Hustle Culture itu Bukan Etos Kerja, itu Akal-akalan Konten!

Kapital memisahkan buruh dari hasil kerjanya; sekarang kita bangga dipisahkan dari diri kita sendiri. Dan menyebut itu kedisiplinan.

 

Ada yang ganjil dari cara kita merayakan kelelahan sekarang. Di FYP atau timeline yang kamu buka hari ini, pasti ada setidaknya satu orang yang memposting foto meja kerja jam satu pagi dengan laptop menyala, kopi sudah yang ketiga, dengan caption “No days off” atau yang lebih dramatis: “While you sleep, I grind.”

Unggahan itu dapat ratusan likes.

Kita tidak sekadar menerima kondisi itu. Kita rayakan. Kita jadikan konten. Kita monetisasi kelelahan kita sendiri demi validasi dari orang-orang yang sama persis lelahnya dengan kita.

 

Hustle Culture bukan Etos Kerja, Ia Ideologi yang Tidak Terasa Seperti Ideologi

Saya tidak sedang bicara soal bekerja keras. Saya bicara soal sesuatu yang berbeda: kondisi ketika kelelahan dijadikan identitas, ketika tidak istirahat dijadikan bukti keseriusan, dan ketika mempertanyakan semua itu dianggap sebagai tanda kelemahan mental.

Selamat datang di hustle culture! Ideologi yang berhasil menjual perbudakan sukarela dengan kemasan self-improvement.

Yang membuat saya gelisah bukan sekadar fenomenanya, tetapi lama saya tidak menyadari bahwa saya sudah berada di dalamnya.

Saya pernah bangga tidak mengambil cuti berbulan-bulan. Saya pernah membalas pesan klien di Hari Minggu jam tujuh pagi, lalu merasa produktif karenanya. Saya pernah menolak ajakan makan siang teman dengan alasan “lagi sibuk” padahal yang saya lakukan hanya duduk di depan layar sambil berpura-pura sibuk karena takut terlihat tidak serius.

Tidak ada yang memaksa saya. Tidak ada mandor, tidak ada ancaman. Yang ada hanya narasi kolektif yang saya serap perlahan tanpa sadar: kalau kamu tidak kelelahan, kamu tidak cukup serius. Kalau kamu berani istirahat, kamu sedang tertinggal.

 

Karl Marx Sudah Ngomong Ini 180 Tahun Lalu, dan Kita Tidak Mendengarkan

Karl Marx dalam Economic and Philosophic Manuscripts of 1844 memperkenalkan konsep entfremdung, alienasi. Dalam kapitalisme industri awal, buruh terasing dari empat hal sekaligus: dari produk kerjanya yang bukan miliknya, dari proses kerjanya yang tidak ia kontrol, dari sesama manusia yang digantikan kompetisi, dan yang paling dalam dari dirinya sendiri sebagai manusia yang punya potensi penuh atas hidupnya.

Yang menarik, sekaligus menyedihkan, adalah betapa konsep ini justru makin relevan sekarang, bukan makin usang.

Bedanya hanya satu hal yang krusial: kalau dulu alienasi dipaksakan oleh mandor, jam kerja pabrik, dan rantai kontrak kerja, sekarang kita memaksakan alienasi itu pada diri sendiri, dan kita menyebutnya disiplin atau produktif tahi kucing.

Seorang kreator konten yang bekerja 14 jam sehari membuat video tentang produktivitas tidak memiliki waktunya sendiri. Ia memiliki jadwal algoritma. Seorang freelancer yang bangga selalu available tidak sedang membangun karier, ia sedang membangun penjara tanpa tembok. Seorang karyawan yang dengan bangga tidak ambil cuti karena “passionate” dengan pekerjaannya tidak sedang mencintai pekerjaannya. Ia sedang menginternalisasi kepentingan perusahaan sebagai kepentingannya sendiri.

Itu bukan passion. Itu sindrom Stockholm versi korporat!

Kapitalisme lama butuh rantai untuk mengontrol buruh. Kapitalisme baru membuat kita merantai diri kita sendiri, lalu menunjukannya dengan caption inspiratif.

 

Gary Vee adalah Produk Sistem, Bukan Jawabannya

Jika kita mau sedikit menarik mundur pikiran, hustle culture punya wajah yang sangat sempurna: Gary Vaynerchuk, atau Gary Vee.

Ia menyuruh kita kerja 18 jam sehari, mengorbankan akhir pekan, tidak mengeluh, dan love the process. Jutaan orang mengikutinya. Saya pun, pada satu titik dalam hidup saya, ikut terpesona dengan cara ia berbicara seolah-olah satu-satunya yang memisahkan kita dari kesuksesan hanyalah kemauan untuk menderita lebih lama dari orang lain.

Yang tidak pernah masuk ke dalam konten-kontennya adalah pertanyaan paling sederhana yang seharusnya diajukan pertama kali: untuk siapa semua ini bekerja?

Ketika kita kerja mati-matian 18 jam sehari, siapa yang paling diuntungkan?

Kalau kita karyawan, jawabannya adalah perusahaan. Kalau kita freelancer, seringkali jawabannya adalah klien yang membayar murah karena tahu kita akan tetap mengerjakan segalanya dengan harga rendah demi “membangun portofolio.”

Hustle culture bekerja paling baik bagi mereka yang sudah memiliki modal terlebih dahulu: modal finansial, modal sosial, dan privilese struktural.

