—Catatan dari rangkaian AKS (Aku Kembali ke Sekolah), program yang dirintis oleh Semesta Literasi dan sahutan atas tulisan Kania Tresna Palupi “Komunitas Sastra Kampus; Wadah Pajangan?”

Semesta Literasi dibangun dari semangat bermain-main. Dari detik pertama setelah deklarasi di malam puisi Napas untuk Riau bertahun lalu, Semesta Literasi ada pada posisi paling teduh dari riuh rendah ambisi manusia. Budi Dharma kira-kira pernah bilang begini: kita hidup di dunia di mana orang-orang banyak bicara sekaligus ingin didengar. Itu yang menjadikan dunia jadi berisik. Kami setuju.

Saya awali tulisan ini dari situ. Semesta Literasi hanya lingkaran berisi pembaca amatir. Saya masih ingat, Arie Fajar, penulis kondang asli Karawang yang sukses menelurkan dua buku dari penerbit mayor, dan kelihatannya mendukung Jokowi dua periode lagi, mewanti-wanti, agar kami berhati-hati menggunakan kata “sastra” di komunitas yang bakal kami bentuk. Sastra terlalu berat. Betul. Cukup literasi. Akhirnya jadilah Semesta Literasi. Bukan Semesta Sastra.

Kami sadar sepenuhnya berkomunitas di Semesta toh bukan dalam rangka membantu program pemerintah meningkatkan minat baca sambil sesekali memberi kritik. Minat baca bukan urusan kami. GMNI, tempat lain saya berorganisasi; dan HMI, tempat Adis Pudjiastuti berorganisasi; sudah melakukan hal itu. Kalau mau orasi dan kritik, masing-masing dari kami sudah punya penyaluran sendiri-sendiri. Tidak perlu lewat Semesta Literasi.

Di Semesta, aturannya selalu sederhana: kamu suka baca, kamu boleh masuk. Persetan apakah kamu mendukung Prabowo, LGBT, suka makan anjing dengan sayur kol, penggemar Super Junior, dan sebagainya. Selama suka baca, kamu boleh masuk.

Oh ya, berhubung saya sedang rajin, bersama tulisan ini, saya mau mengomentari tulisan Kak Kania Tresna Palupi. Terjun ke dunia baca tulis memang merepotkan. Apa yang bisa diharapkan dari dunia sunyi ini selain kelak bakal bertemu dengan Sang Penyair Hati Berdarah Rizki Andika, dan Penyair Penanam Luka Ilham Moulana?

Misalkan saja saya sedikit ahli mengolah bola di lapangan, saya lebih memilih main futsal bareng kawan-kawan ketimbang aktif di dunia tulis menulis dan bertemu dua penyair Karawang ini. Jadi pembaca saja sudah sangat merepotkan, apalagi memutuskan jadi penulis. Harga buku di Gramedia semakin hari semakin tidak masuk akal. Tolong dicatat ya Neng Mayang! Padahal menulis adalah membaca dua kali.

Aan Mansyur bilang, di Indonesia, biaya yang dikeluarkan untuk membaca buku kadang lebih besar dari royalti hasil menulis buku. Itu sebabnya, Kak Kania, orang-orang malas aktif berkomunitas. Apalagi komunitas sastra. Biarkan saja. Jangan banyak berharap. Kalau kebetulan sedang ada di Karawang, nanti saya kenalkan ke Kak Yuda Febrian Silitonga. Soal petuah jangan banyak berharap kalau tak mau terluka, beliau ahlinya.

Kita perlu akui, hal bodoh lebih gampang menular, sementara hal-hal baik tidak bisa menyelamatkan kita dari kelaparan.

Terus berproses Kak, setidaknya buat diri sendiri. Neng Mayang, ketua kami yang merepotkan itu, dulu memulai segalanya dari nol. Di Semesta Literasi, dia hampir melakukan semua pekerjaan. Dari membuat poster, menghubungi orang-orang, bekerja keras demi bisa mentraktir saya tiap akhir bulan, dan hal-hal merepotkan lainnya. Sekarang lihat, dia sudah jadi orang nomor dua di Gramedia Karawang. Meski tidak bisa membantu saya mendapatkan buku-buku bagus dengan harga murah. Saya sendiri, hampir satu tahun dipercaya sebagai pustakawan di Galuh Mas. Itu lho, kawasan komersial terbesar se-Karawang. Riski Andika, dulu tidak dikenal siapa-siapa. Sekarang, setelah banyak baca plus belajar menanak luka, wajah puisi penyair muda Karawang ada di tulisan-tulisannya.

Balik lagi ya. Saya orang yang pertama kali menentang program Aku Kembali ke Sekolah. Tahun 2016, beberapa minggu sebelum musim hujan. Beberapa mengamini saya. Sebagian dari kami sepakat, AKS itu merepotkan. Lagipula sudah ada Kelas Inspirasi. Buat apa toh kita repot-repot membuat program sejenis? Perkara meningkatkan minat baca dan belajar di usia sekolah dasar bukan urusan kami.

