Kamar Tidur

BABAK 1

(Tiga lampu putih masuk menyorot sisi tengah, kanan belakang panggung, dan tengah atas. Redup. Sisi tengah : ranjang besar tegak dengan posisi vertikal lengkap dengan bantal gulingnya, di sisi atasnya terdapat 4 sakelar, Zawzaw & Ciwawa tidur di atasnya berselimut. Sisi kanan belakang : ranjang kecil dengan posisi sama, di atasnya Mwak terbangun lalu memotong kuku. Sisi tengah atas : jam dinding besar menunjukkan pukul 3 dini hari. Semua lampu padam, menyala lagi hanya sisi tengah, dari bagian gelapnya tangan hitam muncul dari samping Ciwawa menyibak selimut menariknya. Lampu tengah dan kanan belakang mati. Jarum jam berputar cepat hingga berhenti di pukul 6 pagi. Suara dentingan. Lampu tengah menyala kuning redup, Zawzaw tersilaukan dan bangun).

  1. Zawzaw : (mengedarkan pandangan, sadar Ciwawa tidak ada). Ciwawa? Ci… Kemana? (Menyalakan sakelar 1, lampu kanan belakang menyala kuning redup, Mwak tidur di atas ranjang kecil. Zawzaw bangkit dari ranjang). Mwak… Bangun, Mwak. (Mwak bangun).
  2. Mwak : Hm?
  3. Zawzaw : Ciwawa ada?
  4. Mwak : Hm. (Menggelengkan kepala).
  5. Zawzaw : Bangun, Mwak. Cari Ciwawa, aku bangun dia sudah tidak ada.
  6. Mwak : Hm. (Bangkit dari ranjang, mengambil botol minum dari saku, habis isinya). Air, Zawzaw.
  7. Zawzaw : (mengambil botol minum dari saku, melempar ke Mwak). Kalau sampai petang dia tidak datang, siapa yang akan menyanyi di pesta ulang tahun Raja Wawawi nanti.
  8. Mwak : Hm. Dia tinggalkan sesuatu?
  9. Zawzaw : (menghampiri ranjang) Tidak.
  10. Mwak : (berjalan ke sisi tengah, mengembalikan botol minum Zawzaw, mematikan sakelar 1, lampu kuning kanan belakang mati). Harusnya ada, (menggeledah ranjang).
  11. Zawzaw : Oh! (Jeda) Semalam aku memimpikan ini, dia ada di kamar Aswa. (Mwak menyalakan sakelar 2. Lampu kuning menyorot kiri belakang, Aswa berbaring di lantai dengan kaki lurus ke atas disangga ranjang sambil membaca buku).
  12. Zawzaw : Aswa, kau tidak tidur. Ada Ciwawa?
  13. Aswa : (menoleh) Sempat. Tadi bilangnya mau beli kopi, kau tidak bisa dibangunkan.
  14. Zawzaw : Pukul berapa?
  15. Aswa : 11 malam.
  16. Zawzaw : Mustahil. Gerai-gerai sudah tutup.
  17. Mwak : Dan Ciwawa tidak pernah minum atau suka kopi.
  18. Aswa : Menurut bukuku gerai Madura buka 24 jam. Menurut bukuku juga, Lidya Natalia, coffe master di kantor pusat Starbucks Indonesia awalnya tidak pernah minum dan bukan pecinta kopi hingga dia iseng mencoba kopi Sumatra karena penasaran.
  19. Zawzaw : Oh! Dulu waktu SMA teman belakang bangkuku menceritakan mimpinya. Dia bertemu kakeknya yang sepanjang ia hidup sering minum kopi, kakeknya juga berawal dari penasaran.
  20. Mwak : Kau punya nomor gerai Madura, Zawzaw? (Mengambil telepon di ranjang).
  21. Aswa : Di buku ini ada.
  22. Mwak : Bacakan. (Aswa membaca nomor. Kemudian telepon berdering, tidak ada sahutan). Tidak dijawab.
  23. Zawzaw : Sedang ke kamar mandi barangkali si empunya.
  24. Mwak : Hm.
  25. Aswa : 08…
  26. Mwak : Apa itu?
  27. Aswa : Nomor gerai Madura lain.
  28. Zawzaw : (merebut telepon dari Mwak) Biar aku, (Aswa membaca nomor, Mwak kembali menggeledah ranjang).
  29. Mwak : Hm. Kalian berdua! (Mengambil kertas dari balik bantal, Zawzaw lekas merebutnya). Ada apa denganmu, Zaw? Kau apakan Ciwawa?
  30. Zawzaw : Tidak kuapa-apakan.
  31. Mwak : (tenang) Ciwawa pergi, Zaw. Dan seperti yang kau katakan kita tidak akan tampil di pesta Raja Awi malam nanti jika ia tidak kembali. Bacakan surat itu, Zaw.
  32. Zawzaw : Ini bukan surat, ini bukan tulisan Ciwawa, ini bukan…
  33. Mwak : Beritahu aku apa itu.
  34. Zawzaw : Tidak kuapa-apakan Ciwawa, Mwak.
  35. Mwak : (merebut kertas, melihat isinya) Ini siapa, Zaw…?
  36. Zawzaw : Bukan foto siapa-siapa.
  37. Mwak : Kau… menyimpan foto-foto seperti ini?
  38. Aswa : (bangkit dari ranjang) foto apa?
  39. Mwak : (melempar kertas ke Aswa) Untuk apa, Zaw…?
  40. Aswa : (melihat kertas) Menurut bukuku… (Membuka buku). Orang-orang di foto ini adalah… Mia khalifa… Sweetie Fox… Msbreew… Dan mereka adalah aktris. Zawzaw melihat foto aktris.
  41. Mwak : Ciwawa sepertinya cemburu, Zaw. Sakit hati dia.
  42. Aswa : Menurut bukuku sakit hati hanyalah ungkapan, yang sebenarnya terjadi adalah reaksi fikiran & perasaan terhadap sesuatu yang tidak sesuai kehendak diri. Dan cara menyembuhkannya adal…
  43. Mwak : Kapan terakhir kau dan Ciwawa mengobrol?
  44. Zawzaw : Tadi.
  45. Mwak : Hm. Apa kata dia?
  46. Zawzaw : Aku tidak ingat, itu di mimpi.
  47. Mwak : Zaw…
  48. Aswa : Bukuku menyebutkan mimpi itu keadaan tidak sadar berupa bunga tidur yang timbul akibat benda, atau aktivitas, atau perasaan dan fikiran yang dilihat, diraba, didengar secara sadar sebelumnya.

