

Pijar enggan menyelinap ke jendela rumahku
katanya kaca tak berkenan membuka celah temu
meski berkali ia coba
hanya sangkal dan percuma yang didapatnya
Kini bahkan pijar entah kemana perginya
rinai disuruh menggantikannya
untuk hadir yang tak sekadar mampir
senandung hujan itupun seakan bertalu
menyisakan embun yang seolah membeku
Sementara aku terkapar bersama waktu
yang menuntunku menggelar sabar
mengarahkanku menuliskan syair pada ayah dan ibu
walau nyatanya tak bisa ditawar
Kedua tetua di rumah t’lah lama berselisih
hingga keduanya memutus kasih
agar segenap letih berkesudah
dan langkah keduanya tak butuh lagi searah
Aku pun diberi segenggam pilihan
atas sebuah keberpihakan
akan ke mana tujuku berhaluan
dengan siapa yang kuinginkan
maka saat itu keberatan adalah jawaban
Jalan tengah ku pilih dengan berani
tanpa keterlibatan mereka lagi
meski jalan itu kering perlahan ia sejuk basah
dengan sisa-sisa air mata yang ku bawa
walau terbilang hening
aku datang dengan nyanyian bait puisi
yang tak sekalipun terhenti
Para tetangga tak percaya
jika aku bersenandung tentang sendu
yang mereka tahu rumahku berapi-api bahagia
Tetua rumahku dengan sengaja
mendidik tuk pandai berpura
bahkan setara dengan lakon-lakon di media
Wajahku tampak biasa memancarkan cita
mulutku mudah mengeluarkan keelokan rasa
semua itu kuberi pada dunia di luar sana
Namun siapa yang peduli untuk bertanya
tentang bagaimana aku sebenarnya
Riakan panjang di rumah itu tak berkesudah
hingga menjadi lumrah
dan aku dijejal kata pasrah
Suka menulis puisi dan cerpen. Beberapa termuat dalam antologi Enigma (2025) dan Gerbong-Gerbong Tumpukan Pinta (2025). Instagram @iii_na9
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!