Mayang menyakinkan kami. Dia bilang, ini beda bang. AKS dibuat bukan untuk anak SD. Tapi untuk relawan. Semangatnya bukan “mengajari” anak-anak pelajaran bla-bla-bla. Sebaliknya, relawan yang “belajar” dari anak-anak. Saya tetap tidak yakin. Lagipula, saya kurang suka anak-anak. Alangkah manusiawi untuk tidak suka pada hal-hal di atas kita. Ketidaksukaan yang menjurus pada iri. Iri pada kepolosan, semangat mencari tahu, dan hidup tanpa beban mereka. Mereka, kamu tahu, seperti filsuf yang digambarkan Jostein Gaarder di Dunia Sophie.

Mayang lalu bilang, siapa tahu AKS ini jadi obat pencegah anak-anak muda seperti kita dari bunuh diri?

Oke, apa salahnya menunda bunuh diri. Dengan berat hati, usul Mayang kami terima. Lalu dimulailah hari-hari paling merepotkan dalam hidup kami. Perekrutan relawan, survei ke sekolah-sekolah yang bahkan pemerintah belum memikirkan bakal membangun jalan ke sana, bangun subuh, jualan kaos dan jam tangan, dan sebagainya dan sebagainya.

2016, siapa yang tahu Semesta Literasi? Tidak ada. Hal-hal semacam itu justru saya syukuri. Tidak terkenal berarti tidak ada pihak yang menitipkan harapan besar pada gerakan kami. Sialnya, banyak relawan mendaftar. Kami sampai harus membuat gathering di tempat agak luas agar semua orang bisa tertampung.

AKS pertama di tahun lalu berjalan lancar. Kecuali akses jalan dan kemacetan lalu lintas. Kalau kamu jomblo, jangan pernah pacaran dengan pemerintah. Mereka hanya memberi janji, sekaligus tidak lihai membahagiakan warganya. Jalan saja tidak diperhatikan, apalagi kamu~

Singkat cerita, AKS berakhir. Seru dan mengharukan. Tapi dua hal itu tidak bakal saya bahas di tulisan ini. Terlalu klise dan naif. Tidak cocok dibaca pembaca Nyimpang yang progresif, jomblo, dan revolusioner.

Pada pertengahan 2018, Mayang dan Dwi Si Ikan Sotong menyimpan niat jahat. Mereka mau membuat AKS lagi. Terbayang di benak saya, repotnya cari uang, memupuk ketabahan menghadapi relawan, survei, dan lain-lain dan lain-lain. Saya spontan bertanya, memangnya siapa yang mau garap? Organisasi Freemason?

Konsensus didapat. AKS tahun 2018 bakal melibatkan komunitas-komunitas lain. Ada pembagian kerja di sana. Saya setuju. Saya sudah terlalu banyak merepotkan diri di komunitas teater dan organisasi lain, saya hanya ingin bersenang-senang di Semesta Literasi. Bertemu kawan-kawan aneh.

Kini menggarap AKS berarti terjun ke sumur berkedalaman 500 meter, lalu merangkak naik dengan mata tertutup. Merepotkan. Sebab Semesta Literasi ternyata sudah terlanjur lekat dengan AKS. Banyak yang berharap AKS bisa menyelesaikan sedikit persoalan pendidikan, membuka mata hati pemerintah untuk menengok sekolah-sekolah yang belum tersentuh pembangunan, menyampaikan kritik pendidikan, bisa memberi solusi, meningkatkan minat baca, AKS bisa membawa relawan masuk surga, bla-bla-bla-bla. Sesungguhnya, my love, kami percaya perkara-perkara itu bukan urusan Semesta Literasi.

Dari awal, kami tidak mau membawa beban seberat itu. Dari awal, AKS dibuat untuk bersenang-senang. Untuk bersenang-senang, kita perlu rendah hati. Kita perlu membuka. Perlu belajar menerima. Semakin ikhlas, semakin mudah semangat anak-anak sebagai sang mahaguru, merasuk dalam diri kita.

Intinya, teh Kania. Semangat membangun komunitas kami adalah bersenang-senang. Mungkin teh Kania dan teman-teman bisa mencontek semangat Semesta Litearsi. Tapi apalah kami ini dibanding Pustakaki? Dari perpus jalanan ke nyimpang.com yang militan dan progresif, dan sekarang ke penerbitan Pustakaki Press. Kami curiga, jangan-jangan selama ini mereka disokong oleh Freemason. Ideologi da cita-cita mereka? Jangan tanya. The New World Order tentu saja.

Profil Penulis

Faizol Yuhri
Faizol Yuhri
Tinggal di Karawang. Sarjana komputer yang suka teater, literasi, dan puisi.
Kelak di hari akhir, sambil menunggu hitung-hitungan amal, orang-orang baik akan makan Indomie goreng dengan tangan kanan.