

Di dunia ini, ada ribuan cara untuk menikmati lagu. Misalnya, kita bisa isi playlist MP3 ke abang-abang MP3, sewa kaset, atau yang paling umum datang ke konser andalan atau membeli rilisan fisik serta merchandise dari band yang kita sukai.
Tapi kemudian, bagaimana jika band tersebut telah bubar?
Konser mustahil digelar dan rilisan fisik hanya tersedia dalam bentuk bootleg. Tak jarang pendengar menemukan cara uniknya untuk menikmati dan merasa hidup dalam sebuah karya. Saya pun telah menemukan cara untuk menikmati adrenalin dalam salah satu lagu dari band The Smiths yang berjudul “The Lights That Never Goes Out”.
Saya sebagai orang Jawa merasa gembira dengan adanya pembangunan Jalan Pantura yang belakangan ini menjadi sorotan. Belakangan, jalanan yang menghubungkan sisi timur hingga barat di Pulau Jawa itu disoroti terkait kerusakan dan upaya perbaikan yang seolah abadi.
Meski The Smiths telah bubar dan kemungkinan tidak akan ada konsernya lagi, namun lagunya masih bisa dinikmati dengan melewati Jalur Pantura yang membentang dari Banten hingga ujung Banyuwangi. Lagu “The Light That Never Goes Out” seolah mengeluarkan nuansa aslinya jika didengarkan di sepanjang atau di sepenggal Jalan Pantura.
“To Die By Your Side”
Menurut pandangan saya, Jalan Pantura berhasil menghidupkan benda imajiner dalam lirik lagu The Smiths itu. Selama perjalanan, kalian akan kerap melihat wujud nyata dari double-decker bus atau ten-ton truck tanpa harus repot-repot berimajinasi.
Berjalan di antara kedua kendaraan besar itu pun seolah menjaga keseimbangan di atas jembatan siratal mustaqim. Sehingga lirik lanjutannya, “To die by your side~” pun menjadi tidak lagi sebatas impian, melainkan menjadi teka-teki kapan bus-bus bertingkat atau truk tronton ini menimpa mobil atau motor yang sedang dikendarai.
Bagi saya, kolaborasi lagu ini dan Jalan Pantura sukses menciptakan adrenalin bagi pendengar. Pada titik itulah saya benar-benar menghayati lirik berikut ini.
“And in the darkened underpass
I thought, ‘Oh God, my chance has come at last!’
But then a strange fear gripped me
And I just couldn’t ask”
Berjalan di tengah tronton dan bus tingkat seolah bertaruh hidup dan mati. Saya merasakan ketakutan aneh yang mencengkeram seluruh badan. Saya pun menyadari hidup layak untuk dijalani setelah berjumpa dengan potensi kematian yang tidak terduga.
Namun, peran bus tingkat dan tronton di Pantura lebih dari itu. Mereka berperan menciptakan kemungkinan lewat jalan-jalan berlubang. Di situlah tempat malaikat kematian nongkrong untuk menanti lengahnya pengendara.
Kecelakaan di Jalan Pantura sudah bukan hal yang asing di media-media. Seorang kawan yang tinggal di Batang pernah bilang bahwa musim hujan tak hanya menurunkan air, tapi juga kabar kecelakaan dari jalanan panjang ini. Beberapa di antaranya selamat, tapi tak sedikit yang syahid. Tak perlu kaget pula jika kalian melihat truk yang tidur miring, atau menabrak pembatas jalan–ini pemandangan (yang lama-lama menjadi) biasa.
“The Light Never Goes Out”
Jalan Pantura seolah tak pernah istirahat dari lampu-lampu kendaraan. Siang dan malam selalu ada kendaraan lewat meski telah ada alternatif berupa jalan tol. Saya menganggap ini sebagai fasilitas untuk menghidupkan lirik berikut.
“Take me out tonight
Where there’s music and there’s people
And they’re young and alive
Driving in your car
I never, never want to go home
Because I haven’t got one”
Lampu-lampu kendaraan ini tak hanya membantu sopir atau pengendara terhindar dari tilangan, tetapi sekaligus mengemban peran sebagai lampu jalanan. Pasalnya, saya menyaksikan bahwa masih ada beberapa jalan yang minim penerangan. Contohnya, di daerah Batang di area Alas Roban dan sekitarnya.
Saya lebih merasa terbantu dengan penerangan kendaraan, daripada lampu jalanan yang dibangun dengan uang pajak masyarakat. Untuk itu, ajaklah kekasih kalian untuk berkelana di sepanjang Pantura. Selain bisa membantu pengendara, jalan yang membentang dari barat ke timur itu jelas tidak bisa ditaklukkan dalam satu malam minggu. Jalan Pantura bisa menjadi jawaban jika kekasih kalian menolak untuk diantar pulang.
