

Aku terbangun dengan kaki yang pegal dan kepala yang goyang seakan aku masih menempuh jalan lintas Sumbar-Riau. Pagi ini aku tidak lagi di Padang, melainkan di Riau. Masih gamang rasanya meninggalkan rutinitas sehari-hari yang sudah terbiasa kulakukan di Padang semasa kuliah, dan kini setelah lulus aku harus beradaptasi dengan aktivitasku di Riau, kampung halamanku sendiri.
Sebelum Bapak menyuruhku mengikuti tes CPNS, aku sudah memikirkan apa yang aku lakukan di sini. Aku akan melakukan ini-itu: bertemu si A atau si B, membuat berbagai hal, dan semua persoalan menyenangkan lainnya.
Baru beberapa hari di sini, aku sudah rindu kota Padang, aku rasanya seperti pergi merantau ke sini, malah kebalik. Aku juga rindu kekasihku. Uhuy! (yang ngedit menangys aja)
Di sini kawan-kawan sepermainanku sudah pergi entah kemana. Kalau kekasihku ada di sini, tiap hari akan kuajak ia mengelilingi Riau seperti yang kami biasa lakukan di Padang dulu; melewati jalanan By Pass yang berdebu dan terkadang macet dengan senang hati, walaupun biasanya nanti di pertengahan jalan pasti ada aja ada pemandangan dari tingkah penggunaan jalan raya yang bikin aku geleng-geleng kepala.
Waktu itu rasanya aku pengen punya kekuatan super jadinya, sehingga aku bisa terbang menghindari asap knalpot pengendara yang memekakkan telinga dan terhindar dari amarah karena perilaku mereka. Aku juga rasanya seperti mau ke medan jihad; sudah kusiapkan peluru yang akan kutembakkan dari mulutku. Kalau misalkan ada orang yang macam-macam nanti, aku tidak akan segan-segan melawan!
Aku selalu berpesan kepada kekasihku, jangan sesekali melanggar lalu lintas. Iya lho, benar. Harus taat supaya cepat sampai tujuan, bukan ke rumah sakit atau ke alam kubur.
Sekarang, coba pilih mana: berkendara dengan baik? atau melanggar?
Bahkan kadang, ketika kita sudah taat pun, kita masih tak melulu selamat di jalan karena para pelanggar itu. Ingat, bahkan kalau kita hati-hati aja, yang make jalan kan bukan kita doang.
Aku heran betul, mereka yang melanggar lalu lintas itu tidak punya otak atau gimana ya? Otak sih ada ya, tapi gak dipakai aja (malah jawab sendiri). Mereka tahu gak sih resiko macam apa yang akan mereka dapatkan nanti?
Mereka yang melanggar ini, banyak alasannya jika ditegur. Seakan apa yang diperbuat olehnya adalah hal yang wajar. Kasih saran dong! Bagaimana cara menegur mereka-mereka ini?
Yang jelas, mereka ini sebenarnya tak pantas mendapatkan surat izin mengemudi! Ya, namanya juga negara kita tercinta ini, semuanya pasti akan kita dapatkan jika ada uang ketika mengurus suatu hal.
Apa itu tes berkendara? Langsung bayar saja lah! ngapain susah-susah.
Ada beberapa perilaku pengendara yang seharusnya jatuh tertimpa tangga atau lebih daripada itu; sudah jatuh tertimpa unta! Kalau kalian berjumpa dengan perilaku berikut ini, jangan cuma ditegur saja ya, sumpahin mereka jadi ban dalam sekalian!
Berikut aku rangkum beberapa jenis pelanggaran yang paling bikin keki berdasarkan pengalamanku.
Merokok Saat berkendara
Mataku perih karena terkena abu rokok pengendara sepeda motor di depanku. Aku coba mempercepat laju motorku dan menegurnya pelan, aku sama sekali tidak berniat untuk mengajaknya ribut,
“Tolong dong, kalau merokok jangan di jalan!” gerutuku pelan, sambil mengucek mataku yang sulit sekali terbuka ini.
Tanpa perasaan bersalah, mulutnya yang sudah sehitam aspal itu malah ngomong, “Iya Bang, nanggung, bentar lagi habis!”
Oh, mendidih lah air di termos dadaku! Kutepok kepalanya gak jadi orang dia!
Sudah saatnya aku menyeduh kopi dan mengajak keledai jantan ini menepi dulu. Ah, pasti enak sekali ngopi di pinggir jalan sambil menikmati jalanan yang macet itu. Sayangnya, keledai jantan itu langsung tancap gas, padahal aku ingin mengenal lebih jauh bagaimana keledai jantan kalo minum.
Bagiku, merokok di ruang publik itu salah besar, termasuk di jalan; bahaya sekali terkena abunya yang panas ke mata pengendara lain. Lagipula tidak semua orang mau terkena asap rokok, apalagi ada anak-anak? Mereka dapat enaknya, kita yang dapat imbasnya. Seharusnya Indonesia memiliki aturan seperti negara Singapura, kalau mau merokok hanya boleh di tempat tertentu, jika melakukan pelanggaran, para perokok akan mendapatkan denda.
Melawan Arus
Aku tidak tahu, apakah kalau sudah di jalan itu yang salah jadi benar dan yang benar jadi salah, ya?
Melawan restu saja sudah berat, jadi kuharap kalian tidak ikut-ikut juga melawan arus, ya! (ini editor yang bilang)
Ini kejadian padaku, baru-baru ini, ah aku malas sekali mengingat kejadian ini. Seperti biasa, aku baru pulang mengantar kekasihku sehabis kami jalan-jalan senja, raut wajahku terpancar cahaya; aku senang sekali rasanya. Namun, cahaya itu redup perlahan karena aku hampir menabrak pengendara yang melawan arus.
