Honor, Kapur, dan Lapar

Honor, Kapur, dan Lapar

ia berdiri di depan papan tulis
dengan kapur yang lebih jujur dari nasibnya sendiri
menuliskan masa depan sementara dompetnya menganga
kala dunia selalu menawar harga hidup
tenaganya dihitung lebih murah dari selembar kertas ujian
perutnya padahal selalu bertanya-tanya
ia menghitung receh sembari melihat harapan yang bocor
di antara celah doa dan lelah yang menggantung di langit-langit kontrakan

 

 

 

Persuasi Rindu

di ruang ini
masih tersisa jejak namamu
di lipatan-lipatan waktu
rindu telah menjadi aku
aku akan terurai pelan-pelan
menjadi bisik yang mencarimu

 

 

 

Air Naik, Kata Turun

air menginap di rumahku tanpa izin
lemari jadi perahu kecil yang kelelahan
dan ikan-ikan mulai hafal alamat kami
birokrat datang membawa kata-kata kering
sementara kakiku terus basah oleh janji
di antara berita yang pura-pura surut

 

 

 

Ketupat dalam Jaringan

ketupat menggantung rapi di layar ponselku
tangis ibu pecah dari sinyal yang putus-putus
aku mengunyah rindu yang belum matang
aku tak bisa membayangkan malam lebaran yang memelukku terlalu erat
dan air mata diam-diam menjadi kampung halaman sementara

Lahir di Bogor, 23 Juli 1999. Pernah bergiat di HIMA Satrasia FPBS UPI. Saat ini berprofesi sebagai dosen. Berdomisili di Medan, Sumatera Utara. Dapat dijumpai di Instagram @indra_rasyid

One thought on “Honor, Kapur, dan Lapar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!