

Sebagai seorang mahasiswa semester tua yang cukup kenyang berdinamika dalam ormawa (organisasi mahasiswa) rasanya banyak juga refleksi yang perlu diambil baik untuk personal maupun universal. Ormawa tidak luput dari romantisme perjuangan 1998 yang (bisa dibilang) berbasil menumbangkan rezim otoriter Orde Baru bersama segenap masyarakat.
Mahasiswa dalam perjalanannya sering dianggap sebagai pelopor, bahkan ada istilah Agent of Change, iya tau tidaknya, entah. Rasanya seringkali membuat mahasiswa terbuai dalam utopis dan menganggap seolah mahasiswa adalah golongan yang paling valid bersuara dan benteng moral penjaga demokrasi. Sungguh ilusi yang menyedihkan~
Meminjam istilah yang digunakan oleh Geisz Chalifah dalam postingan akun Instagram-nya @geisz_chalifah “Tauhid, Kandaisme HMI dan Kitab Suci Bernama Relasi” merupakan sebuah refleksi kontemporer akan krisis Intelektual.
Argumen yang mungkin pernah ada masanya, begin: ide bergumul guna memformulasikan sebuah gagasan, dan sekarang menjadi,
“Ízin Kanda” “Mohon Arahan Kanda”.
Hilangnya nilai intelektual dalam kaderisasi ormawa dapat digambarkan melalui kutipan Nietzche,
‘’Manusia pada dasarnya bukan hanya hewan berpikir, melainkan hewan yang menilai’’
Hari ini, kaderisasi telah direduksi hanya sebagai proses formal saja. Bukan ruang mahasiswa ditempa dan diasah logika berpikirnya.
Pekik ‘’Hidup mahasiswa!” pun cenderung bulshit, menurut keyakinan saya.
Forum intelektual pun nampaknya kini hanya berfungsi sebagai tempat kenalan saja, mahasiswa bertarung guna mendapatkan rekomendasi dan validasi baik dari parakanda maupun validasi massa guna memuluskan birahi kekuasaan dan karir politik. Apakah benar begitu? Menurut saya sih begitu.
Tirani dalam Tubuh Organisasi
Dalam dinamikanya, ormawa acapkali menjelma jadi sosok tirani yang mereka kutuk dalam panggung orasi.
Seruan “Rapatkan barisan!” agaknya lebih tepat bila diubah menjadi “Benahi barisan!”
Kasus ini dapat ditemui dalam Pemilu BEM/DEMA/EM yang umumnya berasal dari HMI, IMM, PMII, dll.
Melakukan berbagai macam cara guna memuluskan birahi kekuasaan. Kontestasi pemilihan juga tak jarang direkayasa karena semuanya sudah ditentukan di meja kopi.
Frantz Fanon dalam bukunya The Wretched of The Earth telah memperingatkan bahwa kaum terjajah seringkali mengadopsi perilaku penjajah, dalam hal ini, sahlah jika saya katakan ormawa mengadopsi perilaku tirani dalam struktur kekuasaan berbentuk BEM/DEMA/EM sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya.
Semakin besar massanya maka semakin besar pula arogansinya. Intelektualitas tak lagi menjadi panglima dan hanya jadi slogan sok-sokan saja. Inilah tang Soren Kierkegaard sebut dengan “The crowd is untruth’’
Kerumunan tidak otomatis menjamin kebenaran. Massa yang banyak itu dijadikan legalitas akan kebenaran sehingga yang besar merasa berhak menindas yang kecil. Begitulah praktik yang telah dinormaliasi dalam tubuh ormawa, atau bahkan kita semua.
Gejala di atas membuat apa yang disampaikan Marx sebagai “keterasingan manusia dari hakikat dirinya” menjadi nyata. Mahasiswa yang sejatinya adalah katalisator perubahan, kini terasing dari ruang dialektikanya sendiri karena mengadopsi sistem yang menuntut kepatuhan hierarkis seperti,
“Siap, Kang.”
”Oke, Bang. Laksanakan.”
Ka mana atuh abang-abangan?!
Pada akhirnya, bagi mereka yang masih merawat kewarasan, pilihannya hanya dua: berbenah atau pergi, tapi, di tengah realita yang memaksa dan sistem yang sakit, maka ‘pergi‘ bisa jadi solusi yang logis.(Name, 2025)
Meminjam kredo Albert Camus, “Aku memberontak, maka aku ada”, maka pergi dari struktur yang korup adalah bentuk pemberontakan dan perlawanan intelektual terhadap status quo organisasi.
Sebagai penutup, rasanya kutipan Soe Hok Gie sangat relevan untuk merangkum tulisan ini: “Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.”
(Geisz Chalifah di Instagram, 2026)
Referensi
Geisz Chalifah (@geisz_chalifah) • Instagram photo. (n.d.). Instagram. https://www.instagram.com/p/DUyiJCyk0G9/?igsh=MTIzZXBiNnF5aXJxNw%3D%3D
Laut, P. (2025, December 30). Seandainya Aku Keluar dariPMII: Kritik atas Mentalitas, Epistemologi, dan KrisisFilsafat Gerakan. Pena Laut – Media Orang Pinggiran. https://www.penalaut.com/2025/10/seandainya-aku-keluar-dari-pmii-kritik.html
Mahasiswa S1 IUP Hubungan Internasional UMY I Seorang penikmat kopi yang suka membaca dan menulis sebagai bentuk refleksi diri. IG: @athapramm
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!