Jein Oktaviany, Penulis Emerging UWRF 2026 dari Ciwidey

Jein Oktaviany adalah penulis asal Ciwidey-Bandung, yang terpilih sebagai satu dari sepuluh penulis Emerging Writers Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2026, lewat buku kumpulan cerita pendeknya Apa yang Kau Lupakan Hari Ini?

Dalam kesempatan kali ini Minpang telah menghubungi Kang Jein untuk ngobrol-ngobro seputar proses bagaimana ia bisa terpilih sebagai satu dari sepuluh penulis terpilih di Ubud Writters & Readers Festival (UWRF) 2026.

Halo, Kang Jein! Apa kabarnya, nih?

Halo juga. Kabar baik.

Minpang baca-baca di blog-nya Kang Jein tuh ada informasit kalau Kang Jein aktif di Komunitas Prosa Tujuh. Nah, Prosa Tujuh tuh komunitas seperti apa?

Prosatujuh (nama resminya P-kapital, dan disambung. Namun, teman-teman komunitas juga ada yang nulis prosatujuh, Prosa Tujuh, Prosa7, Prosa7ujuh. Jadi gak apa-apa) adalah komunitas online yang didirikan sama aku, Sakti Ramadan, Putri Mawadah pada tahun 2017.

Saat itu, kami sama-sama baru belajar nulis. Yang lagi rame itu group di Line. Belum ke WA. Karena kami juga belum mengenal grup lain, atau komunitas lain, akhirnya bikin, karena kebanyakan dulu di Line itu kan puisi groupnya. Serta, kami juga kurang gaul di FB (banyak group kalau FB) jadi gak tahu soal grup cerpen, bikinlah.

Grup itu sendiri ternyata masih aktif sampai sekarang (tidak pernah menyangka sejauh ini). Bahkan yang awalnya orang-orang awam, jadi pada gabung yang sejak awal udah keren. Pernah join Aveus Har, Dewanto Amin. Terus yang dua tahun sebelumnya juga pernah masuk Ubud ada Ade Mulyono, dan Kurnia Gusti. Di tahun ini, ada aku dan Carisya.

Di Prosatujuh sendiri, agendanya nulis cerpen sebulan sekali, sama saling komentar cerpen sesama yang nulis. kalau gak lakuin itu, dikick dari group utama, dan harus nunggu 3 bulan buat gabung lagi. Ada grup keluarga (yang di-kick juga ada di sana), jadi kalau yang ngerjain ‘tugas’ 20 orang, maka kami 20 itu harus komentar satu sama lain, dan nugas cerpen. kalau enggak kena tendang.

Wah, aturannya bagus gitu. Memaksa peserta buat nulis, dan aktif menanggapi.

Aku sendiri sebenarnya aktif banget pas 3-4 tahun awal. Aku malah tidak kena kick 3 tahun 1 bulan, terlama. setelah itu join-join tapi kena kick beberapa kali.

Oh, dimulai dari tahun 2017. Lama juga, ya?

Sekarang udah gak terlalu aktif. Sudah memasuki masa vakum groupnya, tapi di keluarga masih jalan.

Hooh, lumayan lama. Sejak Juni 2017 kalau gak salah.

Oh, nama-nama besar, euy.

Dulu yang menarik nama-nama itu karena sempet bikin lomba. Hadiahnya kecil, sih. Cuma ratusan ribu. Di 2018 kalau gak salah, jurinya Faissal Oddang. Terus 2019/2020 (agak lupa) bikin lagi, jurinya Niduparas sama Yetti Aka (lagi-lagi kalau gak salah).

Kayaknya di Instagram ada jejak-jejak lombanya, deh. Boleh dicek di @prosatujuh (untuk memastikan tahun dan juri itu)

Ada aturan lain yang agak sadistik, sih. Harus ketik ulang cerpen yang ada di buku/media. Jadi 1 bulan = 1 cerpen, 1 ketik ulang, dan jumlah komen sesuai anggota.

Berarti keuletannya sudah teruji, nih.

Soalnya di tahun-tahun awal, aku merasa banyak yang mau jadi penulis, di Line terutama (karena awalnya kan lingkungan di Line) tapi gak pada baca. Jadilah kami bikin aturan yang sadis itu.

Oh, Minpang juga pernah nulis ulang gini, nih, buat latihan, Tapi cuma sendiri, sih. Gak ada temannya. Ngikutin saran Mas Sulak saya, tuh.

Kocaknya tahun 2017 kami gak tahu itu saran AS Laksana wkwkwk. jadi ketika tahu (kalau gak salah Adon/Sakti Ramadan ikutan kelas Sulak), kami merasa keren duluan wkwkwk.

