Wednesday, July 24, 2024
Cart / Rp0
No products in the cart.

Dirty Vote: Film untuk Semua Orang

Dirty Vote akan menjangkau semua orang yang tertarik dengan pemilu, termasuk tetangga saya di Cikampek: gerombolan emak-emak yang kesehariannya mengasuh anak sambil bancakan atau sekadar rujakan di depan rumah

Seperti biasa, Watchdoc selalu punya substansi untuk menggemparkan kita di last minute gitu ya dan saya akhirnya menyebutnya dengan Watchdoc Attitude (in a good way) tentu jha. Saya masih ingat menonton dokumenter Ciptagelar tahun 2016-an di rumah teman di Ciparay. Pas saya nonton ya ada ngantuk-ngantuknya, tapi saya excited melihat kehidupan yang tiis ceuli herang panon tanpa knalpot brong itu tentu jha. Selanjutnya, saya selalu diasupi film-film Watchdoc seperti Kendeng, Samin, dan dokumenter buruh pabrik yang saya lupa judulnya. Tontonan yang dipaksakan kepada saya akhirnya membuka wawasan saya sama banyak hal. Saya jadi ketagihan nonton Watchdoc.

Saya aktif mempelajari hal dengan baca buku, tapi tentu saja saya juga butuh media lain yang bisa saya rampungkan dalam kurun waktu 1-2 jam, dan Watchdoc adalah solusinya. 3 tahun kemudian, saya tiba-tiba jadi Anak Kamisan dan masih suka nonton Watchdoc. Tahun itu, Sexy Killers dirilis. Sama seperti Dirty Vote, Sexy Killers disebar ke masyarakat menjelang pemilu. Penayangan Sexy Killers tersebar begitu masif dan tembus 14 juta penonton dalam kurun waktu 5 hari. Which is good, saya senang ketika hal-hal seperti ini ramai dibicarakan dan menjadi santer. To be honest, saya menggugurkan hak pilih pertama saya karena nonton Sexy Killers.

Kemudian 2024 ini, di tengah kemuakan saya sama pendukung dan buzzer 02, Watchdoc merilis Dirty Vote yang lagi-lagi menelanjangi Holder of Power di sekitar kita. Berbeda dengan garapan-garapan yang saya tonton sebelumnya, kali ini Watchdoc menghadirkan 3 Narasumber dengan metode presentasi dalam 1 kali take (saya ngiranya sih 1 kali, tapi pasti 1 kali kayaknya). Kalau sebelumnya film-film Watchdoc banyak menghadirkan visual pemandangan sekitar, kerusakan alam, atau aktivitas di lokasi, dengan konsep yang berbeda Dirty Vote menayangkan 80% pemaparan dari Bivitri, Feri, dan Zainal. 20% sisanya adalah jejak digital Jokowi yang fafifu blau-blau.

Lagi-lagi buat Watchdoc, saya acungkan jempol saya yang meskipun jempol saya juga gak penting-penting banget. Anyway, saya senang karena Dirty Vote bisa menjangkau masyarakat secara luas. Meskipun pada dasarnya, film-film Watchdoc memang layak dinikmati banyak orang dari semua kalangan. Namun yang saya lihat, Dirty Vote akan lebih banyak menarik penonton dari berbagai elemen.

Let’s just say, Sexy Killers bisa jadi santer dan terkenal di kalangan mahasiswa, buruh, aktivis lingkungan, dan lain segala macam (karena mungkin keterjangkauannya pun terbatas). Tapi Dirty Vote akan menjangkau semua orang yang tertarik dengan pemilu, termasuk tetangga saya di Cikampek: gerombolan emak-emak yang kesehariannya mengasuh anak sambil bancakan atau sekadar rujakan di depan rumah. Yang tentu saja hal ini adalah hal baik menurut saya dan terasa menyenangkan seolah membuat saya ingin mengadakan nobar di kompleks perumahan dan meneriakkan kalimat semacam: kita memiliki musuh yang sama. Singkatnya, diskursus yang jadi fokus utama membuat Dirty Vote terasa lebih ‘merakyat’ dan inklusif.

Juga untuk mengingatkan kita bahwa semua ketimpangan yang seolah ditakdirkan Tuhan pada kita bersifat sistemik: dirancang dan dikelola secara bersama-sama untuk apapun itu tujuannya. Posternya bagus, suitable untuk saya yang sedang rajin main catur dan selalu memanipulasi Eja dengan kalimat semacam, “Kok kamu tega mau nyekak aku?” “Kalau kamu sayang ratu aku jangan dimakan, ya.” Film ditutup dengan menampilkan nyanyanyenye Jokowi, diikuti lampu yang dipadamkan, dan ketiga narasumber yang meleos pergi. Yang untuk saya dan Eja, itu adalah penutupan yang baik. Buat saya sendiri, penutupan itu terdengar seperti “Ah bacot lu! Terserah deh mo ngomong affaahh!

Lagi-lagi, Watchdoc menghadirkan film yang layak ditonton meskipun segelintir orang yang otaknya didengkul menilai film ini banyak fitnahnya, tidak objektif, dan care bebek wawawewe lainnya. Seolah Watchdoc sengaja membuatnya untuk menjatuhkan satu pihak tanpa melihat dokumenter lain yang dibuat sejak lama. Premis yang sama seperti yang dilayangkan kepada Aksi Kamisan yang katanya cuma “isu 5 tahunan”.

Comments 2

  1. Sunday says:

    Meni niat atuh Rin, urg Oge sarua maca nepi beres da wawawawewewe
    Kelas Rin.

    • Arini says:

      Hahah dasar. Nuhunns dah baca wawawewe care bebek Arin, Ndayyy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Login dulu, lur~

Nyalakan Mimpimu!