

ia berdiri di depan papan tulis
dengan kapur yang lebih jujur dari nasibnya sendiri
menuliskan masa depan sementara dompetnya menganga
kala dunia selalu menawar harga hidup
tenaganya dihitung lebih murah dari selembar kertas ujian
perutnya padahal selalu bertanya-tanya
ia menghitung receh sembari melihat harapan yang bocor
di antara celah doa dan lelah yang menggantung di langit-langit kontrakan
di ruang ini
masih tersisa jejak namamu
di lipatan-lipatan waktu
rindu telah menjadi aku
aku akan terurai pelan-pelan
menjadi bisik yang mencarimu
air menginap di rumahku tanpa izin
lemari jadi perahu kecil yang kelelahan
dan ikan-ikan mulai hafal alamat kami
birokrat datang membawa kata-kata kering
sementara kakiku terus basah oleh janji
di antara berita yang pura-pura surut
ketupat menggantung rapi di layar ponselku
tangis ibu pecah dari sinyal yang putus-putus
aku mengunyah rindu yang belum matang
aku tak bisa membayangkan malam lebaran yang memelukku terlalu erat
dan air mata diam-diam menjadi kampung halaman sementara
This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.
kerenn pak, semangat terus ya!!