

Setiap kali melihat persimpangan jalan itu, aku teringatkan sesuatu. Di samping Toko Buku AA, terkadang aku masih bisa menghirup aroma gincumu—begitu harum wangi vanila—diikuti sampo, sabun, sampai parfum. Mungkinkah aku masih bisa menemukan aroma yang manis itu?
Di sela-sela panas siang yang menyengat dan malamnya yang gelap. Terkadang aku masih sering menunggu sebuah kabar, atau mungkin hanya sekadar pemberitahuan dari teman, bahwa kamu baik-baik saja tanpa aku.
Tapi apa mungkin kabar-kabar yang datang itu berupa pertanda untukku?
Untukkku datang, menjemputmu. Kita akan pergi lagi ke pinggir Tuparev di malam Senin, Jumat, Sabtu, dan Kamis. Kadang minum kopi ditemani sosis dan tawamu yang tidak akan aku temukan lagi, dalam hari-hariku yang kian menyemu tanpa kehadiranmu.
Sabtu malam sekarang dan aku tidak pernah lagi menunggumu, atau mungkin aku hanya menunggumu dengan metode yang baru. Biasanya sepulang kerja dari pabrik, aku akan langsung menggandeng motorku ke pekarangan rumahmu. Sambil senyum-senyum dengan martabak di tangan, aku akan menyalami orang tuamu sambil senyum tipis, menaruh makanan yang tidak seberapa itu untuk uang kompromi. Sekarang sebaliknya, aku memilih untuk makan Indomie karena mengingat harga rupiah yang kurang waras. Ditemani sebuah laptop dan internet wifi yang jam sembilan malam suka tersendat tanpa sebab, aku menonton film horor bersama selimut dan bantal.
Lalu hari-hari sebelumnya pun akan tidak jauh berbeda dari hari ini, sejenak aku jadi teringat akan sesuatu.
Aku menjeda film, menaruh mangkuk yang berisikan dua mie dan tiga telur, serta mendorong selimutku. Ada yang membuka gerbang rumah, dan entah mengapa aku berharap bahwa itu adalah dirimu. Kuintip sedikit dari sudut jendela, takutnya kamu bisa melihat mataku yang berbinar. Rupanya hanya seorang wanita, yang merupakan ibumu. Sebentar aku menyaksikan percakapan antara ibu dan mantan calon mertuaku. Mereka tampaknya sudah terlalu akrab untuk berpisah, bahkan dahulu biasanya orang tua kami akan berjalan-jalan tanpa kami.
“Nak, keluar. Ada Ibu Reni.” panggilan ibuku seakan mengaktifkan alarm siaga, akan ada dua bom yang jatuh dalam beberapa detik.
Bom pertama akan menghancurkan seisi kabupaten dan bom kedua akan menghancurkan seisi kabupaten juga—bedanya yang ini tanpa bunyi. Kakiku entah mengapa begitu berat untuk berjalan ke luar, seperti sedang dipasung dengan rantai. Pada akhirnya aku tetap berhasil menapakan kakiku ke depan teras, tepat berada di depan ibu dan Ibu Reni. Bom itu semakin dekat, turun melesat bagai meteor.
“Kumaha damang, Dito?” senyum tanpa dosanya itu mengingatkan aku padamu.
Apa mungkin akan ada kesempatan untukku melihatmu sekali lagi?
Ibumu bertanya akan kabarku, dan aku pastinya menjawab baik, atau mungkin alhamdulillah masih hidup.
Katanya kamu akan dipinang minggu depan, maksud dari kedatangannya adalah ingin menyampaikan kabar bahagia ini. Aku sedikit tertegun pada awalnya, namun terlihat biasa saja setelahnya. Sayang sekali pernikahanmu akan dilaksanakan minggu depan di pagi harinya, aku tidak akan sempat untuk melihat wajahmu yang dirias. Ibu Reni tampaknya sangat mengerti betapa beratnya menjadi aku, padahal bisa jadi dia hanya sengaja mengejekku. “Ntosnya, Dito, Abdi bade pamit, bade ngurusan penyewaan katering,” matanya tak lagi tertuju padaku, memang ternyata itu adalah misinya.
