

Keberminatan masyarakat terhadap seni semakin meningkat dari tahun ke tahun. Ini terbukti dari ramainya peminat program studi kesenian di beberapa perguruan tinggi akhir-akhir ini. Namun, beberapa orang masih menganggap seni hanyalah sekadar sesuatu yang indah. Masyarakat masih menganggap bahwa yang perlu dinilai dari seni adalah hasilnya. Definisi ini tentu tidaklah salah, hanya saja begitu dangkal dalam pemaknaannya. Padahal, yang ditekankan dalam hal ini bukanlah output-nya, melainkan input-nya. Kesenian adalah tentang berproses untuk menggapai sesuatu yang indah, setidaknya menurut saya. Kalau tidak setuju, sila tulis dan buat argumen sendiri.
Di sekolah-sekolah, guru-guru seni masih mendoktrin siswanya untuk menghasilkan sesuatu yang indah. Bukan seni bila sesuatu itu tidak memiliki nilai estetika yang tinggi. Padahal, untuk menggapai nilai tersebut tentulah didapatkan dari berbagai faktor, termasuk faktor lingkungan yang membuat setiap kelompok memiliki gaya dan aliran seninya sendiri. Ditambah lagi, saya rasa segala hal di dunia ini nampaknya penuh dengan persoalan tafsir-menafsir dan pemaknaan.
Menurut Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto, segala hal yang kita lihat adalah hasil ekstraksi dari pengalaman-pengalaman terdahulu, kita melihat segala hal dengan ‘kacamata’ kita. Artinya, seni pun dapat dimaknai berdasarkan kacamata penikmatnya masing-masing yang mana siapa pun tidak memiliki hak dalam men-judge karya siapa pun. Argumen tersebut menunjukkan bahwa seni tidak memiliki harga diri di mata masyarakat, ia hanya dianggap sebagai sesuatu yang bermakna bila memiliki nilai estetika yang disepakati oleh masyarakat. Padahal, proses penciptaan seni pun merupakan bagian dari seni itu sendiri. Mulai dari pengagasan konsep, pembuatan, pemolesan, dan sebagainya. Memang, yang abadi adalah hasil secara fisik, namun yang menjadikannya bermakna adalah proses di balik itu. Seni menuntun kita untuk peka terhadap diri sendiri dan orang lain. Ini tentu memiliki keterkaitan erat dengan sastra yang lebih dulu tak lekang dari kehidupan manusiawi. Dengan kesimpulan, seni bukanlah tentang indah atau tidaknya suatu karya, melainkan dalam atau tidaknya gagasan yang dibawa dalam karya tersebut sehingga dapat dimaknai lebih serius oleh penikmatnya. Lagipula, indah atau tidaknya sesuatu itu kan subjektif sekali.
Tentunya masalah ini berakar dari kebiasaan masyarakat kita dalam menyikapi segala hal. Masyarakat kita cenderung pragmatis. Yang artinya masyarakat belum terbiasa untuk berpikir terlalu abstrak. Kita hanya berpikir tentang,
“Apa manfaatnya untuk kita?” bukan “Apa sudut pandang kita tentang hal itu?”
Kita seringkali melihat orang-orang yang malas untuk mempertanyakan kembali tentang yang dilihat dan dirasakan, atau bahkan bermalas-malasan menyikapi sesuatu. Padahal, seni kan tentang itu.
Lantas, pertanyaannya bisa menajdi, “Siapa yang dapat memaknai seni?”
“Comedian” karya Maurizio Cattelan yang viral beberapa waktu lalu digadang-gadang sebagai karya seni termahal: menampilkan sebuah pisang yang dilakban di tembok. Karya ini menuai kontroversi karena masyarakat menilai,
“Apaan? Gak ada indah-indahnya sama sekali, tuh!”
Bahkan, beberapa orang menyebut bahwa karya itu adalah bentuk pencucian uang. Ya bisa jadi benar, bisa jadi salah juga.
Ambillah contoh lagi, lukisan Van Gogh yang terkenal sampai sekarang. Pembaca tentu bakal mencoba memahami karya tersebut, dan bisa jadi ber-fafifu membicarakan maknanya menurut pendapat masing-masing, namun yang pasti tahu tentang pemaknaan lukisan itu ya si pelukis lukisan sendiri. Ada pula pelukis yang mengembalikan makna lukisan tersebut kepada penikmatnya, dan kalau ditanya, seringnya jawab
“Ya silakan saja dimaknai sendiri.”
Jadi, kalau pertanyaannya “Siapa yang dapat memaknai seni?” ya jawabannya semua orang.
Sehingga, perlulah refleksi yang lebih mendalam terutama para pegiat seni dalam menafsirkan kembali atas apa yang dilakukan selama ini.
Guru-guru kesenian tentulah harus melewati perjalanan yang panjang sebelum memberi pemahaman kepada peserta didiknya, bahkan guru-guru kesenian barang tentu memahami seni bertahan hidup dan seni menahan diri tidak mencaci-maki pemerintah. Semoga guru-guru kesenian bisa terus menuntun murid-muridnya mengenali seni buat penemuan jati diri manusia melalui jalan yang indah~
Yang jelas, segala hal di dunia ini adalah seni. Ia tidak terikat pada sesuatu yang dapat dilihat, didengar, dan dirasakan, tetapi juga sesuatu yang dapat direfleksikan. Ketika pembaca jatuh cinta, misalnya. Kita pasti harus mempelajari seni dalam mengambil keputusan, seni mengemudi yang baik, seni memilih film berdasarkan respons dan raut wajah pasangan, misalnya. Waktu putus cinta juga sama. Harus bisa mengaplikasikan seni menerima kenyataan, seni menyalahkan pemerintah karena tak bisa menyediakan aspal yang mulus dan membuat kita tak datang terlambat di hari penting pasangan kita.
Hal yang sama berlaku ketika Anda mencoba merawat tanaman, atau bahkan memulai bisnis.
Dengan demikian, seni bukanlah soal indah atau tidak, melainkan apakah proses dalam pembentukan hasil itu dapat dimaknai secara baik atau tidak. Maka, menjadi sebuah kekeliruan bahkan pelecehan apabila hanya menganggap yang indah adalah hasil, bukan prosesnya. Sebab justru di dalam proses itulah letak makna terdalam dari seni itu sendiri.