“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” —Pramoedya Ananta Toer

Di ILC kita melihat bagaimana mansplaining dan maskulinitas elit politik dimainkan seperti sirkus. Rocky Gerung, Adian Napitulu, sampai Sujiwo Tedjo. Orang-orang ini selalu mengomentari semua isu. Para lelaki ini seolah selalu tahu apa yang diperlukan oleh Indonesia dalam setiap masalahnya.

Lalu di mana para perempuan? Ya, ada saja. Tapi tidak banyak.

Mansplaining  adalah gejala paling nyata dari fenomena betapa maskulinnya dunia politik dan intelektual kita. Seolah hal tersebut menguatkan pameo bahwa laki-laki adalah makhluk logis, sementara perempuan adalah emosional. Begitu kokohnya pameo tersebut,  tak heran bagaimana sektor-sektor vital dalam kehidupan bersama kita selalu menjadikan perempuan, seakan-akan seperti yang Pram bilang: hilang dalam masyarakat dan sejarah.

Salah satu ciri intelektualitas adalah kerja menulis. Untuk meng-counter maskulinitas dalam jagad persilatan wacana dalam ilmu pengetahuan dan lainnya,  maka perempuan harus menulis.  Perempuan harus berani mengemukakan gagasannya, menyatakan ketidaksukaan, dan menyuarakan persetujuannya untuk memberikan perluasan dan pemikiran alternatif. Sehingga perempuan bukan lagi hanya sekadar pelengkap dalam dunia intelektual. Seperti gadis pemanis dalam pertunjukan sulap yang berlenggok-lenggok dan digergaji.

Dunia Intelektual idealnya tak hanya dipenuhi kaum lelaki yang kebanyakan memberikan pandangan patriarkis,  perempuan harus turut ada di dalamnya serta menjadi bagian penting yang diperhitungkan keberadaannya, yang kiranya dapat menyeimbangkan keberadaan laki dan perempuan.  Serta yang paling utama menutup segala bentuk mansplaining yang selama ini terjadi sehingga, perempuan  diberikan kesempatan yang sama.

Jangan-jangan selama ini laki-laki memang tidak sadar bahwa mansplaining ini adalah bentuk seksisme?  Atau mungkin memang benar laki-laki selalu merasa paling benar?

Aku pikir sudah cukup perempuan dengan stereotip diam dan mengutamakan  perasaannya. Perempuan  dengan ketidakberdayaan dan labeling “genit” jika ada otak laki-laki yang mesum.

Mulailah. Kita bisa belajar dari keberanian Agni. Semua perempuan musti mulai angkat suara, mulai menulis, karena laki-laki (kita tahu) sudah terlalu cerewet. Dan selalu mengira lebih paham persoalan perempuan dibanding perempuan itu sendiri.

Kita musti sadar ada yang salah ketika penganugerahan nobel selalu jatuh pada laki-laki. Bagaimana mau bicara nobel, di ruang rapat kerja sehari-hari saja kita melihat perempuan hanya duduk diam, sedang laki-laki banyak bicara, bahkan tidak memberikan kesempatan perempuan bicara.

Dalam perkembangan Islam kita mengenal Aisyah yang berperan penting dalam mendidik umat Islam, utamanya generasi muda. Ia mendirikan majelis ilmu untuk kaum Muslimah. Dari Aisyah pula, para sahabat mendapatkan pokok-pokok disiplin ilmu, misalnya ilmu fikih, dan tafsir Alquran. Di tahun-tahun awal peradaban Islam, Aisyah termasuk jajaran intelektual Muslim mula-mula, selain Ali bin Abi Thalib, Abdullah ibn Abbas, dan Abdullah ibn Umar. Ada pula yang mengatakan bahwa Aisyah bagian penting keberhasilan Nabi Muhammad. Dengan demikian perempuan mengisi posisi yang sama pentingnya dengan laki-laki.

Begitupun dalam sejarah Indonesia kita mempunyai R. A. Kartini sebagai perempuan  intelektualitas yang membawa perubahan  pada peradaban dan kemajuan wanita.  Melalui tulisan dan gagasanya pula perempuan  dapat bersekolah. Mencoba  menjadi perempuan  yang diakui keberadaan, di luar urusan kasur,  dapur, dan sumur. Maka berkaca  pada sejarah tersebut  betapa sama   pentingnya keberadaan  perempuan.

Point pentingnya peranan atau bukti Aisyah dan R,.A. Kartini tersebut tidak dimulai begitu  saja, sadar atau tidak mereka memulainya dengan berbicara, menulis untuk lepas dari  tekanan, kejadian atau latar belakang yang selalu didominasi oleh laki-laki.

Bagaimanapun laki-laki dan perempuan sama-sama bertanggungjawab mengisi perkembangan  zaman dan kemajuan kehidupan.