Jujur Saja, In This Economy, Tidak Pernah Ada Warga yang Berbahagia kecuali Kamu Anak DPR

Kalau kata W. S. Rendra mah, “Jakarta oh Jakarta!”

Kemarin, saya pertama kali merasakan banjir, di Jakarta. Menarik dan seru untuk satu kali, tapi kalau keseringan kaki saya jadi kena kutu air juga. Saya tidak bisa membayangkan rasanya jadi warga Sumatra yang sampai saat ini belum menerima bantuan nyata dari pemerintah.

Ada hal menarik dalam peristiwa banjir yang saya dan sebagian warga Jakarta rasakan. Sebagian lho, ya… 

Ah, sebelumnya saya sudah menulis kegamblangan potret kelas sosial yang nyata terlihat dalam transportasi umum pada tulisan ini. 

Yang sayangnya, kembali saya bersungut-sungut dan merasakan dengan jelas kesenjangan kelas sosial ini dalam peristiwa banjir ini hari. Begini ceritanya.

Minggu kemarin, pagi-pagi, waktu banjir, saya melihat seorang pekerja pusat belanja berganti pakaian dan memasukkan sandal-sandal basahnya habis menerobos banjir dan tapi harus tetap senyum melayani para pembeli yang knalpot kendaraannya gak tersentuh air kali dan air hujan. Saya jadi berpuisi,

Orang kecil mengutuki hujan pagi-pagi disebut tidak bersyukur dan “salah sendiri” tak bangun lebih dini.

Orang besar yang punya modal mengutuki hujan pagi-pagi langsung komplain ke Pusat,

“Jalan A macet.”
“Jalan B banjir.”
“Jalan C rusak.”

lalu Boom! Jadilah bencana nasional.

Fenomena ini saya lihat sebagai kesenjangan kelas sosial yang menyedihkan, dan menjadi lebih menyedihkan ketika saya melihat status orang-orang pemerintah yang melanglang buana jalan-jalan ke LN. Ya memang tidak ada hubungannya dan rasanya kok julid sekali saya seolah semua itu salah pemerintah. Tapi, ya ndak tau lah kok tanya saya.

Di lantai paling bawah gedung-gedung pusat perbelanjaan itu, para pekerja basement bekerja menyedot air yang baunya menyatu dengan sampah-sampah di ujung lorong. Saya rasa, mereka datang lebih awal dan pulang paling akhir, deh. Terlebih kalau hujan tak kunjung berhenti.

Padahal, beberapa dari mereka (mungkin) ada yang lemburnya tak dibayar, tapi ya tetap datang saja sebab satu kali absen berarti potong gaji. Sekali tidak datang berarti dianggap tidak loyal dan tidak bertanggung jawab.

Menarik, saat saya berjalan dan mencoba mengobrol, bahkan sebagian besar pekerja itu sedang kebanjiran pula rumahnya, tapi katanya begini,

Ya kalau gak gini mau gimana, Mbak? Kita mah orang kecil. Gak kerja ya besok gak makan.”

Sementara itu, di lantai atas, orang-orang tetap datang dan berbelanja. Ada yang sekadar ingin “ke luar rumah” dan gakpapa menerjang banjir juga, da bosen atuh. Mereka berjalan santai, pakaiannya juga masih bagus, make up gak luntur, dan mungkin masih ada yang mengeluh gara-gara antrean kasirnya dianggap terlalu panjang.

“Jakarta, oh Jakarta!”

Bahkan hujan sedetik pun menjadi sangat merepotkan bagi orang-orang seperti saya.

Pada waktu yang tak lama, beberapa minggu kemudian, kita semua dikejutkan dengan peristiwa seorang anak yang memutuskan bunuh diri. Merefleksikan diri, saya langsung membayangkan terkadang, bahkan sampai saat ini saya sudah bekerja dan menghasilkan uang pun saya sering kehabisan uang, dan saya merasakan perasaan yang lebih sensitif.

Bisa dibilang, mungkin kepekaan saya terhadap hal-hal “receh” itu juga dikarenakan saya selalu membayangkan,

“Orang-orang itu punya uang berapa ya di kantongnya?”

“Orang-orang itu kok jalan kaki? Punya bekal gak ya untuk naik transportasi umum?”

“Orang itu kerja gak, ya?”

“Orang itu kerja untuk dirinya sendiri atau ada yang harus ditanggung, ya?”

Bisa jadi juga karena saya selalu kebetulan melihat “kesenjangan” di depan mata.

Maka, tanpa perlu kita bahas “salah siapa” pada kasus anak di NTT tadi, kita semua sudah tahu alamat dosa besar kemiskinan ini harus ditujukan. Sebab jujur saja, in this economy, tidak pernah ada warga yang berbahagia kecuali kamu anak DPR.

Author

  • Arini Joesoef

    Menulis puisi, prosa, melukis, dan bermusik tipis-tipis. Bukunya sudah 4, As Blue As You (2022), Jayanti (2023), Notes of The Lost Sheep (2024). dan Yusuf dan Sapi Betina (2025). Suka pamer dan suka bikin pameran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like
jojobet güncel giriş | primebahis | madridbet giriş | Jojobet | jojobet | galabet | jojobet | jojobet giriş | jojobet | pusulabet | pusulabet giriş |