

Kacau sedikit, sebat.
Kalah ekonomi sedikit, melarat.
Kenapa harus diam saja?
Tidak unjuk rasa kah,
Kepada si aparat?
Mau, kematianmu diatur?
Kamu mau, pikiranmu diajak tidur?
Lalu si abdi negara?
Seenaknya ngelantur.
Begitu enaknya ya melihat negaramu hancur.
Katanya sayang
Katanya berbobot.
Apanya?
Kolot.
Menapakkan kaki di tanah bumi suci.
Merasa tinggi di dunia penuh ilusi.
Menolak segala bentuk komunikasi.
Bertolak belakang dengan manisnya janji.
Engkau ini berwujud manusia,
Namun tingkah laku tak berwibawa.
Senang kalau kau sebelumnya tak pernah ada.
Karena buat apa melupakan sesama?
Mana dia, janji-janjimu?
Di mana kau pegang kata-kata itu?
Kalau tidak dapat bertindak dengan layak,
Sebaiknya turunkan jabatanmu, pak.
Negara dipermainkan bak balok susun.
Wewenang diubah seenaknya seperti coretan di kertas kecil.
Apa kabar rakyat yang di dusun?
Apa perubahan di kota misil?
Tulisan orang berdosa.
menganggap segalanya bisa diraja oleh kuasa.
Siap-siap menerima balasan.
dari kami yang semula kau beri belas kasihan.
:
Si pelajar baru-baru ini punya ketertarikan baru.
Tarikan jiwa belatung tergabung sepi tapi peka terhadap hidup.
Satu perubahan saja sudah beribu cukup buatku bertanya.
“Sebenarnya aku ini dianggap sebagai apa?”
Tidak semua ulat berubah seindah kupu-kupu haru.
Tidak semua manusia memperbaiki rusak-rusuk dunia busuk.
Ketika keadaan semakin absurd, keabsurditas hidup ini membawa suatu keadilan yang nyata.
Atau
mungkin
tidak?
Moralitas ampas.
Pikirku manusia memang akan segera sembuh jika sudah menebus dosa-dosa.
Nyatanya yang kucari bukan kata “maaf” dari mortal.
Tapi ajakan duduk di tengah gelap-gelapan, bertukar moral.
“Gak apa, lihat luka-lukamu”
Dia lah si luka tersebut.
Kulit kepala penuh air, dan rambut.
Kental manis, bau amis.
Gagang kokoh, orang bodoh.
Tancap, kacap, gagap.
Bisa bernapas tidak?
Mampu membalas tidak?
Sama seperti diriku dulu.
Haus keadilan.
Dan akhir lah semua oleh penumbuhan. Adil, kan?
Lantas,
ketika sudah semuanya ditebus, persoalan tentang apakah keadilan itu nyata akan terjawab?
Penciptaan berupa penalaran yang ditolak atas pembenaran moral,
rupa-rupanya bikin hilang akal.
Perlu kah diri berubah?
Jadi apa?
Jadi serangga, supaya tak harus taat hukum dan dibenarkan bila melanggarnya.
Konsekuensi : Diasingi, diasingkan, disaingi.
Atau jadi manusia, dan terima atur-mengatur bermoral tinggi, menjunjung semua aturan?
Konsekuensi : Direndahkan, diremukkan, diremehkan.
Jadi makhluk absurd atau makhluk bermoral. Keduanya sama-sama hancur oleh sistem.
Si pelajar pernah menjadi yang bertabrakan di awang-awang remang.
Terbentur keras antara nalar dengan nurani.
Antara idealis yang kritis dengan kenyataan manusiawi yang miris.
Dicoba-coba jadi superhero di film-film.
Tapi nyatanya diri cuma manusia,
punya hati dan empati.
Sayang, aku berubah menjadi si buruk yang tidak berguna pagi ini.
Karena kurang sadar diri.
Kurang mengerti diri.
Kurang kenal diri.
Bagaimana caranya aku bisa membahagiakanmu dengan kondisiku sekarang, ya?
Kalau aku sekali saja tak berguna di dunia bangsa satu ranah kita,
akankah kau merasa jijik dan mengharuskanku mengurung diri di dalam kamar?
Sekali saja, dan tidak ada toleransi.
Sekali saja, dan anggaplah aku mati.
Akankah aku dianggap sebagai manusia kalau aku berguna?
Akankah lemahku, sakitku, tidak akan diambil sebagai libur paripurna?
Aku hanya berubah dari sehat ke sakit,
bukan dari orang ke walangsangit.
Mengapa perubahan iklim tubuh ini kau anggap jadi beban intim?
Sayang, aku berbau bangkai.
Bangkai yang dulu kau tunjuk sebagai hal jijik,
yang wajib aku gapai.
Sekarang aku lah si kejijikan itu ; tidak sesiapa pun mampu menjinakkan.
Mandiku tak membuat aromaku harum,
Aturan-aturanmu tak membuatku teratur.
Sayang,
Keadilan diciptakan cuma bisa dinikmati bagi yang berkuasa.
Kalau bukan termasuk dari salah satu golongan,
maka sebutlah
buangan.
yang. berbau. kotoran. dan. menjijikkan.