Jatuhnya Sang Malaikat

Langit di atas bumi tidak lagi memiliki warna sebagaimana manusia menamai dan melihatnya. Ia bukan biru, bukan kelabu, melainkan lapisan cahaya tipis yang berdenyut seperti urat nadi raksasa yang membungkus bumi. Dari sanalah Ramiel biasa memandang dunia. Ramiel bukan Tuhan, bukan pula makhluk yang meminta kehadirannya untuk disembah.

Ia adalah mekanisme atas kehendak Tuhan sendiri, diciptakan untuk bekerja dan menjaga roda peradaban tetap berputar tanpa menyentuh kehancuran. Sayapnya besar dan lebar, membentang seperti dua benua bercahaya, tiap helai bulu memantulkan kilau seolah terbuat dari logam hidup.

Rambutnya panjang bergelombang hingga menyentuh bahu, berwarna perak kebiruan, bergerak pelan bahkan ketika tak ada angin yang menyentuh. Kedua matanya berwarna biru laut menandakan warna kedalaman yang tak pernah selesai diselami manusia.

Selama ribuan tahun, Ramiel hidup berdampingan dengan umat manusia tanpa terlihat: membisiki ilmuwan di ambang penemuan, rasa ragu yang menghentikan seorang penjahat sebelum ia menikam, atau intuisi samar seorang dokter yang menyelamatkan nyawa. Ia tidak suka memerintah.

Ia hanya menyesuaikan, dengan menjaga bumi tetap berada di ambang ketenteraman. Mendapatkan keseimbangan yang masih memberi ruang bagi pilihan. Bumi menjadi tenteram. Namun, ketenteraman adalah bentuk keheningan yang paling dicurigai oleh Tuhan.

Ledakan itu terjadi tanpa peringatan, tanpa satu pun malaikat penjaga yang sempat berteriak. Laut Mati, yang sejak dahulu dianggap sebagai luka purba bumi tiba-tiba bergetar. Satelit manusia menangkap kilatan cahaya putih yang menyilaukan, disusul gelombang energi yang tidak sesuai dengan hukum fisika apa pun.

Air laut terbelah, tanah runtuh ke dalam dirinya sendiri, membentuk cekungan raksasa yang menukik jauh ke bawah, seolah bumi sedang dilubangi oleh sesuatu yang memaksa keluar. Ramiel tak mendengar suara bising. Ia merasakannya sebagai nyeri yang menjalar langsung ke urat nadi, menuju pusat kehidupan yang selama ini menopang keabadiannya.

“Tanda penghakiman,” gumamnya.

Ia turun. Sayapnya membelah atmosfer, menciptakan badai elektromagnetik yang membuat radar manusia mati satu per satu. Pesawat jatuh tanpa sempat mengirim doa terakhir. Di atas Laut Mati yang mengamuk, Ramiel berhenti melayang, menatap cekungan hitam yang hampir menyentuh inti bumi. Di sanalah ia melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada.

Seorang bayi terbaring di atas batuan yang masih merah membara. Tubuhnya kecil, namun sama sekali tak menyentuh panas seolah Tuhan tak mengijinkan. Kulitnya putih pucat, seolah cahaya hanya singgah sebentar. Rambutnya berwarna biru pudar. Di dadanya, terukir luka bakar berbentuk huruf kuno yang bukan bahasa malaikat, bukan pula bahasa manusia.

Lilith.

Ramiel berlutut. Untuk pertama kalinya sejak penciptaan, ia menyentuh makhluk lain dengan tangan telanjang. Ketika bayi itu membuka mata, Ramiel merasakan sesuatu yang tak pernah tercatat dalam Kitab Penciptaan: keraguan.

Mata kanannya biru jernih, sedalam laut yang masih suci. Mata kirinya cokelat gelap, penuh ketidaksempurnaan manusiawi. “Kehadiranmu akan melukai dunia,” katanya. Ramiel memahami kebenaran yang lebih menakutkan daripada kehancuran dunia. Ini bukan malaikat, bukan juga manusia. Lilith adalah anak Tuhan yang dikirim bukan sebagai hadiah, melainkan sebagai ujian.

Lilith tumbuh dengan kecepatan yang tidak wajar. Dalam hitungan tahun, tubuhnya menyerupai remaja manusia. Ramiel menyembunyikannya dari dunia, membangun fasilitas bawah tanah di sekitar cekungan Laut Mati, struktur raksasa berbentuk salib dan lingkaran konsentris yang ditenagai oleh energi metafisis.

Di sanalah Lilith melihat dunia: tentang bahasa, tentang sejarah, tentang pemikiran yang paling sulit dijangkau oleh manusia. Namun Tuhan tidak mengirim Lilith untuk belajar. Ia dikirim untuk menguji.

“Kau tahu alasan mereka terus mengulang kesalahan yang sama?” tanya Ramiel suatu hari.

Lilith menjawab, “Karena keinginan yang tinggi membuat makhluk itu tak akan pernah merasa puas, Tuan. Anak Adam memang selalu dimanjakan, bahkan mendapatkan malaikat agung.”