Untung saja, dapat aku hindari tapir betina itu. Aku ditatapnya panjang, pada saat ini aku langsung curhat sama Allah,
“Ya Allah, apakah tadi yang salah itu aku? Kalau iya tampakkan kesalahan aku ya Allah!”
Aku berusaha menenangkan diri (sebenarnya tidak), kepalaku rasanya gatal sekali ingin digaruk sekencang-kencangnya. Aku sangat bingung. Kenapa seakan aku yang salah ya? Apakah selama ini ada orang yang membenarkan perbuatannya?
Aku jadi penasaran, gimana ya kalo tapir betina itu ketabrak orang? Aku rasa ia akan minta ganti rugi deh. Sumpah, kalau demikian kejadiannya sungguh lucu sekali; lebih lucu dari Mens Rea Pandji. Hihi.
Nerobos Lampu Merah
Aku melihat orang-orang kok bisa pada sabar ya kalo ngantri seblak? Tapi kenapa nggak diterapkan juga di jalan ketika lampu lalu lintas berubah warna merah?!
Aku jadi kepikiran, apakah batas sabar itu ada tempatnya juga ya? Mengingat nyawa kita cuma satu, bagiku menunggu lampu lalu lintas berwarna hijau tidak begitu lama, tidak selama ngantri seblak.
Hujan badai saja sebaiknya kita tunggu. Takut juga jika nanti dipilin-pilin angin kan? Lalu dihantam tubuh kita ke sepohon kayu besar, pohon tersebut tumbang & badan kita terhimpit. Jika sudah kejadian seperti ini. Orang-orang juga tidak akan sanggup menolong kita, mereka lebih memilih untuk menyelamatkan diri mereka dahulu.
Aku melihat orang-orang yang menerobos lampu lalu lintas adalah mereka yang lagi kebelet berak. Mungkin tahinya sudah di ujung kali ya?
Sumpah, aku kesal dengan satu pengendara, mereka sepasang suami istri, membawa anak mereka yang kira-kira berusia 1 tahun. Bayangkan, sudah jelas membawa anak-istri, monyet sok jantan itu masih bersikeras untuk menerobos lampu merah. Benar, pada saat itu cuaca lagi panas-panasnya. Kalau dia beralasan,
“Kasihan anakku kepanasan,” ya tetap saja bukan keputusan yang bijak!
Kan ada kain, tutup dong badan anakmu. Begitulah monyet jantan, biasanya hidup di hutan & bergelantungan di pohon-pohon, sekarang malah turun ke jalan mengendarai sepeda motor (lupa lagi masang rantai di lehernya). Bahkan monyet betulan pun gak gitu, ah!
Bonceng Tiga
Sepeda motor dirancang untuk membawa 2 orang saja. Selayaknya kita yang terbiasa makan tiga kali sehari dipaksa makan sepuluh kali; Apa yang terjadi? pastinya begah sampai muntah-muntah nanti. Kita jangan mengelak, pasti kita pernah bonceng tiga dengan kawan-kawan, bercanda-canda hingga akhirnya ditegur oleh pengendara lain. Kesalahan ini tidak dapat ditoleransi, harus diubah!
Waktu itu, sore sudah semakin menutup pintunya, di jalanan semua tampak buru-buru pulang ke rumah, aku baru saja pulang dari mengantarkan kekasih ke kosannya (hehe). Badan rasanya lelah sekali karena jogging tadi. Aku berhenti karena lampu lalu lintas berganti menjadi warna merah. Mataku menyaksikan sekelilingku, pasti ada tingkah aneh dari para pengendara lain. Benar saja, di sebelah kiriku ada pengendara yang bonceng tiga; 2 lelaki, 1 perempuan.
Entah apa yang ada di pikiran mereka, si cewek duduk di tengah-tengah, dia dihimpit oleh dua lelaki yang sepertinya lebih besar darinya. Ini sudah pelanggaran lalu lintas yang maksimal sekali.
Tidak hanya itu, mereka bertiga ini seakan berada di ruang karaoke, ribut sekali. Pokoknya mereka merasa di dunia ini hanya ada mereka bertiga saja. Seorang bapak-bapak berteriak pada mereka,
“Terus! Hantam!” tampak masam raut wajah bapak itu pada mereka.
Aku seperti melihat guru ngaji yang di tangannya menggenggam rotan sepanjang satu meter.
Kalian penasaran kan dengan respons mereka bagaimana? Seperti biasa, senyum-senyum tak tahu malu, lalu menggas motornya sekencang mungkin setelah lampu lalu lintas berubah jadi hijau. Aku yang sudah kehabisan energi sore itu hanya bisa menghela napas panjang & kembali berdoa keselamatan atas mereka bertiga (lagi-lagi berdoa).
Kalian bagus-bagus saja ya ketika berkendara di jalan. Kalau kalian masih melakukan apa yang terjadi di atas, mending cepat-cepat tobat deh!
Aku yakin pembaca nyimpang (mungkin) tidak akan menyimpang ketika berkendara. Pake helm jangan lupa juga! Gak peduli dekat atau jauh. Mau nanti kepala kalian geprek?! Ingat orang yang menunggu di rumah, apalagi kalian yang masih ngekos, jangan tambah bikin pusing kepala orang tua kalian ya!
Sudah ya, aku mau ganti oli dulu. Salam karbu!