(Jeda)

  1. Mwak : Cukup?
  2. Aswa : Ya, Mwak? Apanya yang cukup?
  3. Mwak : Omong kosong kalian! Sudah cukup?! Sudah atau belum?!
  4. Aswa : Apa maksudmu omong kosong? Aku menyampaikan apa yang ada di bukuku.
  5. Mwak : Apalagi kalau bukan omong kosong? Teori dipelajari untuk dibuang.
  6. Aswa : Bukan seperti itu, Mwak. Tamatkan dulu sekolah dasarmu itu, baru bicara.
  7. Mwak : Hm. Apa gunanya kutamatkan sekolah bila ketika sudah tamat bicaraku akan sepertimu.
  8. Aswa : Seperti?
  9. Mwak : Mu.
  10. Aswa : Ya, teruskan. Sepertiku yang?
  11. Mwak : Anjing. Persetan sarjana. (Mengambil rokok dari saku dan menyulutnya).
  12. Aswa : Hey! (Mendekati Mwak, dicegah oleh Zawzaw)
  13. Zawzaw : Tunggu, Wa. Biar kuurus. (Ke Mwak) Kenapa kau keras kepala sekali?
  14. Aswa : Jangan ikut campur! Jangan halangi aku, dia kurang ajar, susah payah aku…
  15. Zawzaw : Tunggu, Wa. Kau akan kalah dengannya.
  16. Aswa : Kau juga, tamatkan SMA mu baru cegah aku. Dasar, pendek akal! Minggir!
  17. Zawzaw : Wa, diam!
  18. Mwak : (berteriak) Hey… Mau sampai kapan? Jangan berputar dalam labirin teorimu, Wa. Masalah tidak akan selesai dengan menyantapnya. Berikan aksi.
  19. Aswa : Banyak omong… (Menghampiri Mwak, dicegah Zawzaw lagi).
  20. Mwak : Kau juga, Zaw. Hm. Mimpimu, mimpi teman SMA mu. Daritadi mimpi, mimpi, mimpi. (Menampar Zawzaw) Sakit, bukan? Ini bukan mimpi, Zaw.
  21. Zawzaw : (menampar Mwak) Kenapa kau keras kepala sekali? Memang kau bisa apa?
  22. Mwak : Setidaknya aku tidak tunduk pada bab kemaluan dan tidak menyimpan foto-foto aktris di bawah bantal. Toh aku memberikan kemungkinan yang masuk akal.
  23. Zawzaw : Tepat sekali! Kau hanya bisa berspekulasi, tidak lebih tidak kurang!
  24. Mwak : Tapi aku tahu cara menghargai wanita apalagi istri sendiri, Zaw.
  25. Aswa : Darimana menghargai wanita?! Melawan saja terus, membela saja terus.
  26. Mwak : Aku tidak mengajakmu, sarjana anjing. (Aswa menangis).
  27. Zawzaw : Jangan kasar ke wanita, Mwak! Lalu apa yang kau pahami tentang menghargai, hah?!
  28. Mwak : Diam kau, mesum!
  29. Aswa : Jangan kelewatan, Mwak! (Mendorong Mwak hingga jatuh).
  30. Mwak : Anjing! Kau kuliah karena dulu bapak lebih sayang kau! Kau bungsu sialan! Dan kau, sulung bajingan! Teruslah mesum seperti lelaki tua itu, tapi jangan membuang muka ketika menjadi seperti ini. Ciwawa tidak akan pulang!

