Ceritanya ikut kelas online sistem pendidikan gitu. Dengan segala drama koneksi, gagap teknologi, dan macamnya, sampailah pada materi pertama, yakni “Pendidikan ala Bank”.

Apaan tuh?

Sebagai kaum millenial ngehek searching-searchinglah, dan ketemu simpulan seperti ini. Pendidikan ala bank yang dimaksud yaitu memaksakan posisi murid sebagai penerima rentetan kata secara pasif, sekaligus menjadikan guru sebagai bintangnya. Di saat seperti itu, murid tidak memiliki pilihan lain, selain harus menjadi pendengar. Mereka dipaksa dan dituntut patuh pada intruksi untuk kemudiaan di waktu tertentu dites kemampuan menyimpan ilmunya.

Mungkin begitulah kiranya, pendidikan pada masa sekarang ini terlalu sibuk menuntut anak terus-menerus belajar untuk capaian tes. Padahal ada yang jauh lebih penting dari sekadar nilai di atas kertas, yaitu nilai kemanfaatannya di masyarakat. Sudahkah bermanfaat? Kan rangking 1 di kelas tidak ada hubungannya dengan membantu masyarakat yang kalaparan.

Seorang tokoh pendidikan asal Amerika Latin, Paolo Freire penggagas pendidikan pembebasan pun mengkritik sistem tersebut. Menurutnya sistem pendidikan ala bank sama sekali tidak layak. Ibarat menabung, peserta didik diberi jangka waktu untuk mengumpulkan semua pengetahuan dan akan ditukar dengan nilai melalui ujian. Sungguh naif dan terburu-buru, jika tingkat keberhasilan pendidikan hanya diukur dengan sebuah nilai. Mengingat keberhasilan pendidikan bukanlah pada nilai tinggi tetapi bagaimana mampu memahami ilmu dan mampu mengimplementasikannya.

Hal ini membuat saya kembali berpikir.

Beberapa tahun belakangan kukira, kelas yang baik adalah kelas yang sepi dan khusyuk mendengarkan guru bercerita. Nyatanya saya selalu bosan jika di kelas, tidak ada murid yang mengintrupsi. Terasa betul betapa keringnya jika kelas tidak saling mengintrupsi. Tidak ada dialog.

Belum lagi banyak pandangan soal didik-mendidik yang selama ini agak menjebak. Bahwa guru yang pintar adalah guru yang serba tahu dan murid yang baik adalah murid yang patuh dan tak banyak bertanya.

Namun, belakangan saya menyadari bahwa itu bukan pola pendidikan yang baik. Bukankah pendidikan sejatinya adalah forum bertukar pikiran dan saling belajar?

Ketika murid tidak tahu ia berhak mencari tahu dengan bertanya pada guru misalnya, begitu sebaliknya ketika guru tidak tahu, guru tak perlu gengsi bertanya pada murid. Sebab untuk hal-hal tertentu murid lebih tahu. Jadi bukan hanya murid yang dituntut belajar, guru juga harus belajar. Bahkan dari muridnya.

Ini mengubah banyak hal dalam benak saya. Jika sebelumnya murid adalah objek yang harus terus-menerus dijejali pengetahuan. Maka saat ini saya percaya bahwa murid itu bukanlah objek, melainkan subjek. Dalam praktiknya kegiatan belajar mesti menjadikan murid sebagai teman untuk bertukar pengetahuan.

Guru yang baik adalah guru yang membebaskan

Buntut dari pemikiran itu adalah… Guru yang baik tentu tidak tega merampas kebebasan muridnya. Tidak asal memerintahkan murid mencatat, menghafal, dan mengulangi setiap kata yang diugkapkan tanpa memikirkan arti yang sebenarnya. Namun, terlebih dahulu harus membuat suatu konsensus atau kesepakatan bersama, agar sama-sama tahu dan suka bahwa ilmu tertentu memang penting dipelajari. Diskusi ringan untuk mencari tahu topik yang dipelajari penting dan tidak penting adalah pilihan bijak. Atau sesekali tawarkan beberapa pilihan, lalu tentukan pilihan tersebut dengan negosiasi dan tentunya pastikan semua pihak tidak dirugikan dan terpaksa.

Pendidikan bukan tentang kepatuhan, tetapi tentang konsensus yang dibangun demi kebutuhan bersama. Alih-alih berkubang dalam metode bercerita atau ceramah saja (mengarahkan murid-murid untuk menghafal secara mekanis) akan lebih baik jika kita mau sedikit kreatif dalam metode dan mengubah orientasi belajar guna mencari solusi dan memecahkan masalah.

Kesadaran ini terhitung baru buat saya. Anda bisa katakan saya ketinggalan zaman atau semacamnya. Tapi inilah yang saya pelajari baru-baru ini…

Pada akhirnya pendidikan adalah fondasi sebuah generasi dengan tradisi dialog. Relasi yang adil dan setara adalah buahnya.

Bukankah belakangan ini, selain keadilan, yang hilang dari kita semua adalah dialog?