Alasan Sangkuriang Layak Dinobatkan Sadboy Terbaik

Apa yang pembaca bayangkan kalau dengar nama Sangkuriang?

Sering kali kita melihat Sangkuriang cuma sebagai legenda dari Jawa Barat yang menceritakan asal-usul Gunung Tangkuban Parahu. Padahal, jika ditarik ke realitas kehidupan sekarang, kisah Sangkuriang ini adalah cermin dari kerasnya perjuangan seorang pria yang dimabuk cinta dan cara ia menyikapi kegagalan.

Bagi saya sih begitu, ya. Kenapa? 

Mungkin, ini alasannya.

 

1. Demi wanita yang dicintainya, “Apa pun yang kamu mau akan kukabulkan!”

Semuanya berawal dari pertemuan yang tak disengaja. Sangkuriang terpesona melihat Dayang Sumbi, dan tanpa dia sadari, wanita yang membuatnya “bucin” tingkat dewa itu adalah ibu kandungnya sendiri, dan ya … namanya juga sedang mabuk cinta, Sangkuriang merasa Dayang Sumbi adalah the one and only! 

Masalah muncul saat Dayang Sumbi melihat bekas luka di tubuh Sangkuriang. Ia sadar, pria yang ingin meminangnya adalah anaknya yang dulu ia usir. Nah, karena Sangkuriang tetap keras kepala dan tidak mau tahu soal status hubungan darah mereka, Dayang Sumbi akhirnya memutar otak agar pernikahan itu gagal dengan cara halus.

Ia memberikan syarat yang, kalau dipikir dengan logika, sangat mustahil dipenuhi. Sangkuriang harus membendung Sungai Citarum dan membuat perahu raksasa dalam waktu semalam. Celakanya, semua harus beres sebelum ayam berkokok.

Bukannya ciut atau protes karena merasa dikerjai, Sangkuriang malah langsung mengiyakan syarat tersebut. Tanpa banyak membantah, ia menyanggupi permintaan wanita yang dicintainya. Di sini kita lihat mentalitas Sangkuriang: baginya, kalau sudah sayang, tak ada hil yang mustahal! Sekali pun tak mungkin, pokoknya, “iyain” dulu saja.

Hm. Sungguh tak berpikir~

 

2. Memilih menendang perahu, bukan orang yang menolak cintanya

Inilah sisi kesatria Sangkuriang yang sering kita lewatkan. Begitu Sangkuriang menyadari siasat Dayang Sumbi lewat fajar buatan, Sangkuriang merasa gagal dan marah bukan main. 

Sebagai manusia, tantrum sudah pasti. Tapi coba perhatikan arah amarahnya, ke perahu yang ia ciptakan, bukan ke Dayang Sumbi.

Sangkuriang tidak menampar, main tangan, tak juga memaki, apalagi melakukan kekerasan verbal ke perempuan yang menolak cintanya. Ia memilih melampiaskan kekecewaannya ke benda mati hasil kerja kerasnya sendiri. Ia lebih rela menghancurkan “aset” pribadinya dan melukai harga dirinya, daripada harus menyakiti fisik atau mental perempuan yang ia cintai.

Meskipun, saya juga tidak tahu dan tak dijelaskan pula lokasi Dayang Sumbi waktu Sangkuriang menendang perahu, tapi saya menganggap Sangkuriang tidak menendang perahu itu ke arah Dayang Sumbi.

Ini tentu harus jadi pelajaran untuk laki-laki (khususnya) zaman sekarang yang ketika dapat sesuatu yang tak sesuai keinginannya malah sibuk menyebar aib mantan atau melakukan kekerasan. Tentu saja marah itu manusiawi, dan semua orang boleh marah-marah, tapi melampiaskanya dengan menyakiti orang lain adalah hal lain dan kita bisa gelut untuk berdebat soal itu. 

 

3. Menghilang untuk menata ulang hidupnya

Setelah syarat cintanya gagal dan perahunya terbang menjadi Gunung Tangkuban Parahu, Sangkuriang tak lantas membuat klarifikasi atau thread panjang di media sosial untuk mencari pembelaan seperti zaman sekarang. Atau, kalau belum ada media sosial mungkin black campaign ke tiap tongkrongan, dan tapi kan Sangkuriang tidak melakukannya!

Dia tentu tak butuh dikasihani orang sekampung dan berlagak korban. Alih-alih meratapi nasib di depan orang banyak, dia memilih untuk menghilang. 

Itulah pelajaran yang bisa dapatkan dari kisah Sangkuriang.

Jadi, untuk kamu yang sekarang sedang merasa sakit hati gara-gara ditolak cinta, ingatlah kalau kamu tidak pernah sendirian. Sangkuriang sudah merasakannya ribuan tahun lalu dengan level yang jauh lebih berat, editor Nyimpang apalagi 🙁 Heu.

Tak perlu tendang perahu sampai jadi gunung, cukup ambil pelajarannya saja.

 

Aa-Aa milenial pangais bungsu dari Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!