(Jeda)

  1. Zawzaw : (ke Aswa) Apa yang kau katakan tadi?
  2. Aswa : (masih menangis) Jangan tanya apapun sekarang.
  3. Zawzaw : Bukan, tadi sebelumnya. Soal kopi, dia mengatakan hal lain?
  4. Aswa : (mengusap air mata) Tidak. (Jeda) Beberapa kali dia terbatuk, dari kapan ia sakit?
  5. Zawzaw : Dia baik sebelum aku tidur.
  6. Aswa : Artinya ia pura-pura?
  7. Zawzaw : Pura-pura. Dan bukan tanpa alasan. Kalau dia pergi ngop…
  8. Mwak : Tapi…
  9. Zawzaw : Berhenti. Matahari sudah tinggi, jangan beralih fokus.
  10. Mwak : Tapi aku terbangun pukul 3, dari kamarmu dengkur Ciwawa masih ada. Dia beranjak pukul 3 lebih setelah aku kembali tidur. Dan bukan untuk minum kopi.
  11. Zawzaw : Spekulasi lagi.
  12. Aswa : Tapi bisa jadi pertimbangan. (Berjalan ke ranjang menyalakan sakelar tiga, lampu menyala meyorot satu ruang di samping kanan sisi tengah dimana sepatu Ciwawa tergeletak, hanya satu. Aswa terkejut) Zawzaw! Mwak! (Zawzaw & Mwak mendekat).
  13. Zawzaw : Sesuatu telah terjadi, (mengambil sepatu) bukan sebuah kesengajaan sebuah sepatu tertinggal satu. (Jeda. Telepon berdering, Zawzaw meletakkan sepatu dan mengangkatnya. Dari pemilik gerai Madura). Oiya, ada perempuan di geraimu? Rambut pendeknya dicat hijau. Dia bilang ingin minum kopi.
  14. Mwak : (mencium sepatu) Zaw, kemari! Aku merubah pendapatku, ada bau kopi disini.
  15. Zawzaw : (mendekat, ikut mencium sepatu) Kau tidak jual kopi?! Ck, mana yang jual kopi kalau gerai Madura tidak? (Jeda) Raja Wawawi?! (menutup telpon, menyalakan sakelar 4, lampu menyala menyorot ruang di samping kanan lampu 3. Nampak pintu). Kita ke istana! (Zawzaw keluar pintu, Mwak mengikuti. Aswa mengambil buku di kamarnya, mematikan semua sakelar, lampu mati seluruhnya, keluar).

 

BABAK 2

(Lampu menyala memenuhi panggung, menampakkan sisi depan istana. Zawzaw dan Mwak masuk).

  1. Zawzaw : (menggedor gerbang istana) Raja! Kami ingin bertemu Raja!
  2. Mwak : Dimana penjaganya?
  3. Zawzaw : Izinkan kami bertemu Raja! Siapapun di balik gerbang ini tolong buka!
  4. Aswa : (masuk terengah) Penjaga datang! Penjaga datang!
  5. Mwak : Mana?
  6. Zawzaw : Ya, mana mereka?! Suruh menghadapku!
  7. Aswa : Disana! Sudah sampai persimpangan! Aku tidak berani, pedang mereka mengilap.

(Dua penjaga masuk, Aswa bersembunyi di balik Zawzaw).