Gary Vee bisa hustle karena ia punya jaringan, ia punya modal awal dari bisnis keluarga, ia punya akses ke ruangan-ruangan yang pintunya tidak terbuka untuk kebanyakan dari kita meski kita balas email sampai Subuh sekalipun.

Ketika ia menyuruh kita hustle dari posisi yang berbeda, ia sedang menjual ilusi kita sambil memuluskan engagement yang menguntungkan ekosistem platformnya.

 

“Orang Sukses Tidak Mengeluh” dan Senjata Psikologis Lainnya

Lalu bagaimana caranya agar kita yang sudah lelah ini tetap mau tunduk dan merelakan waktu istirahat kita?

Jawabannya ada pada penciptaan senjata psikologis.

“Orang sukses tidak mengeluh.”

“Fokus ke solusi, bukan masalah.”

“Stop making excuses.”

Kalimat-kalimat itu terdengar seperti motivasi, tapi mari kita telanjangi kemunafikannya.Ffungsinya jauh lebih gelap, yaitu mekanisme untuk membungkam pertanyaan-pertanyaan kritis yang seharusnya kita ajukan pada diri sendiri.

Antonio Gramsci, pemikir Italia yang dipenjara rezim fasis karena pemikirannya dianggap terlalu berbahaya, menyebutnya hegemoni, kondisi ketika kelas yang berkuasa berhasil membuat kelas yang dikuasai menerima tatanan yang merugikan mereka sebagai sesuatu yang normal, bahkan diinginkan.

Hustle culture adalah contoh hegemoni yang bekerja paling sempurna di abad ke-21.

Tidak ada mandor yang memaksa kita lembur malam ini. Yang ada hanyalah ratusan konten per hari yang secara kolektif membangun satu narasi: kalau kamu tidak kelelahan, kamu tidak cukup serius. Kalau kamu berani istirahat, kamu sedang tertinggal.

Ini bukan motivasi. Ini mekanisme kontrol sosial yang disampaikan melalui bahasa pemberdayaan.

 

Yang Paling Menakutkan adalah Kita Sudah Teralienasi dari Pertanyaan Itu Sendiri

Marx bicara tentang alienasi dari produk dan proses kerja itu masih bisa diidentifikasi, masih bisa dilawan secara kolektif, tapi hustle culture melakukan sesuatu yang jauh lebih canggih.

Kenapa aku bekerja sekeras ini?

Untuk apa sebetulnya?

Apakah ini yang aku mau dari hidupku?

Apakah aku bahagia?

Pertanyaan-pertanyaan itu sekarang dicap sebagai tanda kelemahan mental. Padahal menolak mengajukan pertanyaan kritis atas kondisi diri sendiri bukan tanda kekuatan karakter. Itu tanda bahwa ideologi sudah selesai bekerja sampai ke lapisan terdalam. Kita sudah menjadi mesin yang paling efisien karena tidak perlu diawasi karena sudah dengan senang hati mengawasi diri sendiri.

Ini bukan sepenuhnya salah kita, dan saya serius mengatakannya.

Sistem ini didesain dengan sangat baik dan sangat sabar. Platform media sosial mendapat keuntungan dari konten produktivitas yang terus diproduksi. Brand mendapat keuntungan dari konsumen yang terlalu sibuk dan lelah untuk mempertanyakan pilihan-pilihan mereka. Perusahaan mendapat keuntungan dari karyawan yang menganggap lembur tanpa bayaran adalah bentuk investasi pribadi.

Semua pihak untung kecuali kita yang sedang membaca ini sambil menunda tidur karena masih ada target yang belum tercapai.

 

Lalu Bagaimana?

Saya tidak sedang menyuruh orang berhenti bekerja keras. Bekerja keras untuk sesuatu yang benar-benar bermakna, dengan kondisi yang adil, untuk tujuan yang kita tentukan sendiri, itu cerita yang sama sekali berbeda.

Yang perlu dipertanyakan hanya ini,

Siapa yang mendefinisikan “kerja keras” itu untuk kita, dan siapa yang paling diuntungkan dari definisi tersebut?

Marx bilang kesadaran kelas adalah langkah pertama pembebasan. Di era hustle culture, kesadaran yang dibutuhkan mungkin lebih personal dulu sebelum kolektif menyadari bahwa tubuh kita bukan mesin produksi, bahwa waktu istirahat bukan kemunduran dari kompetisi imajiner, dan bahwa kebahagiaan yang terus-menerus kita “tunda dulu sampai sukses” itu tidak akan pernah datang kalau kita tidak berhenti sebentar dan bertanya dengan jujur: sebenarnya aku ini sedang mengejar apa, dan untuk siapa?

Kini, setiap kali saya membuka media sosial dan melihat foto meja kerja jam satu pagi dengan caption “no days off”, saya tidak lagi merasa terinspirasi karena saya tahu persis seperti apa rasanya berada di dalam foto itu.

Saya tahu bahwa yang paling diuntungkan dari semua kerja keras yang terpampang di sana bukanlah orang yang ada di balik kameranya.

Kalau jawabannya hanya “supaya bisa hustle lebih keras lagi” ya, selamat. Alienasi sudah selesai sempurna bekerja pada kita.

Content writer di satu media Indonesia. Generasi 90an dari Jawa Timur. Lulusan sastra dari satu kampus di Jogja. Suka ngopi sambil ngomong sendiri. Instagram @tiaramerdika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!