Skip to content

JAYANTI: Paket

Cerbung JAYANTI-arini
Bagian 1 dari Cerbung "JAYANTI"

Bagian 1 dari Cerbung “JAYANTI”

Seorang kurir paket memarkir motornya di salah satu gang sempit perkampungan Cikalapa, daerah pinggiran Purwakarta jam tujuh malam. Seorang ibu yang tampak renta keluar dengan daster kuning kucal menerima paket sebesar kotak sepatu dengan bungkus plastik hitam. Nama dan alamatnya tertera jelas di sana. 

Malam sekali paket ini datang, pikirnya. Ibu renta itu masuk rumahnya, menutup pintu dan duduk di sofa ruang tengahnya dengan perasaan bungah. Sepekan lalu ia meminta anaknya, Raden untuk memesankannya sandal yang pas untuknya. Pokoknya cocok buat dipakai ke majlis-majlis dan kondangan bareng ibu-ibu tetangga lainnya. Bagaimanapun ia tak tahan saat bu RT membanggakan kiriman sandal berenda dari anaknya yang bekerja di Cikarang. Ia juga punya seorang anak yang mampu membelikannya sandal. 

Ia  membuka paket itu dengan perasaan was-was gembira. Perlahan ia membuka paket itu dari lapis plastik terluarnya, dan begitu ia membuka kardus itu, ia berteriak kencang sekali.

Teriakannya melengking begitu kardus itu terbuka. Sebuah benda asing, mirip kelamin laki-laki tersimpan di dalamnya. 

Ibu beruban itu melempar kardusnya jauh-jauh. Ia tak cuma kaget dengan apa yang dilihatnya, tapi benda itu menguarkan aroma amis darah, seperti area penjagalan kurban. 

Di dalam bis menuju rumah, Raden masih dihujani pesan dari mantan istrinya, Sarah. Pasalnya Sarah tak bisa berhenti menanyainya. Perempuan itu terus-terusan menangisi anaknya yang hilang sejak dua hari lalu. Anak laki-laki yang minggu lalu baru saja memenangkan perlombaan adzan itu raib entah ke mana. Sejak 24 jam terakhir ia telah mengadukan kehilangan bocah itu dan mendapatkan jawaban yang tak menenangkan hatinya: kami akan proses secepatnya.

Raden terus mencoba menenangkan Sarah. Ia tak mungkin mengabulkan permintaan perempuan itu untuk segera ke Makassar. Selain biaya penerbangannya terlalu mahal, ia curiga Sarah hanya berlebihan. Bocah itu mungkin kabur dan menginap di rumah temannya. Lagipula Sarah punya perangai yang menyebalkan saat sedang marah. Bocah malang itu pastilah sekali-kali ingin membalas perangai tak patut ibunya yang suka membentak dan melempar benda apa saja jika sedang mengamuk.

“Itu anak kamu, Den! Kamu harus bantu cari juga!” tak puas hanya mengirim pesan, Sarah meneriakinya juga di telepon.

Baca juga  Bagaimana Stigmatisasi Janda Memotret Budaya Patriarki Kita

“Tenang, Sar. Kamu harus tenang. Mungkin dia kabur ke rumah temannya. Mungkin kau terlalu sering membentak anak itu.”

“Kamu menyalahkanku sekarang? Heh! Saya sudah ke rumah teman-teman sekolahnya dan gak ada! Kamu gak ngerti! Saya yang mengandung dia 9 bulan, saya yang melahirkan dia, saya yang merawat dan membiayai sekolahnya! Kamu gak pernah ngerti karena kamu gak pernah say–!”

Raden muak ribut di telepon. Ia menutup telepon begitu saja. Lagipula bis sudah berhenti sejak lima menit lalu tepat di terminal. Ia merasa tak enak melihat orang-orang yang melewatinya menatapnya dengan tatapan iba. Teriakan Sarah bagaimanapun tetap terdengar meski ia tak menyalakan loudspeaker.

Raden langsung bergegas mengais tas dan keluar dari bis itu melanjutkan perjalanan dengan angkot yang baru terisi separuhnya oleh pekerja pabrik yang pulang terlambat. Mungkin karena lembur atau cuma sekadar ikutan kegiatan organisasi buruh.

“Ah Sarah pasti berlebihan, dan bocah itu pasti cuma kabur ke rumah temannya. Saat ini Ia pasti sedang main PS atau apalah dengan teman-temannya.”

Lamunan itu menyingkat perjalanannya. Begitu sampai di seberang jalan menuju gang rumahnya ia segera menyeberang ke rumahnya dengan langkah panjang. Sejak Sarah mengabari hilangnya anak itu, ia juga punya perasaan tak enak soal ibunya. Hanya firasat, tapi ia tahu kalau sesuatu yang tak beres sedang terjadi di rumahnya.

Hai, kawan-kawan.

Nyimpang adalah platform berkarya non-profit. Ayo saling dukung untuk menjaga semangat dan konsistensi kerja kami.
dukung

Leave a Reply

Your email address will not be published.