  1. Zawzaw : Kami ingin bertemu Raja!
  2. Penjaga 1 : Lhoooo, jangan sembarangan. Kami ini penjaga, bukan Raja. Kalau hendak bertemu Raja, ya izin ke Raja. Kok ke kami, kami kan penjaga.
  3. Zawzaw : Bagaimana cara izin ke Raja?
  4. Penjaga 1 : Lhoooo, itu urusan kalian. Kami penjaga kok.
  5. Mwak : Lalu apa tugas kalian?! Apa tugas penjaga?!
  6. Penjaga 2 : Lhaaaaa, ini! Jangan sembarangan, kami penjaga. Tugas kami ya menjaga, bukan dimintai izin.
  7. Mwak : Biarkan kami masuk (hendak mendobrak pintu).
  8. Penjaga 2 : (menghadang Mwak dengan pedang) Langkahi dulu pedangku!
  9. Mwak : Apa-apaan?! Apa maksud kalian sebenarnya?! Apa mau kalian?! Kami sudah minta izin, kalian jawabi. Kami melangkah masuk tanpa izin, kalian hadang. Kami harus apa?
  10. Zawzaw : Kami perlu bertemu raja untuk menanyakan keberadaan istriku yang tidak berada di ranjang begitu aku bangun. Sepatu kirinya yang tertinggal meninggalkan bau kopi, gerai Madura tidak menjualnya, dan satu-satunya yang punya kopi ialah Raja. Maka dari itu, sil…
  11. Penjaga 1 : Kami tidak peduli dengan semua itu, kami hanya penjaga, bukan pendengar. Kami menjaga gerbang ini, hidup dan mati, tidak mendengarkan.
  12. Mwak : Letakkan pedang kalian, bertarunglah layaknya laki-laki.
  13. Penjaga 2 : Kami penjaga, tidak peduli kami perempuan, laki-laki, atau banci. Penjaga tetap penjaga, berpedang di tangan kanan. (Mengacungkan pedang).
  14. Mwak : (merangsek maju) Arghhh, begundal sapi! (Memukul rahang penjaga 2, jatuh dan pedangnya terpelanting, Mwak mengambilnya, ganti mengacungkan).
  15. Penjaga 1 : (balas mengacungkan) Sekarang kau bisa apa?! Hah?! Begundal jaran!
  16. Zawzaw : (merangsek maju mengunci leher penjaga 1) Kau melupakan aku, begundal kadal! Kadal sumbing!
  17. Aswa : K-k-kalian, (menghela nafas) kalian sedang apa? Terserah begundal apa kalian. Tapi ingat, disini kita untuk apa. Zawzaw, Mwak, ingat, disini kita demi Ciwawa.
  18. Penjaga 1 & penjaga 2 : Ohhh, Ciwawaaa!
  19. Penjaga 1 : (menurunkan pedang) Turunkan pedangmu… Siapa namamu tadi?
  20. Zawzaw : Zawzaw.
  21. Penjaga 1 : Ya, Zawzaw. Turunkan pedangmu, kita bukan musuh. (Ke penjaga 2) Mana kuncinya? Kau yang bawa. (Penjaga 2 memberikan kunci) Sudah, Zaw. Turunkan pedangmu. (Berjalan ke gerbang, membuka gembok) Huft, hilang sudah makan siangku.
  22. Mwak : Jangan terlalu mudah percaya, Zaw. Bukan tidak mungkin di balik gerbanh ini ada jebakan. Pun darimana mereka tahu Ciwawa hingga ketika Aswa menyebut namanya sontak seolah-olah langsung mengerti.
  23. Aswa : Mwak, sudah cukup kau menghambat semua yang seharusnya berjalan lancar dan baik saja dengan spekulasi burukmu itu.
  24. Mwak : Sudah cukup pula kau kelihatan sok pintar. Aku tidak menghambat, aku mencegah sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Ketidakpastian hidup di kanan-kiri kita. (Kepada Zawzaw) Setuju, Zaw? Kau merasakannya bukan?
  25. Zawzaw : Wa, maafkan aku, tapi Mwak benar dengan ucapannya. (Ke penjaga 1&2) Darimana kalian tahu tentang Ciwawa?
  26. Penjaga 1 : Lhoooo, kami ini penjaga, dan yang kami jaga adalah amanah Raja. Selebihnya saya hanya sarapan, makan siang, makan malam.
  27. Zawzaw : Tolong berhenti mengatakan hal seperti itu lagi kalau memang kalian benar bukan musuh.
  28. Penjaga 2 : Lhaaaa, kalau kalian musuh kami sudah kami babat sejak tadi,Raja memberi amanah kami untuk tidak membabat siapapun yang datang di depan gerbang ini karena petang nanti akan ada pesta dan izinkan mereka yang menyebut nama Ciwawa masuk. Kami bisa saja melanggar amanah Raja dengan pedang di tangan kami.
  29. Penjaga 1 : Dan Raja tetaplah Raja. Ketika ia ingin makan nasi jagung, ia akan makan nasi jagung. Ketika ia ingin kami menjaga amanahnya, kami akan menjaga amanahnya. Silakan kalian mau masuk atau tidak, tidak bisa kami benarkan atau kami salahkan apakah disana ada ranjau atau racun atau jebakan apapun itu karena kami tidak tahu. Raja tidak memberi amanah untuk mengetahui hal itu.
  30. Zawzaw : Mwak, Aswa, mereka telah menjelaskan. Ayo masuk.
  31. Mwak : Kalian berdua saja, aku tidak.
  32. Aswa : Aku juga tidak.
  33. Mwak : Tadi kau yang mendesak Zawzaw masuk, giliran sekarang malah diam.
  34. Aswa : Aku tidak mau berdebat. Masuk, Zaw. Doaku menyertaimu.
  35. Zawzaw : Baiklah jika keputusan kalian sudah bulat.

