

Angin malam menyusup melalui celah jendela kamar hotel bernomor 011. Tirai putih bergoyang pelan, menari bersama cahaya lampu kota yang redup. Di dalam kamar itu, dua insan tenggelam dalam kehangatan yang canggung.
“Maaf, Fatih.” suaranya sangat lirih.
“Kita … sepertinya tidak bisa melanjutkan ini.” Fatih terkejut.
“Aku gak salah dengar, kan?” Ia duduk tegak, wajahnya memerah.
“Apa kamu belum puas denganku? Semua sudah aku berikan malam ini. Kalau hubungan kita sudah sampai sejauh ini, berarti aku benar-benar sayang sama kamu, Zahra!”
Zahra menunduk. Air mata mulai mengalir di pipinya. Namun ia tidak mengatakan apa pun. Ia berdiri, mengambil tasnya, lalu bergegas keluar kamar. Fatih hanya terpaku melihatnya pergi. Di luar hotel, udara malam terasa menusuk. Zahra menaiki ojek online yang sudah ia pesan.
“Lebih cepat ya, Mas. Di rumah ada yang menunggu,” pintanya dengan suara lelah. Motor melaju membelah jalanan malam. Lampu-lampu jalan melintas seperti garis cahaya yang tak berujung. Sepanjang perjalanan, Zahra hanya diam. Matanya basah.Pikirannya dipenuhi satu wajah. Dinda putri kecilnya.
Satu jam kemudian Zahra tiba di rumah kecilnya di ujung desa. Tok… tok… Pintu terbuka. Seorang gadis kecil langsung memeluknya.
“Ibuuuu! Kenapa lama sekali?” Zahra tersenyum sambil menahan tangis.
“Maafkan ibu, Dinda.”
“Dinda lapar, Bu.”
“Ayo makan. Ibu sudah bawakan makanan.” Dari dalam kamar, seorang wanita tua memanggil pelan.
“Zahra … kamu pulang?”
“Iya, Bu.”
Wanita tua itu adalah ibunya. Sudah lama sakit dan tidak mampu bekerja. Sejak dua tahun lalu, sejak suaminya meninggal, Zahra harus menjadi segalanya bagi keluarganya.
Malam semakin larut. Jam menunjukkan pukul 00.05. Dinda sudah tertidur di sampingnya. Namun Zahra belum bisa memejamkan mata. Ia menatap langit-langit kamar dengan mata merah.
“Tuhan …” Air matanya mengalir.
“Haruskah aku terus hidup seperti ini?” Ia menoleh kepada Dinda yang tertidur pulas.
“Bagaimana kalau suatu hari dia tahu siapa ibunya sebenarnya?” Zahra memeluk anaknya erat. Tangisnya pecah dalam diam.
Di tempat lain, Fatih duduk bersama temannya, Fandi.
“Bro, lu tahu cewek yang kemarin sama lu?” Fatih tersenyum.
“Zahra? Tentu saja.” Fandi menatapnya serius.
“Lu tahu dia kerja apa?” Fatih mengernyit.
“Apa maksud lu?” Fandi menghela napas.
“Zahra itu pekerja malam.” Wajah Fatih langsung berubah.
“Jaga mulut lu!”
“Gue serius.” Fandi menepuk bahunya.
“Coba cari tahu kenapa dia hidup seperti itu.”
Malam berikutnya Fatih kembali ke hotel.
Ia berdiri di lobi. Beberapa saat kemudian Zahra muncul. Namun kali ini ia bersama seorang pria lain. Pria itu merangkul bahunya. Dada Fatih terasa diremas.
“Zahra!”
Zahra berhenti. Wajahnya pucat ketika melihat Fatih.
“Fatih …”
Pria yang bersamanya masuk lebih dulu ke dalam hotel. Kini hanya mereka berdua yang berdiri di halaman.
“Jadi benar kata temanku?” kata Fatih dingin. Zahra tidak menjawab.
“Kamu memang seperti ini?” Air mata mengalir di wajah Zahra.
“Aku memang bukan wanita baik-baik, Fatih.”
“Tapi aku juga bukan wanita yang kamu pikirkan.” Fatih terdiam.
“Aku punya anak.” Fatih terkejut.
“Dan ibuku sakit.”
“Aku harus memberi mereka makan.” Air matanya jatuh satu per satu.
“Kalau aku berhenti bekerja mereka tidak akan makan.”
Fatih tidak bisa berkata apa-apa. Zahra menatapnya untuk terakhir kali.
“Sekali saja aku berharap bisa dicintai seperti wanita biasa.”
*
Pagi harinya Fatih mencari rumah Zahra. Rumah kecil itu berdiri di ujung desa. Ia mengetuk pintu.
Tok. Tok.
Seorang gadis kecil membuka pintu.
“Iya Om?” Fatih terpaku. Wajah anak itu sangat mirip Zahra.
“Ini rumah Zahra?”
“Iya. Itu ibu aku.” Fatih menelan ludah.
“Ibumu ada?”
“Belum pulang.”
Seorang wanita tua keluar dari kamar.
“Masuklah.”
Di ruang tamu kecil itu wanita tua itu menyerahkan sebuah amplop kepada Fatih.
“Ini untukmu.”
Fatih membuka amplop itu. Di dalamnya ada sebuah surat. Ia mulai membaca.
“Fatih…”
“Maaf aku pergi begitu saja tadi malam.”
“Untuk pertama kalinya aku merasa diperlakukan seperti perempuan yang berharga.” Air mata Fatih mulai jatuh.
“Aku tidak pernah memilih hidup seperti ini.”
“Aku hanya tidak punya pilihan lain.”
Tulisan itu semakin goyah.
“Kalau suatu hari kamu membaca surat ini …”
“Mungkin aku sudah tidak ada.” tangan Fatih gemetar.
“Uang di amplop itu untuk anakku. Namanya Dinda.” Air matanya jatuh di atas kertas. Tulisan terakhir Zahra tampak bergetar.
“Kalau suatu hari dia bertanya tentang ibunya, tolong bilang padanya. Ibunya bukan perempuan jahat. Ibunya hanya seorang ibu yang terlalu takut melihat anaknya kelaparan.”
Surat itu jatuh dari tangan Fatih. Wanita tua itu berkata pelan.
“Zahra kecelakaan malam itu.”
Fatih membeku.
“Dia tidak tertolong.”
Dunia Fatih terasa runtuh Dinda menatap mereka dengan wajah polos.
“Ibu kapan pulang, Nek?”
Wanita tua itu memeluk cucunya erat. Namun Fatih tidak mampu melihat mereka. Ia hanya menunduk dengan surat Zahra di tangannya. Penyesalan itu datang terlalu terlambat, karena wanita yang semalam ia hina sebenarnya hanya seorang ibu yang sedang berjuang melawan kelaparan, dan di rumah kecil itu, seorang anak kecil masih menunggu ibunya pulang. Tanpa pernah tahu bahwa ibunya telah pergi selamanya.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!