Ketika Lilith mulai berjalan di antara manusia, Ramiel tidak melarangnya. Ia hanya mengingatkan. “Jangan memaksakan kehendakmu,” katanya. Lilith tersenyum. “Aku tidak perlu memaksa,” jawabnya. “Mereka melakukannya sendiri.” Di sebuah kota, seorang pria mendekati Lilith dan berkata, “Aku ingin kaya, apa pun caranya.”

Lilith menatapnya dan bertanya balik, “Apa yang akan kau korbankan?” Pria itu tertawa, lalu pergi. Keesokan harinya terlibat dalam kejahatan yang merenggut puluhan nyawa. Di kota lain, seorang perempuan bertanya dengan gemetar, “Apakah aku orang jahat?” Lilith menjawab jujur, “Kau hanya takut.” Perempuan itu memilih untuk menyerahkan diri atas kejahatan yang telah lama ia sembunyikan.

Ramiel menyaksikan semuanya dengan gelisah. Ia mendatangi seorang pemimpin dunia dalam mimpi dan berkata, hentikan ini sebelum terlambat. Pemimpin itu menjawab dengan sinis, “Jika Tuhan menghendaki kehancuran, siapa aku untuk menolak?” Ramiel merasakan sesuatu runtuh di dalam dirinya.

Untuk pertama kalinya, manusia menggunakan nama Tuhan untuk membenarkan ketiadaan tanggung jawab. Lilith hadir di sana. Ia menoleh, “Bukankah kehancuran juga bagian dari kehendak-Nya?” tanyanya lembut. Dan untuk pertama kalinya sejak penciptaan, Ramiel tidak memiliki jawaban.

Rahasia itu akhirnya terungkap di ruang terdalam fasilitas, tempat cahaya pun ragu untuk masuk. Di sana tersimpan artefak yang tidak pernah diciptakan, hanya diturunkan bersamaan dengan Lilith. Tombak Longinus. Ia bukan senjata, melainkan kunci yang mampu menembus keabadian mutlak.

Struktur kristal merahnya mengalir seperti darah dan berdenyut seperti jantung yang terpisah dari tubuhnya, menunggu tangan yang tepat. Lilith berdiri di hadapannya, rambut kebiruannya melayang tanpa angin.

“Aku tahu akhirnya,” kata Lilith. “Aku melihatnya sejak aku lahir.” Lilith menatap Ramiel lama, lalu bertanya, hampir seperti anak kecil, “Apakah kau menyesal melindungi manusia?” Ramiel menjawab tanpa ragu, “Tidak.” Lilith tersenyum sedih. “Itulah mengapa aku harus melakukannya.”

Ramiel menggeleng. “Aku tidak akan membiarkanmu—”

“Kau tidak bisa menghentikan kehendak Tuhan dengan tanganmu.”

Ketika Lilith menggenggam tombak itu, dunia bereaksi seakan menyadari akan kehilangan anaknya. Energi meledak, alam meraung, struktur bawah tanah mulai runtuh. Laut Mati di atas mereka bergolak kembali, seolah bumi sendiri ingin menutup lukanya yang mulai terbuka lagi. Ramiel mencoba menghentikannya, namun kehendak Tuhan tidak dapat dibatalkan meski telah mengabdi.

“Ramiel,” kata Lilith, mata biru yang mulai menggelap dan mata cokelat yang berkilau oleh kesedihan berhasil mengunci pandangan. “Aku adalah malaikat mautmu.”

Dalam satu gerakan yang terlalu cepat untuk dicegah, Lilith menusuk. Tombak Longinus menembus dada Ramiel, tepat di jantung, tempat cahaya yang selama ini membuatnya abadi. Darah mengalir deras ditemani cahaya biru yang memancar keluar dari tubuhnya. Langit menjadi gelap, penuh dengan jeritan dari perut bumi, dan laut mengamuk tiada henti.

Ramiel jatuh. Sayapnya retak, bulu-bulunya luruh menjadi debu cahaya yang perlahan naik seperti doa yang diijabah. Dalam detik-detik terakhir, Ramiel tersenyum. “Jika ini yang Tuhan inginkan,” bisiknya, “maka biarlah manusia memilih nasibnya sendiri.” Lilith melepaskan tombak itu. Tubuh Ramiel mulai terurai menjadi partikel cahaya, naik ke atas menuju surga yang sudah ditentukan.

Setelah kejadian itu, dunia berubah. Tidak ada malaikat agung yang mengatur keseimbangan. Tidak ada tangan tak terlihat yang menahan kehancuran. Manusia kini sepenuhnya sendiri. Lilith menghilang.

Beberapa bersumpah ia mati bersama Ramiel. Yang lain bersumpah melihatnya berjalan di antara reruntuhan kota, mengamati manusia sebagai mata Tuhan. Dan jauh di bawah Laut Mati, di cekungan yang kini menjadi makam cahaya, sisa-sisa Ramiel tertanam di sana. Ia masih menunggu, apa yang mereka lakukan tanpa malaikat?

Andai saja aku bisa, maka buatlah kesepakatan dengan Tuhan dan aku akan menyuruh-Nya bertukar tempat.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
galabet giriş | bahiscasino | bahiscasino giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet giriş | norabahis | jojobet giriş | Report Phishing | Ultrabet |