Kamar 3X3

Kamar 3 X 3

 

Di sudut kamar 3×3

Bertemani dinding putih berhias poster kesukaanku

Tuhan,

Diantara banyaknya “kapan” yang tumbuh subur bagai benalu

Menjalar keseluruh tubuh

Membuatku tercekik

Bagaimana jika aku memilih untuk berhenti menjawab

 

Di antara kelegaman langit malam

Bertemani irama jangkrik yang menikmati musim kawin

aku hanya ingin memilih diriku sendiri

 

Di antara genderang akad yang memenuhi sudut kampung

Arak-arakan kebahagiaan mulai ditabuh

aku memilih berakad dengan diriku sendiri

 

Bu, impian yang ini kita kubur saja, ya?

Bu, aku ingin jadi anakmu saja. Selamanya.

Ibu,

Jika aku tidak memakai inai dan baju adat itu

Apakah aku masih anak dalam doamu?

Ibu,

Jika aku memilih— tidak menikah

Apa aku mendurhakaimu?

 

 

 

Aku Perempuan Itu

 

Aku,

Perempuan itu

Perempuan yang tidak pernah benar-benar bisa memilih

Bahkan— dengan kedua tangannya sendiri

Tidak pernah bisa benar-benar berdiri

Bahkan—di pijakannya sendiri

 

Aku,

Perempuan itu

yang tidak pernah benar-benar bisa memiliki

Bahkan—atas tubuhnya sendiri

 

Dibungkam

Disalahkan

Dihina

Bahkan— oleh perempuan itu sendiri

 

Rahim yang katanya melahirkan peradaban

Berakhir jadi pengobat nafsu

 

Kenapa mau?

Kenapa tidak menolak?

 

Bajumu nona

Rokmu nona

Pahamu terlihat

Kau keluar rumah saja sudah menggoda

Salahmu, salah siapa lagi

Buah dadamu terlihat

 

Ah…

Bagaimana bentuk tubuh di balik gamis panjang itu

Kau buat penasaran

Bagaimana rupa tubuh di balik  seragam merah putih itu

 

Sialan..

 

Tundukan kepalamu bajingan

Kau dan belahan nafsumu

Bahkan—lebih buruk dari iblis

 

Tidak ada alasan

Dasar keparat

 

 

 

KontraS

 

Sudah dibangun lagi dapur biru itu

Sialan…

Lebih kokoh dari bangunan sekolahku

Keparat…

Lebih lengkap dari fasilitas sekolahku

Buntung…

Sudah gajian lagi para penghuni bangunan biru itu

Sementara guruku

Harus mutar otak agar bisa makan bulan ini

 

Bangunan biru itu bukan urusan pemerintah

Swasta katanya

Tetap saja

Pendidikan bukan prioritas

Guru-guruku harus ikhlas

Dana pendidikan harus dipangkas

KontraS

Kalau begitu jadikan  saja pendidikan sebagai bisnis

Berkedok program seperti bangunan biru

Agar megah dan lengkap pula bangunan serta fasilitasnya

 

Tidak boleh

Yang boleh diisi harus perutmu

Kepalamu jangan sampai terisi

Bisa bahaya

Mereka takut pada isi kepala yang mampu melawan

Kamu diam saja

Cukup isi perutmu sampai penuh

Agar si tikus baru bangunan biru

Bisa tetap menikmati hasil

6 juta sehari itu.

Jatuh cinta pada poltik dan Sastra. Sedari SMP sangat senang membaca dan menjadikan tulisan sebagai bentuk menyalurkan rasa dan isi hati dengan jujur. Bagi Richa tulisan adalah bentuk kejujuran hati dari setiap apa yang dirasa dan dipandang mata. Sesederhana apa pun hal-hal yang terjadi dalam hidup, mari abadikan dalam setiap tulisan. Instagram @richaaputri_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!
bets10 | bets10 | mariobet | mariobet giriş | mariobet | mariobet giriş | mariobet | mariobet giriş |