Heh Binzein, Saya Bersyukur menjadi Laki-Laki yang Tidak Merendahkan Perempuan!

Ketika doomscroll seminggu ini, wajah Bupati Purwakarta muncul beberapa kali di layar ponsel saya. Lagu “Lalaki Langit Lalanang Bejad” sudah pasti temanya!

Sampai tulisan ini dipublikasikan, hal itu menjadi permasalahan publik.

Di kolom komentar, orang-orang memiliki reaksi yang beragam, namun saya melihatnya terpisah menjadi dua tubuh:

  1. Ada yang memandangnya sebagai karya seni yang tidak perlu dibaca berlebihan.
  2. Ada pula yang merasa bahwa lagu tersebut menyentuh isu yang cukup sensitif: moralitas, isu gender, ekspresi seni, sampai budaya.

Tentunya, makna lirik dari lagu itu tidak hanya ditentukan oleh maksud si seniman (entah layak atau tidak disebut seniman), tetapi juga oleh nuansa di dalam teks itu sendiri. Oleh karena itu, meskipun si seniman menjelaskan bahwa karyanya merupakan refleksi pribadi dan tidak dimaksudkan untuk merendahkan perempuan, penjelasan itu tidak bisa menghapus kemungkinan bahwa identitas laki-laki sedang dibangun dengan menegasi pengalaman perempuan. Seperti yang tertera di liriknya.

Setidaknya itulah yang saya pahami dari pemberitaan yang ada. Namun ada hal menarik bagi diri saya secara personal mengenai lagu tersebut.

Bagi saya pribadi, sebagai laki-laki, lagu itu membuat saya bertanya,

“Kenapa rasa syukur menjadi seorang laki-laki dibangun melalui pengalaman hidup perempuan?”

Terkadang manusia memang mengenali identitas dirinya melalui sebuah perbedaan. Ucapan seperti,

“Saya bukan Prabowo”, atau

“Hidup saya berbeda dengan dia”

Sadar tak sadar, mungkin kita sedang memahami siapa diri kita dengan melihat seseorang yang bukan diri kita. Dalam hal ini, perbedaan membantu kita untuk mendefinisikan identitas kita. Tentunya tidak ada yang salah dengan itu. Kita memang terkadang menjelaskan diri kita melalui sesuatu yang bukan kita. Seperti, “Saya bukan tim bubur diaduk” untuk menjelaskan “Saya tim bubur tidak diaduk”.

Namun perbedaan itu tidak digunakan sekedar untuk memahami diri, tetapi juga sekaligus merendahkan posisi orang lain. Pada titik ini, kehidupan perempuan dijadikan sebagai pembanding yang membuat seseorang merasa lebih beruntung, lebih baik, bahkan lebih benar, hanya karena pembandingnya dianggap punya kelemahan.

Persoalan dalam lagu ini bukan semata-mata karena si seniman mengungkapkan rasa syukur telah menjadi seorang laki-laki. Setiap orang tentu berhak bersyukur atas dirinya sendiri kepada Tuhan.

Persoalannya, rasa syukurnya berpijak di mana?

Dalam lagu Lalaki Langit Lalanang Bejad, rasa syukur yang seharusnya bersifat personal malah memperoleh bentuknya melalui pengalaman yang dilekatkan pada tubuh perempuan. Terlebih, pengalaman tersebut dimengerti sebagai suatu pengalaman buruk yang menimpa seseorang ketika dirinya menjadi perempuan. Sehingga dari pengalaman yang diambil itu, seorang laki-laki dirasa bisa mensyukuri kehidupannya begitu saja.

Mengapa rasa syukur itu memperoleh bentuknya melalui penderitaan yang diasosiasikan dengan perempuan?

Dalam lagu ini, pengalaman perempuan tidak dibicarakan untuk memahami perempuan, melainkan dipakai untuk menjelaskan laki-laki. Identitas laki-laki memperoleh kepastian bukan dari dirinya, tetapi dari adanya penderitaan perempuan. Penting untuk dipahami, karena dalam hal ini negasi dilakukan dengan acuan pengalaman buruk perempuan.

