

Sudah sejak lama kita familiar dengan kebiasaan Prabowo yang kerap menuding kritikus kebijakan pemerintah sebagai antek-antek asing. Meme dan videonya pun banyak dan pasti terngiang saat ini di telinga pembaca~
Misalnya saat memberikan sambutan di acara Pembekalan Guru dan Kepala Sekolah Rakyat di JiExpo, Kemayoran, Jumat (22/8/2025).
Melalui acara tersebut, dengan percaya diri Prabowo mengatakan ada segelintir orang yang entah sadar atau tidak mereka sudah jadi antek-antek asing dan pihak asing yang selalu menghalangi upaya Indonesia untuk menjadi negara maju.
Dalam rentang waktu yang lebih jauh lagi, saat merayakan HUT Partai Gerindra, 15 Februari 2025 di Sentul International Convention Center, Bogor, Prabowo mengingatkan ribuan kader Partai Gerindra agar mewaspadai kekuatan asing yang berusaha menghasut publik. Ia menuduh ada LSM dan media massa yang dibiayai pihak asing untuk membentuk opini.
Begitu pula saat sesi wawancara di Hambalang, Bogor, Prabowo menuding demonstrasi #IndonesiaGelap terkait penolakan terhadap Revisi UU TNI mendapat dukungan dana asing.
Di kesempatan lainnya, pada acara peringatan Hari Lahir Pancasila di Jakarta Pusat, Prabowo kembali menuding praktik adu domba oleh bangsa asing. Ia menyebut LSM kerap menjadi alat kepentiingan luar negeri, meski mengatasnamakan demokrasi dan hak asasi manusia.
Bahkan narasi soal antek-antek asing ini sudah ia gaungkan sejak masa kampanye 2024. Di Sidoarjo pada 9 Februari 2024, Prabowo mwnyebut ada pihak yang “menjelek-jelekkan Jokowi” karena menjadi kaki tangan asing. Lebih lengkap lagi, jargon antek asing sudah Prabowo gunakan sejak masa kampanye Pilpres 2014 dan 2019.
Yang terbaru, pada 15 Januari 2026 , di Istana Negara, di depan seribuan guru besar dan rektor universitas, Prabowo menyebut pengaruh asing menyusup ke media. Satu diantaranya Tempo. Prabowo mengatakan bahwa Tempo tak pernah mengupas keberhasilan pemerintah, termasuk soal swasembada pangan.
Berdasarkan puluhan (bahkan mungkin lebih banyak), Prabowo Subianto membangun citra dirinya sebagai figur yang paling waspada terhadap campur tangan asing.Meskipun Prabowo tidak pernah membeberkan siapa pihak asing yang dimaksud.
Lantas barang tentu dapat disimpulkan bahwa Prabowo adalah sosok yang sangat anti dan waspada terhadap asing.
Namun apakah sikap dan keputusan Prabowo senada dengan ucapannya? Mari kita lihaaat~
Kita coba cermati dari kejadian kenaikan tarif impor AS. Tarif impor AS yang awalnya 32% berhasil diturnkan ke angka 19% lewat lobi Prabowo.
Tentu saja negosiasi ini bukan tanpa syarat. Tarif impor barang dari AS ke Indonesia jadi 0 persen alias bebas tarif. Indonesia juga sepakat membeli energi AS senilai USD 15 miliar, produk pertanian USD 4,5 miliar, dan 50 pesawat Boeing yang sebagian besar adalah Boeing 777.
Menurut Listya, seorang dosen di Fakultas Bisnis dan Ekonomika, UII, Yogyakarta, sekilas kesepakatan ini tampak sebagai pencapaian positif yang berpotensi meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar AS.
Namun kalau ditelaah lebih dalam, terdapat ketimpangan yang sangat mencolok: yakni bahwa barang-barang AS akan masuk ke pasar Indonesia tanpa tarif dan tanpa hambatan non-tarif.
Perdagangan semacam ini beresiko tinggi bagi perekonomian nasional. Mengapa? karena dengan dibukanya akses pasar domestik secara penuh bagi produk dari negara maju seperti AS, industri dalam negeri yang pada banyak sektor masih dalam tahap bertumbuh, akan menghadapi tekanan kompetisi yang sangat berat. Wey! Dasar antek asheeeeeeng!
Logikanya, jika benar Prabowo begitu waspada terhadap asing, maka kewaspadaan itu semestinya hadir dalam bentuk perlindungan konkret terhadap kepentingan domestik, toh?
Kepentingan domestik/nasional kan bisa juga berhati-hati memutuskan kebijakan, lalu berpihakan pada industri nasional, dan ya sesederhana memprioritaskan anggaran untuk kebutuhan warga negara sendiri. Kalau contohnya seperti tadi, kentara sekali tidak mencintai produk dalam negerinya. Lantas, TKDN fungsinya apa dong?
Terbaru, Prabowo ikut terlibat dalam Dewan Perdamaian Dunia yang dibentuk Presiden Amerika, Donald Trump.
Menurut Prabowo langkah ini adalah peluang untuk mencapai perdamaian di Gaza. Padahal, Amerika bisa dengan mudah menciptakan perdamaian di Gaza dengan menghentikan invansi Israel atau dengan menyetop bantuan pada Israel. That simple! 1+1? 2! Antek-antek asing? Kamu sendiri! Yang wajar aja!
Oh, ayolah! Keterlibatan Prabowo dalam Dewan Perdamaian Dunia bentukan Donald Trump memperlihatkan ironi “anti asing” dengan jelas sekali.
Jika Prabowo memberikan klaim bahwa keterlibatan itu demi perdamaian Gaza, maka lihat di sisi lain, forum tersebut justru lahir dari negara yang paling konsisten melindungi dan mendanai agresi Israel. Wey! Dasar antek-antek asheeeeng! (kembali terngiang).
Simpanlah “perdamaian” itu kalau kamu sendiri bergumul dengan pelaku akar kekerasan.
Kita semua sudah tahu bahwa zionisme sebagai proyek kolonial modern telah lama beroperasi melalui pembantaian sistemik dan penghapusan kehidupan sipil Palestina yang dilegalkan. Ingat, ya. Dilegalkan dan dibiarkan terjadi, bahkan sampai sekarang!
Keputusannya untuk terlibat di Dewan Perdamaian Dunia bahkan dipertontonkan dan dibangga-banggakan. Menjijikkan. Lepas lah peci lo Prabowo! Berhenti pakai atribut keagamaan! Malu-maluin Islam! *kata yang gak salat teh*
Bagaimana mungkin berbicara atas nama kemanusiaan, sementara memilih duduk semeja bersama penjahat genosida?
Minpang kemudian membelokkan pertanyaan dari “Siapa yang disebut asing” menjadi begini:
Organisasi Keagamaan Besar di Indonesia (sebut saja Islam) seperti apa ya, responsnya?
NU dan Muhammadiyah saya yakin kita semua paham bahwa keduanya memiliki sejarah panjang dalam membela kemanusiaan, menentang penjajahan, dan berdiri bersama yang tertindas. Setuju, kan?
Apalagi ketika negara diminta menyetor dana sekitar Rp17 triliun untuk forum yang tak jelas juntrungan, mandat, dan dampaknya itu. Sementara warga di Sumatra masih berjibaku dengan dampak bencana, rumah hilang, mata pencaharian runtuh, dan bertahan pun sulitnya miunta ampun.
Otaknya di mana, Gamtenk?