Jangan khawatir, di Pantura juga ada musik dan orang-orang yang hidup. Mereka selalu menanti di setiap lampu merah. Ada yang berwujud silver, ada yang berkostum badut, ada pula yang tampil apa adanya dengan pengeras suara tergantung di leher. Keberadaan mereka yang diiringi playlist dangdut dan lagu anak jalanan tak akan membiarkan perjalanan kalian membosankan.
“Such a Heavenly Way to Die”
Ratusan kecelakaan terjadi setiap tahunnya di Jalan Pantura. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi pun mengakui bahwa kondisi Jalur Pantura menjelang mudik lebaran 2026 kerap memicu kecelakaan lalu-lintas. Dedi menyebut, salah satu titik rawan berada di Cikampek, Kabupaten Karawang.
Ia menuturkan banyak lubang di jalanan yang berbahaya. pemerintah berharap proses perbaikan bisa diselesaikan secepat mungkin dan mengimbau pengendara untuk berhati-hati.
Kecelakaan memang tidak tercantum di kalender, namun penyebabnya seharusnya bisa dicegah. Meski demikian, kerusakan jalan yang tak pernah selesai ini serupa wahana untuk menyapa kematian dengan sesaat.
“And if a double-decker bus
Crashes into us
To die by your side
Is such a heavenly way to die
And if a ten tonne truck
Kills the both of us
To die by your side
Well, the pleasure, the privilege is mine”
Lirik itu mungkin ada benarnya, bahwa meregang nyawa di jalan merupakan cara surgawi untuk meninggal dan termasuk dalam golongan syahid. Namun, kehilangan nyawa akibat kelalaian pembangunan infrastruktur tidak bisa dibayar oleh apa pun di dunia. Layak para korban mendapat “privilege” surga di sisi-Nya.
Harga Wahana Pantura
Di luar kecocokan dengan lirik lagu The Smiths, saya sempat bertanya-tanya,
Berapakah anggaran yang harus dirogoh pemerintah untuk pembangunan wahana Pantura ini?
Saya tidak menemukan data terbaru, namun pada 2014, Badan Pemeriksa Keuangan pernah menyatakan bahwa kerusakan Pantura disebabkan oleh lemahnya pengawasan pemerintah terhadap penggunaan jalan. Pada tahun itu, Kementerian Pekerjaan Umum menggelontorkan dana Rp 1,3 triliun untuk memperbaiki jalan pantura.
Kemudian BPK menemukan kejanggalan pada anggaran sebesar Rp 106,96 miliar yang dikeluarkan untuk proyek itu. BPK menyebut ada kelemahan dalam pelaksanaan kontrak berbasis kinerja dalam paket konstruksi jalan. Ada pula temuan lain yang mendukung kerusakan jalan, seperti penggunaan material yang tidak sesuai standar dan struktur tanah pada lokasi pembangunan.
Melihat data ini, saya pun mengerti bahwa oknum pemerintah pernah dengan sadar ikut andil dalam pembuatan wahana ini. Terlebih, KPK pernah menyebut bahwa proyek infrastruktur jalan memiliki titik rawan korupsi.
Menurut KPK, potensi korupsi terjadi pada tahap perencanaan dan penganggaran proyek infrastruktur. Biasanya korupsi meliputi intervensi program di luar kewenangan Kementerian Pekerjaan Umum, penyalahgunaan wewenang, suap dalam alokasi anggaran, dan permintaan fee alias japrem.
Namun, dengan adanya korupsi itu, pemerintah telah mewujudkan imajinasi Morrissey dan penggemarnya. Penggemar pun bisa menikmati lagu dengan nyata dan tidak lagi mengandalkan imajinasi. Mungkin ini pula penyebab naiknya pajak kendaraan baru-baru ini, yakni untuk memperbarui wahana kerusakan di Pantura.
Salah satu doa yang sia-sia bagi pengendara di Pantura adalah “semoga perjalanan mulus”. Itu menjadi doa yang muluk-muluk. Jika orang terdekat kalian akan melewati jalanan itu, cukup katakan, “nikmatilah dan selamatlah sampai tujuan”. Tak perlu mulus, selamat saja sudah cukup.
Sumber:
https://mojok.co/terminal/jalan-pantura-rembang-jalan-nasional-terburuk/
https://antikorupsi.org/id/jalan-rusak-dan-darurat-pengawasan-korupsi-infrastruktur
https://nasional.kontan.co.id/news/ini-penyebab-jalan-pantura-sering-rusakhttps://www.goodnewsfromindonesia.id/2024/12/31/kenapa-jalan-pantura-sering-rusak-kompleksitas-kondisi-di-jalur-pantai-utara-jawa#:~:text=Kompleksitas%20Penyebab%20Kerusakan%20Jalan%20Pantura,Semarang%2C%20dan%201%20di%20Rembang.