(Zawzaw masuk ke gerbang, lampu padam)

 

BABAK 3

(Lampu menyala. Redup menyorot sisi tengah menampakkan gerbang yang telah dibuka dengan Zawzaw yang sudah masuk, ada pintu lagi di dalamnya).

  1. Zawzaw : (berjalan mengendap) Raja! Aku sudah datang. Jangan mengagetkanku dengan jebakanmu. Kita bicarakan baik-baik! (Jeda) Raja! Aku ingin bertemu Ciwawa, pestamu tidak akan berjalan tanpanya. Aku harus berlatih bersamanya. (Jeda) Raja! Jawab aku! (Mendobrak pintu dalam) Siapapun jawab aku! Jawab! Aku tahu Ciwawa ada bersamamu sekarang. Tidak ada yang bisa kau sembunyikan lagi. Buka pintu ini! Buka! Biarkan aku masuk, jangan kekang aku! (Berubah sedih) Hey, Raja! Dimana kau? Jawab aku,! Bukakan pintunya! Aku ingin bertemu Ciwawa. Hey! Buka! Jangan kekang aku! Jangan kekang! Jangan kekang!!!

(Zawzaw tertunduk lesu, menangis sejadi-jadinya. Pintu terbuka perlahan, Ciwawa keluar dengan sebuah tas. Menghampiri Zawzaw dan memeluknya.. Zawzaw masih menangis).

  1. Zawzaw : Akhirnya. Akhirnya kau datang, Ciwawa. Akhirnya… (Memeluk Ciwawa makin erat, Ciwawa balas menepuk-nepuk pundaknya). Maafkan aku, Ciwawa. Maafkan aku. Aku bersalah atas semua ini. Hukum aku, Ciwawa. Hukum aku! Aku tidak peka, tidak peka kalau kau ternyata sakit tenggorokan sehingga terbatuk. Aku bertengkar dengan Mwak, saling tampar. Aku juga tidak mencegah Mwak bertengkar dengan Aswa.
  2. Ciwawa : (melepas pelukan, membelai pipi dan memegang bahu Zawzaw) Zawzaw, kau tidak bersalah. Tidak juga layak dihukum. Kau peka, terhadap apapun. Percayalah, kau peka, Zawzaw. Aku tidak pernah pergi dan tidak pernah ada, Mwak juga, Aswa juga. Kami bertiga tidak pernah ada, hanya kau yang ada (memeluk Zawzaw kembali).
  3. Zawzaw : T-tapi, Ciwawa.
  4. Ciwawa : Sssttt! Dengar, setelah ini temuilah Raja Wawawi. Jangan buat ia menunggu lama. Dia baik, Zawzaw.
  5. Zawzaw : Dia jahat, Ciwawa.
  6. Ciwawa : Sssttt! Dia baik, Raja Wawawi baik. Kau bersiaplah, petang akan segera tiba dan pesta tidak akan berjalan tanpamu. Oiya, Raja punya kejutan untukmu, Zaw. (Mengeluarkan kaset musik dari dalam tas) Semoga kau suka! Dan ingat, aku, Mwak, dan Aswa tidak pernah ada. Kita tak mengenal jarak, kita satu.

