

Beberapa waktu terakhir, dunia terasa semakin bising. Media sosial dipenuhi perlombaan pencapaian, ruang publik dijejali amarah, sementara kabar korupsi seolah datang silih berganti tanpa jeda.
Dalam situasi seperti ini, tak sedikit orang yang merasa kehilangan pegangan tentang bagaimana seharusnya menjalani hidup, seperti kapan harus bergerak cepat, kapan harus merasa cukup, dan bagaimana memandang kehidupan orang lain tanpa dipenuhi iri maupun prasangka.
Di tengah kebisingan tersebut, falsafah-falsafah Jawa menawarkan jeda untuk berpikir. Meski lahir dari kebudayaan lokal, nilai-nilai yang dikandungnya tidak pernah benar-benar usang. Melalui buku Ajaran Bahagia dari Jawa karya Paksi Raras Alit, saya menemukan beragam petuah yang bukan sekadar warisan bahasa, melainkan dapat menjadi panduan laku hidup.
Apakah kalian pernah mendengar celetukan beberapa orang perihal pekerjaan yang dilakukan oleh orang bersuku Jawa?
Celetukannya seperti ini, “Wong Jowo ki nek kerjo pancen teliti, alon nanging kelakon!”
Kalimat tersebut memiliki arti orang Jawa kalau bekerja itu teliti, pelan tetapi dapat dituntaskan sesuai kesepakatan. Stereotipe tersebut meski tidak terlalu mengakar kuat di memori masyarakat, tetapi masih ada sebagian orang yang mengingat etos kerja dari orang Jawa.
Sekilas kalimat di atas memang tampak menyilaukan mata dan mampu membuat kita menjadi melayang-layang–karena terbawa arus senang. Namun, pada titik tertentu jangan sampai kita menjadi lengah. Lantas lengah seperti apa yang dimaksud? Lengah ketika mendapat makian dan akhirnya celaan tersebut mampu menyentuh hati kecil kita.
Tugas kita sebisa mungkin menyiapkan barikade yang tebal agar hati mungil kita tak mudah dirobohkan oleh cacian dari orang yang mungkin tidak terlalu dekat dengan kita. Jika kita terlena akan celaan tersebut, yang ditakutkan ialah pada saat bekerja menjadi grusa-grusu atau bertindak dengan gegabah, tergesa-gesa.
Salah satu implikasi yang dapat muncul apabila pekerjaan yang kita lakukan dengan terburu-buru ialah jauh dari kondisi optimal. Bisa jadi kerjaan tersebut sebenarnya dapat terselesaikan jika kita melakukannya dengan perlahan. Namun, tatkala kita sudah terjerat dengan gunjingan, meski tubuh kita sedang prima, pikiran kita bisa jadi sedang ke mana-mana karena tersulut oleh emosi negatif.
Jika ajaran pertama tadi ditujukan bagi para kelas pekerja, maka ajaran kedua ini akan ditujukan bagi para penguasa. Falsafah yang kedua ialah nrimo ing pandum yang artinya terimalah pemberian semesta dengan bahagia.
Falsafah ini mengajarkan pada kita bahwa manusia diwajibkan untuk memahami bahwa jatah rezeki sudah ditentukan. Berkaitan dengan rezeki, saya tidak akan memaksa para pekerja kelas menengah dan bawah untuk bersyukur. Justru saya berharap ajaran ini dicetak besar-besar, kemudian diberikan di tiap meja kerja para penguasa.
Mengapa demikian? Sepertinya sudah menjadi rahasia umum bahwa terdapat oknum penguasa yang menyalahgunakan jabatan mereka untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Contoh paling baru ialah dugaan penyimpangan korupsi dana Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh eks Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana.
Selain Dadan, ketika jari-jari kita mengetik kata kunci korupsi di Google, tak sedikit berita yang muncul dan melibatkan para penguasa. Hal ini barang tentu yang merasakan kerugian paling besar ialah masyarakat Indonesia. Bayangkan kita sudah memilih para wakil rakyat yang siap siaga untuk mengakomodir aspirasi rakyat, tetapi malah melakukan tindakan bejat. Jadi sakit hati masyarakat.
