Hikayat Iman dan Cinta

“Ya besok kalau sudah nikah aku ikut agama suamiku!” ujarku pada Tante yang masih saja memaksaku untuk menikah dan melaksanakan ibadah.

Kini aku ada di tengah-tengah kebimbangan antara desakan menikah dan kewajiban memeluk satu keimanan yang belum dapat kutentukan.

Lagipula, memang kenapa jika aku percaya Tuhan tapi tak mengikuti ajaran agama apa pun?

Mengapa aku harus memilih satu jika aku bisa menerapkan semua ajaran yang benar?

Kenapa juga menikah ada batas umurnya?

Di negara ini rasanya tua begitu cepat, umur begitu singkat. Mungkin efek negara miskin, kita tidak mampu membeli usia harapan hidup, sehingga umur tiga puluh pun dianggap tua! Makanya, tiga puluh harus sudah menikah. Kalau kau lihat Han Hyo-Joo berumur tiga-sembilan dan belum menikah, ohhh god! Dia menua dengan sempurna, tanpa kerutan yang disebabkan oleh hama bernama suami!

Rasanya jika bukan karena sosok yang kupanggil tante ini adalah sosok yang begitu berjasa buatku, aku akan tetap teguh pada pendirianku. Age like a fine wine, tanpa lelaki, tanpa pikiran tak perlu. Baiklah, akan kucari laki-laki baik dan kuikuti agamany! Orang bilang keimanan bisa datang dari banyak tempat, maka aku akan ambil jalan keimanan dari jalur cinta.

Dialah pria pertama, bernama Rodriguez. Tinggi lebih dari seratus delapan puluh, tangannya penuh rambut halus—aku yakin dadanya tak berbeda, badan yang ceking dan rambut keriting itu menjadi ciri khasnya. Kami bertemu lewat aplikasi kencan, dia mencari pasangan serius, cocok. Mungkin inilah jalan Tuhan yang ingin mempermudah urusan hambanya! Tuhan yang mana? Mari kita cari tahu!

Kami bertemu pertama kali di kafe yang sepi dan biasa saja. Katanya dia tidak begitu nyaman berada di tempat yang banyak digemari orang-orang.

Penilaian pertamaku cukup baik, dirinya berwawasan luas dan berbicara dengan santun.

Sejak kecil memang dididik secara agamis. Begitulah pengakuannya, sedang aku jadi penasaran agama yang dianutnya. Sampailah kami di pertemuan kedua, pertemuan yang semakin dalam dan terbuka. Saat inilah aku mengetahui agamanya. Agama yang jika kami menikah akan kuikuti. Agama yang sebagai sanderaku kepada Tante, janjiku untuk beriman pada agama dan tak lagi ada di keadaan yang disebut sebagian orang sebagai agnostik.

Dia menyembah Apel. Dia adalah satu dari minoritas di negeri ini yang menyembah Apel. Sungguh teguh dan taat pria di hadapanku ini. Ketika aku bertanya mengenai agamanya, dia dengan antusias menerangkan,

“Yang warna merah ya! Soalnya ada lagi yang hijau, biasanya itu orang Jepang yang memeluk!”

Dalam kobaran Apelisasi itu, dia menerangkan bahwa, “Banyak dari kalian—pemeluk agama lain—yang sebenarnya menistakan Tuhan kami!”

“Oh ya? Seperti apa contohnya?”

“Kau tahu? Ini adalah perkataan lawas sebenarnya,” dia sedikit ragu melanjutkan. Namun setelah menyesap kopi di hadapannya dia kembali kepada permasalahan,

“Aku yakin kau pernah mendengarnya, tebak-tebakan lawas tak lucu itu!”

“Yang mana?”

“Buah, buah apa yang disiplin? Jawabannya apel, karena apel pagi.”

Kini aku tahu di mana permasalahannya. Ya, mungkin semua orang beragama akan sebal ketika Tuhan mereka dijadikan bahan tebak-tebakan usang seperti itu. Empati itu berlanjut dan kami semakin terikat.

Suatu hari aku mencium bau yang begitu pekat pada mulutnya. Kejadian itu kulalui malam hari di mobil berdua dengan dia seorang. Kami hendak berciuman. Namun semakin dekat bibirnya, aku mencium bau yang tidak asing. Bau itu tak dapat kutoleransi sejak kecil. Bau yang begitu menyengat, bahkan dilarang untuk berada di beberapa hotel di negara-negara maju. Bau durian.

“Habis makan durian, Mas?”

“Iya, Dek. Mamas habis ibadah.”

“Kok ibadah bau durian, Mas?”

“Iya, memang ibadah Mamas itu dengan makan durian.”

“Apa hubungannya menyembah Apel dengan makan durian?”

“Iman, Dek. Memangnya kamu pernah bertanya hubungan antara bentuk ibadah dengan wujud Tuhan kepada agama lainnya?”

Dia menyampaikan poin yang penting dengan napas baunya itu. God! Andai saja napasnya tak begitu pekat, atau seminimal-minimalnya aku suka durian, aku pasti akan tersentuh dengan ucapannya. Tak pernah kuragukan bentuk ibadah agama lain, seunik apapun ritualnya!