Emang harus disiplin gitu, sih.

Awal cerita bisa kepilih jadi emerging writters gimana, Mas?

Kabarnya sudah beberapa kali kirim naskah, ya?

Aku sudah kirim sejak 2017. Mungkin ada bolong 1-2 tahun. Sempat kirim puisi juga (pas zaman boleh puisi). Jadi kepilih sepuluh besar Emerging Ubud Writter and Reader Festival tahun ini tuh buah hasil kirim naskah antara ke 6-7, sih, wkwkwk.

Kenapa sengebet itu pengen ikutan Emerging Ubud? Karena memang sejak awal tahu Emerging itu keren. Ada cerita lucu: orang tuaku (dua-duanya guru) agak memaksaku untuk jadi guru, dengan alasan jenjangnya jelas, honor P3/PNS, dan terjamin. Namanya orang tua, ya, pasti mau anaknya hidup terjamin, dan itulah yang orang tuaku tahu. Dunia mereka di sana.

Terus aku jawab: nulis juga ada jenjangnya. Mislnya dimuat Kompas, kepilih Emerging, menang sayembara DKJ. Terus naik ke menang KSK, buku tempo, dan seterusnya sampe nobel sastra.

Jadi aku jawab: itulah jejang honorer ke p3k-nya. dan ternyata orang tuaku masih inget perkataanku. Mereka merasa aku penulis-p3k, wkwkwk.

Padahal tentu gak apple to apple untuk perumpamaannya, haha. Cuma biar mereka paham aja.

Awal cerita kepilih, ya pengumuman aja. senang kepilih. Berasa mimpi.

Wah, inspiratif banget ceritanya, Kang Jein. Saya malah nemu banyak penulis atau yang suka nulis gak ada bayangan kek gitu (termasuk saya, nih)

Pertanyaan kali ini adalah soal proses belajar menulis yang dilalui Kang Jein, nih. Seperti apa prosesnya, apakah otodidak saja atau pun ada belajar dari orang lain gitu? semacam ikut kelas menulis.

Proses belajar menulisku, kayaknya lebih bayak di komunitas. Di KSC, dan P7. Dua-duanya membentuk aku dan mengasah proses kreatifku. Diskusi-diskusi, saling baca dan komentar, terus tertrigger menulis, dll. Aku sedikit ikut kelas menulis, dan tidak pernah ikut kelas menulis yang bayar, hahaha. Aku juga bukan lulusan sastra.

Selain di komunitas, belajar menulisku keknya sama aja dengan penulis lain: baca yang baca, mengamati dan melihat bagus-jelek karya-karya yang ada, dan latihan menulis yang rajin.

Nah, kalau program Setor Baca di Komunitas Sastra Ciwidwy (KSC) itu idenya siapa? Sudah berjalan berapa lama?

Dulu ada group juga namanya Ten Pages. Aku lupa siapa yang bikin. Waktu itu aku admin di sana. Ketika grup itu gak aktif, aku izin pakai formatnya untuk komunitas di Ciwidey. Ten Pages itu 2016-an. Kalau pas aku izin bawa ke KSC tahun 2018-an.

Awalnya kan Setor Baca juga cuma buat orang Ciwidey. Baru-baru ini kayaknya terbuka buat luar, mah.

Kalau riwayat bacaannya dimulai dari mana tuh, Kang? Kan ketertarikan Menulis juga biasanya berawal dari membaca dulu biasanya.

Kalau ketertarikan baca, sejak SD. Momen yang kuingat pas kelas 1 SD: aku sudah beres mengerjakan tugas/menulis gitu. Terus gurunya sedang keluar. Anak-anak diminta untuk jangan berisik dan keluar kelas, kan. Tapi namanya anak kecil, pasti berisik. Aku keluar kelas untuk  baca buku (entah buku apa waktu itu). Yang kuingat adalah guruku balik, dia gak marah ke aku karena keluar kelas. Dia malah muji aku gitulah.

Terus pas SMP baca novel-novel remaja, dan Fantasy. SMA malah kurang baca, tapi lagi demennya banget menulis. Emang fase di mana merasa bisa jadi penulis, wkwkwk. Maklum namanya anak remaja tanggung, merasa bisa mengalahkan dunia. Baru akhir SMA, dan sebelum kuliah (2015-an) aku merasa kangen baca, dan butuh baca juga (sebagai manusia & sebagai penulis). Jadilah lebih banyak baca lagi.