Berdasarkan hal tersebut, penting bagi para penguasa agar dapat belajar falsafah nrimo ing pandum agar dapat memahami bahwa rezeki itu sudah diatur oleh sang pencipta, bukan oleh budaya korupsi yang merajalela. Selain dipahami, alangkah baiknya juga diaplikasikan, agar rantai penyelewengan kekuasaan dapat segera diputuskan.
Setelah selesai memberikan rujukan bagi penguasa, ajaran Jawa selanjutnya bakal terasa tampak dekat dengan kehidupan kita, yaitu wang sinawang. Wang sinawang berarti hidup orang lain tak selalu lebih indah dari hidupmu.
Ajaran ini sebenarnya menuntun kita untuk agar lebih mudah menjaga lisan. Menjaga lisan supaya kalimat-kalimat yang tendensinya kurang tepat bisa segera diminimalisir. Tujuannya ialah menciptakan keselarasan sosial dan dekat dengan keharmonisan.
Mungkin kita pernah mendengar bisik-bisik tetangga perihal salah satu warga yang akhirnya keterima kerja menjadi guru. Aku pernah mendengar seseorang yang berkata, “Wih, enak ya dah jadi guru sekarang. Pasti bahagia dan gajinya besar”. Eits, tapi tunggu dulu, jangan terburu-buru.
Pada kenyataannya, masih ada guru-guru yang jauh dari kesejahteraan. Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) Paruh Waktu di Kabupaten Sumedang, misalnya, masih ada guru mendapatkan gaji yang tidak manusiawi, yaitu Rp. 50.000,-.
Coba bayangkan susahnya mereka mengajar, ditambah dengan harus mengurus seabrek administrasi, eh, masih mendapatkan gaji yang bubuk padahal kerja mereka sudah maksimal.
Di sinilah posisi wang sinawang menjadi penting. Masih ada beberapa orang yang mengira bahwa dengan menjadi sosok guru, otomatis akan langsung dekat dengan kekayaan. Padahal tidak semudah itu. Dengan mengaplikasikan wang sinawang, kita akan meminimalisir kesimpulan-kesimpulan “primitif” agar tidak memicu pertikaian dalam suatu kehidupan.
Melalui prinsip wang sinawang, setidaknya kita tidak mengajukan pernyataan, melainkan pertanyaan seperti,
“Bagaimana setelah menjadi guru, apakah memang sejahtera seperti yang ada di sosial media?”
Justru dengan mengajukan pertanyaan yang bersifat reflektif, maka kita dapat menggali lebih dalam apakah memang seluruh guru sudah termasuk dalam kategori sejahtera, atau masih ada yang tenggelam di dalam arena kemiskinan?
Pada akhirnya, kebahagiaan mungkin tidak selalu lahir dari keberhasilan mengungguli orang lain, melainkan dari kemampuan mengendalikan diri sendiri. Falsafah Jawa tidak menawarkan jalan pintas menuju kehidupan yang sempurna, tetapi mengajarkan cara menyikapi hidup dengan lebih bijaksana. Di tengah derasnya arus informasi, budaya serba instan, dan hasrat untuk terus membandingkan diri dengan orang lain, petuah-petuah sederhana justru terasa semakin relevan untuk dijadikan penuntun langkah.
Barangkali kita tidak bisa mengubah dunia yang penuh kegaduhan dalam waktu singkat. Namun, kita selalu bisa memilih bagaimana cara meresponsnya. Bergerak tanpa tergesa-gesa melalui alon-alon waton kelakon, merasa cukup lewat nrimo ing pandum, dan berhenti menghakimi kehidupan orang lain melalui wang sinawang merupakan langkah kecil yang dapat membuat hidup lebih tertata. Sebab, perubahan besar sering kali bermula dari kesediaan seseorang untuk memperbaiki cara berpikir dan cara menjalani laku hidupnya setiap hari.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!