2017—organisasi yang selama ini menjadi afiliasi Felix dan menjadi sumbu ideologis dari sebagian besar gagasan yang ia tulis. Tiba-tiba seluruh bangunan populer itu goyah. Buku-buku yang dulu dipajang di rak terdepan toko buku mulai dilirik ulang dengan kacamata yang lebih kritis. Kutipan-kutipannya yang dulu di-repost ramai-ramai kini mulai dipertanyakan. Jutaan pembaca yang dulu dengan tulus mengagumi mulai mempertanyakan: selama ini yang kita baca buku siapa?

Branding yang Murah dan Harga yang Mahal

Hari ini, kita akan dengan mudah menemukan anak-anak muda yang secara usia, keilmuan, dan kematangan emosional masih berada dalam fase “belajar”. Seharusnya mereka masih duduk bersila menyimak kitab di pojokan ruang kelas, dengan branding ” Ustadz Aksi Indosiar”, “yang muda yang taat” dan branding-branding murahan lainya, tiba-tiba tampil ke atas panggung membawakan narasi agama. Bermodal kutipan terjemahan, retorika, sorot panggung, mereka menyatakan diri sebagai pendakwah.

Dengan gagahnya mereka mengisi bio media sosial dengan  tulisan

Undangan Langsung DM” atau “Hubungi Nomor di Bawah Ini untuk atur Jadwal

Ini dakwah atau jualan barang jasa?

Sejak kapan marwah seorang pendakwah sang penyiar agama turun kelas menjadi sekadar komoditas yang bisa di pesan sesuka hati layaknya pesanan makanan daring?

Yang membuat fenomena ini semakin menggelisahkan adalah fakta bahwa agama, dengan segala keluhurannya ternyata adalah kendaraan yang paling mudah ditunggangi untuk mendapatkan barang-barang duniawi, baik harta, tahta maupun wanita. Murah modalnya, tinggi legitimasinya.

Berlindung di balik tirai dakwah adalah strategi yang nyaris sempurna.

Siapa yang berani mempertanyakan niat orang yang mengaku berdakwah?

Ujian yang Paling Sederhana

Sebelumnya, Mari kita luruskan satu hal: bukan tidak boleh berkreasi untuk bermanfaat, justru, berkreasilah dengan memberi manfaat. Menjadi bermanfaat sebenarnya mudah, tidak harus ribet-ribet dengan branding murahan. Bersihkan masjid setiap Jumat pagi, misalnya.

Itu kan dakwah juga, kenapa tidak ada yang berminat?

Ya karena sepi, yang melihat cuma Tuhan, coba jika di panggung yang ditonton ukhti-ukhti, disimpan nomornya, lalu diminta foto bersama, pasti akan lebih semangat daripada membersihkan masjid. Astagfirullohaladzim! Gak boleh suudzon! *kata editor.  Padahal, bisa jadi tidak membersihkan masjid Jumat pagi adalah karena gak ada yang megangin kamera buat ngonten, kan 🙂

Jika adalah seseorang yang mengaku ingin berdakwah, sebetulnya ada satu ujian sederhana yang bisa dipakai untuk membedakan yang betulan ingin berdakwah dan jualan atribut dakwah saja.

Siap matikan kamera?

Siap pesertanya hanya sesama jenis?

Kalau jawabannya “iya” untuk keduanya dan  tanpa “tapi”, maka lanjutkan. Tapi jika alasan, “nanti pesertanya sedikit”, “syiarnya kurang” atau alasan-alasan klise lainya, maka segera hentikan.

Terakhir, sebenarnya tidak ada yang melarang seseorang mencari tahta, atau bahkan harta, Itu manusiawi. Namun jika memang itu yang dicari, carilah dengan jujur dan dengan cara yang jujur pula, tidak perlu membungkusnya dengan sorban, tidak perlu menempelkan ayat di setiap kalimat promosi. Agama bukan alat pemasaran. Menjadikan dakwah sebagai kendaraan untuk mengejar popularitas bukan hanya sebuah kesembronoan tapi juga sebuah penghinaan terhadap tradisi keilmuan.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!