Tapi SMA bukanberarti gak baca banget. Cuma jarang aja. Mungkin sebuku dalam setahun. Kayaknya momen yang bikin aku jadi aktif lagi baca adalah pas kelas 2 SMA. Cerpenku dimuat pertama kali di Majalah Hai. Cerpen remaja gitu. Aku inget waktu itu aku dapat honor dan langsung ke Gramedia beli buku. Saat itu beli buku kumcer (Seno, Rio Johan, Jessica Huawe) karena berpikir bahwa aku nulis cerpen, tapi kok gak baca cerpen (dalam buku). Akhirnya pas baca, kurasa mereka bagus-bagus banget, dan jadi merasa harus baca lebih banyak.

Sudah menerbitkan berapa buku, Kang?

Baru satu, tahun lalu (2025), yang kumcer itu.

Jadi kumcer Apa yang Kau Lupakan Hari Ini? Bercerita tentang apa saja, tuh? Apakah kumpulan cerpen dengan tema yang sama atau beda-beda.

Di dalamnya ada 18 cerita. Semua cerpen itu adalah cerita-cerita yang sebelumnya pernah dimuat di media sastra (kayak Kompas.id, bacapetra, Pikiran Rakyat, dll) atau antologi bersama (yang komunitas kayak KSC, atau P7, atau ada juga yang perlombaan). Kira-kira ditulis dari 2017-2023, dan tayang di medianya dari 2018-2024.

Sebenarnya kalau isu utamanya sih gak ada. Kayak gado-gado aja. Namun, secara garis besar ternyata ada kesamaan yaitu gimana ingatan, kenangan, luka, renungan, hubungan-hubungan tersebut terhadap isu-isu seperti: kekerasan seksual, politik, ekologi, eksistensialisme, masa depan, pandemi, dan isu yang random lainnya.

Kalau mau beli bukunya Kang Jein bisa lewat mana aja, nih?

Kalau online, bisa lewat Langgam Bookish (ada di banyak marketplace). Kalau offline ada di Langgam Bookstore, Tasik, ada juga di Toko Buku Pelagia Bandung. Sejujurnya, bisa juga beli ke aku (minusnya: kadang aku lama ngirimnya, semood dan setidak sibuknya. plusnya: ada tanda tangan wkwkwk)

Sekalian aja Minpang mau beli bukunya lewat Kang Jein aja. Biar dapat tanda tangan. Uhuy!

Asyik, nuhun!

Kalau nyimpang sendiri emang base-nya di Purwakarta ya, Kang?

Iya base-nya di Purwakarta. Kita juga sering menarasikan bahwa lingkup utama kita tuh Purwasuka (Purwakarta -Subang-Karawang).

Aku teh pernah ketemu kang Odang pas di Kemah Sastra Cirebon. Beliau saat itu perwakilan dari Nyimpang.

Kalau agenda di sana apa aja, Kang?

Oh, Kang Odang. Iya, kenal sama beliau, mah. Kang Odang tuh dari Karawang, dia bagian dari Nyimpang juga.

Tadinya Minpang tuh yang dikirim dari Nyimpang. Cuma sayanya mendadak sakit, jadi gak bisa ikutan.

Wah padahal mah, seru mayan di Cirebon saat itu.

Agenda kita, sih, nulis aja. Terus ada tambahan lainnya biasanya random, sih.

Fokus di sastra/fiksi nulisnya? apa nonfiksi juga? kalau dilihat sih kayaknya nonfiksi juga menulis kan ya

ini juga kan wawancara nonfiksi😂

Fiksi dan non-fiksi juga. Kita juga lagi bikin kelas kreatif, sih. Maunya ada perminggu atau perbulan gitu. Bulan puasa ini nih ada tiga kelas dan Alhamdulillah ketiganya lancar semua. Hari ini banget kami mau bikin kelas sama Ulwan Fakhri dari Institut Humor Indonesia Kini.

Wihhh mantap. aku tahu nama Ulwan Fakhri. Menarik euy.

Kapan-kapan Kang Jein lah yang main ke sini. Ngisi workshop gitu.

Hmm, menarik. Kebetulan aku juga lagi ada agenda (pura-pura) tur buku gitu.

Nah, kan. Bisa kali.

Untuk sementara sampai segini saja dulu perbincangan kita Kang Jein. Terima kasih atas kesediaan menerima wawancara dari Nyimpang. Terima kasih atas keramahannya juga!

Oh, udah aja ini teh? Sama-sama Minpang. Saya juga merasa terhormat dan terharu bisa diajak wawancara gini.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like
grandpashabet güncel giriş | meritbet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | meritking | meritking giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | jojobet | jojobet giriş | grandpashabet güncel giriş | holiganbet | jojobet |