

Sorot lampu kamera memancarkan cahaya menyilaukan. Dunia seakan telah siap mendengar mulut ini berbicara. Aku duduk dengan meletakkan kaki kanan di atas paha kiri. Senyum kecil dilempar sembari mengangguk kepadanya. Ia benar-benar bergairah dihadapan seribu orang yang tumpah ruah seperti kerang bambu di dalam sampan. Aku pikir, ia berlebihan untuk mengenalkan sosok kecil ini.
“Bagaimana Mbak Sumala bisa menghasilkan ini?”
Telunjuknya mengarah pada sebuah jimat di meja. Aku menghela napas dan menyandarkan punggung di kursi. Jari-jariku serta-merta memegang dagu bagai detektif yang sedang menganalisa. “Ahh … baru pembuka sudah sulit pertanyaan Anda.”
Jutaan pasang telinga tak sabar mendengarnya. Dongeng inspiratif dari sang pencipta jimat yang membuat bantal kesayangan mereka basah kuyup. Jimat yang sudah sebulan lebih, setidaknya, dibicarakan oleh hampir seluruh obrolan meja. Dari angkringan sampai kafe, bahkan dari tongkrongan akar rumput hingga diskusi menara gading.
“Sepertinya Anda begitu sulit menjawab.”
Ruang yang tak cukup lubang udara menggemakan bunyi samar-samar percakapan. Jarum jam di pergelangan tangan kiri berdetak seakan memberi peringatan. Sejurus kemudian, mikrofon kudekatkan di ujung bibir yang bergetar mengikuti irama debar jantung. Aku sungguh ragu, namun dunia seakan memaksa jadi pendengar.
Aku lahir di sebuah pulau kecil yang bila membuka peta hanya sebuah titik hijau. Daerah yang kurang dikenal, bahkan orang yang suka gambar peta pun tak mengetahuinya. Ini sepertinya berlebihan, namun demikian nasibnya.
“Kemarin Anda bilang berasal dari Kangean. Itu di mana?”
Kepalaku berusaha mencerna kalimat tanya yang tak ubahnya seperti ledekan itu.
Bagaimana bisa seseorang tak mengetahui pulau kecil yang dikerubungi debur ombak laut dewata?
Sebuah pulau yang bibirnya begitu putih bersih menjilati air asin yang jernih. Semua yang menyandarkan haluan kapal di Kangean, niscaya disapa oleh rerimbunan helai janur yang tertiup angin.
Bagiku, Kangean sudah terkenal dengan banyaknya turis Eropa berwisata. Namun, teman-teman yang tak memiliki petunjuk mengenai asalku sudah cukup membuktikan mereka ini tidak banyak membaca. Lebih-lebih lagi dosen mata kuliah pariwisata juga tak memiliki petunjuk.
Suatu masa, di Selasa pagi, si dosen meminta mahasiswanya untuk menyebutkan berbagai tempat pariwisata di nusantara. Bali, Raja Ampat, Labuan Bajo, Dieng, Kawah Ijen, dan tempat-tempat yang terkenal disebutkan. Tak ada yang menyebut Kangean. Dengan kepala menunduk, aku acungkan tangan lalu berkata,
“Pulau Kangean, Pak.”
Dosen tua itu menjadi bingung dan raut mukanya seperti balita yang penasaran. Ia melontarkan pertanyaan serupa orang biasa.
“Mungkin saya berpindah ke pertanyaan selanjutnya,” jari-jarinya menggaruk pelipis yang tidak gatal.
Aku merasa bersalah telah membuatnya melakukan itu. Respons seorang manusia ketika tak paham akan pernyataan lawan bicaranya.
Selama dua puluh menit banyak terucap kata “Eeee … ” serta penjelasan singkat yang tak jelas.
Kemudian situasi berubah hening. Bisikan mulai terdengar dari mulut ke mulut.
Orang-orang menampakkan wajah yang masam. Mikrofon tetap berjarak 2 cm dari bibir yang terkadang membocorkan suara napas yang terengah-engah.
Tangannya meraih jimat di meja, diangkatnya ke atas kepala “Apa yang memotivasi anda membuat Magnum Opus ini?”
Pagi itu begitu lekang dalam ingatan. Ayah dan Ibu beradu mulut begitu keras. Aku yang masih belia terperanjat dari ranjang. Ibu melarang Ayah meninggalkan rumah bersama orang-orang kampung. Ayah bersikeras untuk melangkah keluar.
“Mereka kurang ajar Dek! Berani sekali orang-orang tak beradab itu mengeruk tanah leluhur.”
“Bisa mati kamu Kak. Sudah lah, biarkan asal mereka tak mengganggu.”
Brak!
Pintu dibanting nyaris berbarengan dengan tubuh Ibu yang tersungkur. Aku berlari menghampirinya yang tengah bersujud. Kedua matanya bagai air terjun di musim hujan. Sangat deras hingga hantamannya membuatku perih. Aku lingkarkan tangan dari belakang, lalu kudekapkan tubuh ini yang dulu keluar dari rahimnya.
