Hukum Murphy dan Nyimpang

32

Berikut adagium-adagium membosankan tapi bagus dan dinamai Murphy’s Law: 1. Apapun yang bisa salah, akan salah. 2. Semuanya memakan waktu lebih lama dari seharusnya; 3. Tidak ada yang sesederhana yang terlihat. Semuanya tampak begitu filosofis dan membosankan layaknya truisme. Tapi siapaun harus menghargai seorang penerbang dari Amerika tersebut, sebab ia sudah berhadap-hadapan dengan maut berkali. Well pastilah tidak mudah menjadi penerbang di tahun-tahun saat pesawat-pesawat lebih mirip kaleng yang dilontarkan dari sebuah ketapel.

Tahun 2018 dan 2019 ini adalah tahun yang goblok dan membanggakan bagi Nyimpang. Karena sejak awal kami semua gak tahu persisnya model bisnis media seperti apa yang bakal kami jalani. Pokoknya saya nekat menggadaikan motor di pertengahan 2018 dan dibilang tolol sama temen-temen.

Saya tidak bisa perbaiki semua, tapi satu demi satu coba saya lakukan. Memetakan masalah dan memperbaiki satu persatu. First thing first adalah bentuk model bisnisnya. Beberapa upaya dicoba tahun lalu, nampaknya tidak bisa jadi jalan keluar. Beberpa sudah dipikrkan dan dibicarakan, tapi namaknya saya tidak punya cukup keberanian memutuskan, sebab dalam hal ini, memutuskan hampir berarti melakukannya sendiri. Misal, jika kami ingin membuat pengajuan iklan untuk mendapat penghasilan itu artinya saya sendiri yang musti memimpin rapat, menyusun proposal dan mendesainnya. Atau jangan-jangan ikut mempresentasikannya ke calon klien juga. Taoi mungki ini Cuma pikiran saya sendiri saja. Rasanya tidak adil berpikir begini, sebab saya belum bicara pada tim. Saya terlalu ragu.

Atau hanya perlu lebih banyak dorongan saja. Lebih besar imajinasinya saja.

Belakangan saya musti berbelok arah demi menemukan cara yang tepat agar nyimpang bisa running (lagi)Saya tidak bisa perbaiki semua, tapi satu demi satu coba saya lakukan. Memetakan masalah dan memperbaiki satu persatu.Belakangan setelah meminta restu kru (Ayi, Devon, Hilmi, Ade, dan Wdy) saya meminta bantuan Erwin Setia, penulis muda yang produktif nan menjanjikan itu untuk membantu mengatasi keterbatasan yang ada di Nyimpang.

Sekarnga dia resmi bergabung. Jadi aku akan perkenalkan sekaligus kru baru yang menjadi redaktur pelaksana, sebelum kami semua sepakat berganti pemred. Apa boleh bikin, saya tak begitu cakap memimpin sekaligus mengurusi persoalan teknis semua model operasional kami, pada website, penerbitan (pustakaki press), lini merchandise (serikat ayr mata), dan belakangan syukurnya kedai kopi (Kedainyimpang).

Perekrutan ini setidaknya mengatasi dua masalah: model bisnis dan keredaksian.

Sampai hari ini satu saja sisa masalah kami: model bisnis. Setan bangsat ini barangkali bakal jadi PR serius dalam tahun ketiga kami nantinya–kami mulai dari Januari 2018 dan sebentar lagi masuk 2020, alias tahun ketiga.

Putri kawan kami dari Gatra yang saat itu terasa pedas mulutnya itu bertaruh, kalau nyimpang bakal tersungkur di tahun keduanya. Saya hampir mengiyakannya. Saya tertawa-tawa saja meski dada saya hampir tak kuasa menahan air mata. Sebab kita sama tahu banyak media daring yang dibesarkan secara kolektif, punya muatan konten yang lebih ciamik dari nyimpang, nyatanya tumbang di tahun ke duanya.

Dua tahun belakangan ini kami membiayai semuanya secara swadaya. Saya dan Ayi Nurhasanah (editor kami yang pemberang itu) mengajar di sekolah yang sama, Devon, ilustrator dan manajer acara kami yang agak miring menjadi anak indie dan nge-grab, Ade sendiri bekerja di sebuah percetakan, dan Hilmy kuliah di UPI Purwakarta. Masing-masing kami menyumbang sesuai kesanggupan, dalam bentuk dana, tenaga, dan waktu. Semuanya kadang terasa ringan. Kadang juga tidak. Tapi kami ingin bersenang-senang.

Kami berpisah, meski sebisa mungkin, khususnya bagian redaksi saya Ayi dan Ade tetap membuat Nyimpang running. Semua komunikasi dilakukan di whatsapp. Sementara itu semua berlangsung, saya tiba-tiba punya urusan pribadi yang tidak bisa diabaikan. Saya berada di titik… fuck kok gini-gini saja, ya. Saya merasakan kelelahan yang kurang ajar asunya.

Pada September lalu saya memutuskan jalan-jalan, mengambil jarak tempat,waktu dan lingkungan. Dalam dua minggu saya memutari Jombang surabaya. Sampai sekarag saya bahkan gak tahu apa yang saya dapatkan dari pengeluaran mahal (karena sering nginep di hotel) tersebut. Terutama yang berkaitan langsung dengan pemecahan masalah.

Leave A Reply

Your email address will not be published.