“Tapi banyak orang tak suka durian.” tanyaku mulai risau.

Jika aku menikah dengan lelaki ini, maka aku harus beribadah sesuai dengan agamanya.

“Memang. Tahap pertama dari beribadah memang adalah memaksakannya. Sampai pada suatu titik kau akan bisa menikmatinya, tentu dengan kadar keimanan yang semakin tinggi.”

“Kalau sudah dipaksa tetap tidak suka?”

“Barangkali kau begitu banyak berbuat dosa, sehingga Tuhan mencabut kenikmatanmu dalam beribadah.”

Kami berpisah tanpa berciuman. Dia mengantarku pulang dengan muka masam dan perasaan kentang. Aku belum tahu aturan agamanya tentang perzinaan ini.

Apakah memang tak diatur, atau sisi agamisnya tak kuasa menahan nafsu yang memberontak?

Sayang seribu sayang, entah harus disayangkan atau aku harus bersyukur pada Yang Maha Kuasa, kami tak berjodoh. Aku tak perlu melakukan ibadah yang bukan seleraku itu dan dia tidak perlu lagi menamparku karena melanggar ajaran agamanya.

Aku hilangkan komunikasi dengannya ketika dia sudah mulai bermain tangan.

Tak sengaja aku membawa bekal saat kami jalan bersama di suatu pagi. Rencana untuk lari pagi berdua itu menjadi mimpi buruk bagiku—dan baginya, kurasa. Semalaman aku menyiapkan bekal untuk kami makan berdua setelah puas berkeringat dan penuh dengan dopamin.

Hai lelaki, tak bisakah kau melihat usahaku dalam membuat suasana yang menyenangkan?

Malam itu, aku menyiapkan dua potong roti lapis, salad sayuran dan potongan buah pir. Rasanya menu ini sangat cocok dan memenuhi gizi yang dibutuhkan setelah berolahraga. Aku tidur dalam keadaan begitu tenang, tak bermimpi. Mungkin tidur paling nyenyakku selama lima tahun terakhir, mengetahui bahwa esok akan membahagiakan.

Esok paginya kita sudah bertemu di alun-alun kota, berlari seadanya mengitari lokasi karena aku tak terlatih. Aku berlari pagi pun tak pernah terbayang sebelumnya jika bukan dari ceramahmu yang begitu meyakinkan itu. Kau bilang hamba yang sporty lebih dicintai dibanding hamba yang tidak. God! Aku tak tahu Apel memiliki begitu banyak kriteria idaman!

Selepas itu kita duduk di bawah pohon yang begitu besar. Mungkin umurnya sudah ratusan tahun dan aku tahu dia telah menjadi banyak saksi manusia-manusia biadab yang tinggal di bawah sini, termasuk kami berdua.

Aku buka bekalku, dari satu kotak ke kotak lain. Dia tersenyum melihat kotak makan pertama, berisikan roti lapis daging dan keju. Dia mencubit pipiku ketika aku membuka kotak makan kedua berisikan salad sayur.

“Sungguh mulia hamba yang menjaga kesehatan dengan makanan sehatnya!” ujarnya dengan senyum begitu lebar sampai mata itu sedikit menutup.

Di kotak ketiga kau tak memberikan reaksi.

“Untuk makanan penutup,” ucapku memberi tensi, “Kita makan,” aku membuka kotak makan terakhir, “Tadaaa!”

Berisikan potongan dadu buah pir segar.

Dia tak memberikan reaksi. Senyumnya mulai hilang. Garis melengkung itu kini terlihat begitu datar. Matanya gelap. Dia menunduk.

“Kenapa Mas? Tidak suka buahnya?”

Badannya bergetar hebat. Diambilnya kotak makan ketiga dengan paksa, dilemparkannya jauh entah ke mana. Aku terkejut, apa yang salah? Dia menampar pipi kiriku dengan telapak tangan kanannya, lalu menampar pipi kananku dengan punggung tangan kanannya. Dua tamparan yang begitu panas. Entah api mana yang tersulut dari gesekan kedua kulit manusia ini. Namun rasanya begitu panas. Bajingan!

Selesai itu, dia meneriakiku tanpa melihat sekitar. Tak malu dilihat para keluarga yang sedang bertamasya, tak malu dilihat pasangan mesra lainnya, dan para pedagang makanan yang kurang pelanggan.

“Berani kamu makan kerabat Tuhan?! Tak tahu kau Pir masih satu famili dengan Tuhan?!”

Ah, kebiasaan orang agamis ini. Memaksakan semua yang haram pada dirinya kepada semua orang. Seakan-akan semua orang harus menghindari larangan Tuhannya. Aku tak tahu menahu ajaran itu, kau tak tahu, dia tak tahu, mereka tak tahu. Tapi laki-laki ini memaksaku untuk mengharamkan buah kesukaanku.

Aku menangis tak sadarkan diri. Berlari menjauh dari dia. Bersembunyi sampai tak terlihat lagi, dan pulang. Pulang pada kesendirian. Nampaknya, perjalananku dalam mencari iman masih panjang.

 

Sleman, 4 Mei 2026

Stand up comedian, MC, dan penulis. Tidak begitu berbakat, tapi senang menggelutinya. Instagram @kambingalaska

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!