*
“Kita putus saja ya, Dit?” kata-kata itu masih membekas di sudut persimpangan jalan, matamu sedikit menggenangkan air asin.
“Kenapa?” tanyaku.
Kamu tidak menjawab.
“Mengapa?” tanyaku.
Kamu masih tetap tidak menjawab. Rasanya seperti tidak ada yang salah di antara kita berdua, kecuali persoalan tentang hutang bapakmu. Bising motor beat yang belum ganti oli dan asap kendaraan yang sesekali menghalau penglihatanku, terus menghunjam jantungku dikesunyian yang menggantung di antara kita.
“Ya, Dit?” pecahmu.
Tentu aku tidak mau, aku tidak akan mau memulai kembali apa yang sudah aku bangun. Aku rasa masih banyak yang bisa kita tempuh, asal bukan putus.
Saat kita berboncengan menuju rumahmu, melalui gemerlap dan gelap kota yang tidak merata, aku memberanikan diri untuk setidaknya bertanya,
“Kalau kita putus, kamu akan jadi sama orang itu?”
Lalu hening kembali. Aku tidak mengerti soal perasaan wanita, tapi yang pasti aku bisa mendengar isak tangismu dari balik punggungku, dan cengkraman tanganmu ke perutku seakan tidak mau lepas, seakan Karawang akan runtuh dan rumahmu tidak lagi bisa menjadi tempatmu untuk pulang. Aku memutuskan untuk menepi ke tukang nasi goreng di pinggiran irigasi, berharap kini emosiku sudah lebih stabil dan siap. Memesan dua piring nasi goreng kambing, yang satu pedas karena kamu suka, dan satunya lagi sedang. Lalu keheningan itu kembali memupuk di antara meja dan gelas beirisi acar timun. Mataku menatap sebuah pohon kersen yang tumbuh di seberang irigasi.
“Kita kawin lari saja, bagaimana?”
Sesampainya di depan rumahmu, aku mencium keningmu dan kita tidak akan kembali lagi ke titik ini. Setelahnya, aku mengendarai motorku sedikit ke arah Johar, berhenti di sebuah warung kopi. Namun aku tidak menepi untuk menebar asap rokok yang sedih kepada pengunjung yang lain.
Aku hanya menumpang untuk parkir, lalu berjalan, melalui jalan yang tidak merata, terus melalui jalan-jalan yang gelap, sampai aku terdampar di tengah alun-alun, merebahkan tubuhku di tengah keriuhan, anak-anak yang berteriak dan sepasang kekasih yang sedang berbagi satu mangkuk bakso, mengingatkan aku akan masa depan yang kita idamkan.
Aku berjalan kembali sampai di Tugu Padi Kertabumi, aku berjongkok di pinggiran rel kereta, menunggu rangkaian besi yang melesat itu untuk mampir, berharap mereka bisa mengisi kekosongan yang aku ciptakan. Setelah puas mengisi kehampaan dengan gesekan rel kereta api, aku kembali berjalan menuju hatinya Karawang, kembali melalui jalan-jalan yang gelap, banyak toko penjaja minuman keras seperti memanggilku. Aku terhenti di depan gedung-gedung pemerintahan, kakiku sudah lelah, namun hatiku masih belum puas, dengan terseok-seok aku menyeret kakiku kembali menuju Johar.
“Kopi hiji, Pak.” Pintaku ke tukang warung kopi yang bingung, melihat bajuku sudah basah kuyup di tengah Karawang yang kering kerontang. Segelas kopi tersaji di depanku, asapnya mengebul naik merangsang bagian otakku yang tak sadarkan diri, membuat aku menumpahkan semua perasaan yang sudah aku coba untuk terus tampung sepanjang perjalanan. Pada akhirnya aku kembali mengendarai motorku sepanjang malam, sampai matahari menjulang, aku terbangun di sebuah padang rumput, jauh dari keramaian. Dilihat dari mataharinya, sekarang mungkin sudah pukul sepuluh pagi. Aku segera mengendarai motorku menuju rumah, dengan kondisi bau asam dan mata bengap karena menangis semalaman.
“Saya nikahkan …”
“Sah?”
“Tidak!”
Gedubrak! Gedubrak! Bruk! Blar!
“Pegang tangannya pak!”
“Dito, sadar! Istigfar!”
“…”
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!