Ayah tak pernah lagi menyentuh gagang pintu yang lembab itu. Warnanya yang perak kini mulai kecoklatan karena karat. Ia lenyap meninggalkan pertanyaan dan derita. Orang-orang yang pergi bersamanya, sebagian pulang, dan sebagian tak kembali. Ibu meratapi diri setiap hari.
Selepas SMA, Ibu memutuskan untuk meninggalkan pulau. Ia sudah tak kuat menahan ingatan yang menghiasi kamar, rumah, dan kampung. Keadaan kampung juga semakin mengkhawatirkan.
“Rumah tak lagi aman. Mereka semakin dekat untuk mengganggu. Kamu di sini, belajarlah sampai kepalamu pandai.”
Ibu memilih tinggal di tengah hiruk-pikuk ibu kota. Ia menyewa sebuah kamar berukuran 3 x 3 meter dengan satu kasur lantai, lemari, dan sebuah meja. Aku pun didaftarkan di sebuah kampus Katolik yang sangat dermawan. Berbekal surat tidak mampu dari kelurahan dan nilai rapot yang standar, kampus itu menyambutku tanpa menyodorkan tagihan uang semester.
Pergulatan keyakinan selama kuliah membuatku sadar. Kangean tak seterkenal yang aku bayangkan. Bagiku itu masalah yang sungguh serius. Orang-orang menjadi tak mengerti persoalan di sana. Tak mengerti jika dapurnya bisa mengepul berkat perusahaan serakah yang merusak tanah leluhurku. Bahkan tak mengerti perihal orang-orang di pulau itu mati dan menghilang demi membela tanahnya.
Di tahun kedua berkuliah, aku memutuskan terjun dalam dunia warta. Berita demi berita dihasilkan dari laptop bekas yang sudah usang. Ratusan kalimat beterbangan ditiup angin mendatangi sejumlah pasang mata. Negeri sempat riuh mendengar kisahnya. Dunia pun barangkali juga, pikirku.
Penguasa sepertinya risih atas keriuhan yang telah kuperbuat. Dengan peralatan yang serba lengkap, secara gampang melenyapkan Kangean. Mereka menjinakkan media. Kangean tenggelam kembali. Hanya satu bulan lebih wajahnya berhasil ditampakkan. Lalu menghilang dimakan berita gosip selebriti dan perselingkuhan.
Suatu hari, kampus menyelenggarakan seminar megah yang mengundang seorang penulis tersohor. Aku mengetahuinya dari poster yang ditempelkan pada tiang listrik taman fakultas. Di hari penyelenggaraan, penulis itu mengucap kredo yang memukau,
“Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Berbicara”
Seketika ide mengalir seperti air menemukan tempat yang kebih rendah. Jika realita tak bisa berbicara, maka imajinasi menggantikannya, pikirku.
Setiap melewati lampu merah di hari libur, langkahku berhenti. Aku menoleh pada seorang Bapak yang membawa lembaran koran Sabtu-Minggu. Uang yang telah aku kumpulkan selama seminggu, dibelikan koran demi membaca sebuah cerita pendek. Sewaktu uang beasiswa dicairkan, aku sisihkan sebagian untuk membeli satu-dua buah buku novel. Sudah satu tahun aku melakukan semua ini, semenjak pergelaran seminar itu.
Aku resapi setiap kata dan kalimat yang ditulis oleh sastrawan-sastrawan itu dalam membangun cerita. Setelahnya, aku membuka laptop usang itu lagi. Laptop yang dibelikan ibu dari hasil sampingannya di malam hari. Deru papan ketik menghiasi setiap malam sampai menyambut ibu pulang dan menyuruhku tidur.
Orang-orang banyak memuja kepiawaianku merangkai kata. Koran memberitakan tanggapan seorang pejabat perihal karyaku yang makin populer. Ia tak menganggapnya sebuah masalah. Aku tertawa, sebab mereka tak cukup mampu memahami dunia kesusastraan. Kepala mereka hanya berisi anggapan bahwa sastra hanya fiksi, imajinasi, dan omong kosong badut penghibur.
Satu jam lebih perempuan itu menandaskan pertanyaan. Aku menjawab dengan kalimat yang singkat. Kerumunan lama-lama semakin menipis. Satu sampai dua orang tiap menit beriringan meninggalkan ruangan. Beberapa masih bertahan menelan kejenuhan.
“Mengapa Anda sedari tadi memberi jawaban singkat?”
Aku tersenyum simpul, “Sungguh saya pun tak mengerti. Mungkin saya takut”
“Mengapa Anda takut? Apakah cerita ini nyata?”
Aku menyeringai dan menatapnya. “Entah. Apabila nyata apakah Anda akan percaya? Apabila tidak, apakah Anda akan percaya?”
Perempuan itu terdiam seribu bahasa, serta lagi-lagi menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Ruangan mengeluarkan kedinginan yang merayap ke tubuh. Orang-orang bertanya-tanya, berupaya keluar dari ketidaktahuan. Aku hanya tersenyum dan mengeluarkan ketawa kecil.
Lahir di Bangkalan, Pulau Madura. Lulusan Ilmu Hubungan Internasional. Senang melakukan kegiatan literasi dan menulis.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!