(Lampu padam).

 

BABAK 4

(Lampu menyala memenuhi panggung, tampak tiga ranjang. Zawzaw duduk di atas ranjang tengah bersebelahan dengan radio, sementara dua ranjang lainnya tengah diangkut keluar dari sisi kanan oleh masing-masing 4 pekerja. Bersamaan dengan itu, Raja Wawawi masuk).

  1. Raja : Bagaimana pestaku berjalan?
  2. Zawzaw : Lebih menyenangkan dari apapun.
  3. Raja : Apa kataku, tak perlu risau akan kuapa-apakan.
  4. Zawzaw : Tapi kau menyuruhku berbaring di ranjang, itu termasuk mengapa-apakan.
  5. Raja : Kau terlalu tinggi semalam.
  6. Zawzaw : Seperti tidak tahu aku saja kau.
  7. Raja : (duduk di samping Zawzaw) Jadi, Usman, kau sudah menunjukkan perkembangan. Kau sudah lebih terbuka untuk bercerita keseharianmu. Kau sudah berani menghadapi ketakutanmu. Kau sudah mampu menyelesaikan masalah dengan bijak.
  8. Zawzaw : Terakhir aku berkelahi kemarin, dengan Mwak dan penjaga.
  9. Raja : Usman…
  10. Zawzaw : Ya, Raja.
  11. Raja : Usman…
  12. Zawzaw : Kenapa?
  13. Raja : Aku bukan Raja, aku Dokter Usof temanmu. Dan kau tidak pernah berkelahi dengan siapapun. Okay?
  14. Zawzaw : Kau mengejekku tidak bisa berkelahi?
  15. Raja : (menyodorkan obat dan air minum) Untuk penawar.
  16. Zawzaw : (meminum obat) Baik, Dokter Usof. Aku siap untuk sembuh.
  17. Raja : Harus, harus siap. Aku sangat mengapresiasimu.
  18. Zawzaw : Amanah apalagi yang harus kujaga, Dokter Usof?
  19. Raja : Tidak banyak. Cukupkan istirahatmu, jika susah tidur alihkan dengan mendengarkan musik. Atau bisa kau coba menonton video pembelajaran Fisika sampai kantuk datang. Minum kopi di pagi atau sore saja.
  20. Zawzaw : Boleh aku berkunjung ke rumahmu?
  21. Raja : Silakan jika itu membuatmu merasa lebih baik. Aku sangat menyambutmu, aku temanmu. Kebetulan istriku membawakan kopi Gayo sebagai oleh-olehnya sepulang dari menilik saudara disana.
  22. Zawzaw : Minggu depan aku diundang interview di Kalamasa House.
  23. Raja : Nah, baguslah kalau begitu. Biarkan orang mecicipi dan mereka akan tahu.
  24. Zawzaw : Ya, mereka akan tahu.
  25. Raja : (berdiri) Aku pamit dulu, Usman. Hubungi aku kapanpun kau perlu. (Beranjak pergi).
  26. Zawzaw : Terima kasih untuk semuanya, Dokter Usof!
  27. Raja : (berhenti) Dengan senang hati. Semuanya akan baik-baik saja, jadi beristirahatlah, ini kamar tidurmu. (Keluar).

(Zawzaw mengeluarkan kaset yang diberikan Ciwawa, memasukkannya ke radio. Musik terdengar. Lampu utama meredup, lampu kedua menyala menyorot sisi tengah atas menampakkan jam dinding besar menunjukkan pukul 3. Jam berdenting. Zawzaw merebahkan badannya ke ranjang).

BERAKHIR.

Semarang, 2025.

Author

  • Fahmi Dafiq Arrafat

    Bisa dipanggil Dafiq ini dan lahir pada 23 November 2007. Kalau-kalau mau mampir ngopi, sekarang saya tinggal di pesisir Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Terima kasih telah membaca karya saya sampai akhir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet | betnano | ultrabet | ultrabet | romabet | romabet giriş | galabet | galabet giriş | romabet güncel giriş | how to create invoices | how to create an invoice | how to pronounce | how to pronounce nguyen | how to pronounce pho | hiltonbet | hiltonbet giriş | roketbet | جلب الحبيب | فك السحر | جلب الحبيب | فك السحر | جلب الحبيب خلال 24ساعه | جلب الحبيب | فك السحر | جلب الحبيب | فك السحر | جلب الحبيب خلال 24ساعه | جلب الحبيب |