Bayangkan, misalnya saya berkata, “Saya bersyukur menjadi orang Sunda.”

Kalimat ini berakhir pada dirinya sendiri, tidak ada suatu permasalahan besar. Ketika saya berkata, “Saya bersyukur menjadi orang Sunda, karena tidak seperti orang ini yang begini begitu.”

Rasa syukur yang tadinya berdiri sendiri, kini bergantung pada gambaran kehidupan orang lain. Apakah semakin buruk gambaran yang dibuat, akan semakin tinggi pula rasa syukur yang dibangun?

Kemungkinan, kita sendiri tidak begitu asing dengan pola tersebut. Kita menjumpainya dengan mudah saat mengobrol bersama teman, keluarga, juga orang asing. Suatu identitas dibangun dari kelemahan yang dilekatkan pada orang lain.

Mengapa cara seperti itu lebih mudah?

Barangkali, karena kita jarang mengenal diri kita secara langsung. Kita lebih cepat mengatakan yang bukan kita, daripada menjelaskan diri kita yang sebenarnya.

Menjelaskan diri sendiri memerlukan usaha. Harus memahami nilai yang kita pegang, pengalaman yang membentuk kita, serta alasan mengapa kita bisa menjadi diri yang sekarang. Sebaliknya, mengatakan “aku bukan perempuan” jauh lebih mudah. Perbedaan itu sendiri sudah dianggap sebagai bukti definitif dirinya.

Cukup dengan menarik pengalaman perempuan yang dianggap buruk, si seniman sudah merasa mendapatkan definisi yang baik tentang identitas laki-laki.

Namun rasa syukur seperti itu memberi kesan pengecut, rapuh, bahkan tidak tulus. Sebab akan terus mencari objek baru untuk dibedakan, dikritik, bahkan direndahkan. Tentu tidak selalu karena kebencian, melainkan karena tanpa pembanding sebagai pijakan, dia tidak bisa berdiri tegap.

Rasa syukur yang tulus seharusnya tidak seperti itu. Seseorang tetap bisa bersyukur dengan menbandingkan dirinya dengan orang lain, tanpa harus merendahkan posisinya. Laki-laki dapat bersyukur menjadi laki-laki tanpa harus menjadikan kemalangan perempuan sebagai alasan rasa syukurnya.

Hal ini juga tentu berlaku sebaliknya. Ketika suatu identitas ditarik untuk dijadikan keset demi membangun identitas lain, kita kehilangan kesempatan untuk melihat orang lain sebagai sesama manusia, bukan sekedar pembanding.

Terlebih, pengalaman tubuh perempuan tidak bisa begitu saja menjadi definisi dari identitas perempuan. Jadi, rasa syukur si seniman bahkan memiliki pijakan yang salah.

Jika kita menelusurinya lebih dalam, sebenarnya rasa syukur yang ada dalam Lalaki Langit Lalanang Bejad bersifat kosong. Alasannya, si seniman tidak mengatakan seperti apa itu menjadi laki-laki. Ia hanya mengatakan apa yang tidak dialami laki-laki. Dalam arti lain, rasa syukur atas kelelakian si seniman itu tidak memiliki makna, karena cuma hidup selama masih ada kemalangan perempuan yang dinegasikan.

Mungkin polemik Lalaki Langit Lalanang Bejad, bukan semata-mata apakah seseorang boleh bersyukur menjadi laki-laki atau perempuan. Identitas memang bisa lahir dalam relasi kita dengan orang lain. Tantangannya adalah, mampukah kita bersyukur tanpa perlu merendahkan pengalaman orang lain sebagai cerminan negatif untuk mendefinisikan diri kita?

Maka dari itu, saya bersyukur menjadi laki-laki yang bisa menghargai perempuan.

Penulis adalah manusia unik, setidaknya dalam pikirannya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!