

: remy sylado
sudah gaharu cendana pula
gambar masih baru ditiban pula.
kalau kita graffiti
hidup dalam kaleng aerosol
yang menunggu disemprotkan.
mari kita bikin graffiti di situ
tagging saja di atas throw up
yang tidak kita kenal
hingga sampai ada yang bercarut
mencari kita di senyapnya malam
dengan pelbagai kata mewakili kebencian
karena ia akan mengajak kelahi di khatib sulaiman
kau tahu dia sudah tidak punya kerjaan
pemarah pula
kita jadinya buron
walau kita hidup
tanpa aturan.
Kasih ibu,
sepanjang blockbuster
Tak terhingga sepanjang malam
hanya nge-roll,
tak harap ditiban
bagaikan bulan, menyinari dunia.
Ucapan Seorang Kawan
omakku berpesan, jangan sesekali
bikin orang sakit hati karena ucapan.
tapi kita tidak bisa mengontrol
ucapan orang lain terhadap kita.
terkadang bikin sakit hati juga.
aku heran akan itu,
begitu juga dengan ucapanmu.
apalah untungnya bagimu,
jika uangku habis untuk
sekaleng cat aerosol?
apalah untungnya bagimu,
jika aku tak memamerkan
aktivitas perkuliahanku?
apalah untungnya bagimu,
jika aku gagal di sini?
begitulah,
kawan sekampung jika di rantau
sudah seperti orang betul,
padahal di ekornya terdapat
banyak bisul.
di sini aku ingat kampung halaman,
siapa juga yang tak rindu pulang?
apalagi jika di sana
makan tak perlu pusing untuk dipikirkan,
rasa sakit juga ada yang mengobati.
di sini,
hidupku memang mampet
selayaknya caps tanpa aseton:
aku seorang bomber mengumpat
tak jadi menyelesaikan throw up
di rolling door.
kalau ibumu ada,
tiap hari adalah hari ibu
bunga-bunga tak kan
kau biarkan lagi
di tembok-tembok kota.
mata merah bungamu
seperti seorang penggila tuhan
penghisap hasis
di sepertiga malam.
tapi ia bunga yang takkan layu
bunga untuk ibu
kau membuatnya tumbuh liar
satu dua pengendara keheranan,
sedikit demi sedikit
kota ini kau kuasai
lalu pagi datang lebih cepat
dan rindumu sebising klakson
pengendara di lampu merah
sehari rasanya sebentar kini
pagi bangun cepat bersiap-siap
menatap monitor seharian
mata sudah seperti zombie
namun kekasihku tak ketakutan
ku ingat masa senggang,
masa garangku buatnya
kutinggalkan baju zirahku,
& pedatiku di halaman.
di menungku, ombak barat
menggaduh anak kecil
yang berlari di tepian
pantaiku.
mencari anak kepiting
masuk dengan cepat
ke lubang-lubang
persembunyiannya
sehingga aku makin
rindu dengan anggukanku
pada radio si buset
ketika bapak merekamku
diam-diam.
cepat sekali rasanya waktu itu
baru rasanya ku mengela tamiya
tak berdinamo dengan setali rapia
kini ku harus berpikir bagaimana
ku kan hidup keesokan harinya
tanpa ku melihat kehidupan orang-orang
di sosial media,
hinggaku lebih
mengerti tentangku.
balik era Ria Amelia,
hubungiku melalui sms saja.
kau tampak berusaha menghasutku
setiap katamu seperti ajakan bunuh diri
namun batu-batu di kepalaku sedurhaka malin kundang
tak kan terkikis dek ombak barat
& angin kencang sebelum hujan.
aku ini,
cendawan di kayu karet setelah hujan
& mempelam jatuh sebelum masak
yang dilanting seorang anak
sebalik pulang madrasah tepat
di lekuk samping rumahku dulu.
diamlah. jangan ajak aku
ke dalam lubang mu.
aku di sini menyambung hidup
itupun belum tahu,
bisa saja batu-batu di kepalaku
terlewat durhaka
mengamuk nanti ia padaku
kemudian ku tak berdaya.
olehnya.
Mahasiswa akhir Sastra Indonesia di satu universitas swasta di Kota Padang.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!