

Bagi harukist sebutan untuk penggemar karya Haruki Murakami) tulisan tentang kesepian, patah hati, cafe yang memutar musik jazz, hingga kehadiran kucing menjadi suatu kewajaran. Membaca karya Murakami membuat pembaca mengakrabi kekhasan karyanya, yang sering dibilang Murakami-esque itu~
Tema besar karya penulis legendaris Jepang ini memang tak pernah monoton. Mulai dari kisah cinta segitiga, reuni kawan lama yang membuka rahasia, hingga seorang gadis misterius yang hidup di dunia paralel. Meskipun harus diakui, ada beberapa pengulangan pola atau karakterisasi yang mirip, tapi tetap saja, membaca karya Murakami meninggalkan aftertaste yang unik. Sebahagia apa pun kita sebelumnya, karyanya seringkali membuat kita muram, merasa tiba-tiba kosong dan sendirian. Persis seperti Squidward di scene “Sendirian, sendirian, sendiriiiian.”
Selain dihujani banyak penghargaan literatur, buah karya Haruki Murakami juga diadaptasi beberapa sineas menjadi sinema layar lebar. Berikut di antaranya.
Novel Murakami yang paling modern-pop ini diterbitkan tahun 1987. Norwegian Wood sering dibilang membawa nama penulisnya ke puncak popularitas lantaran disukai banyak anak muda di Jepang pada masanya.
Pada tahun 2010, sutradara kelahiran Vietnam, Tran Anh Hung mengadaptasi Norwegian Wood ke layar lebar. Film ini dinominasikan di beberapa festival film seperti Venice International Film Festival dan diputar di Toronto International Film Festival.
Secara keseluruhan, filmnya sendiri mengikuti cerita dasar dari novelnya. Mengisahkan seorang lelaki bernama Toru Watanabe (Kenichi Matsuyama) yang melakukan kilas balik kehidupan masa mudanya di Jepang tahun 1960-an. Menjalin persahabatan dengan beberapa karakter unik lain, seperti Kizuki (Kengo Kora), Nagasawa (Tetsuji Tamayama), dan Naoko (Rinko Kikuchi). Juga pertemanannya dengan gadis manis bernama Midori (Kiko Mizuhara).
Melalui filmnya, kita akan melihat seberapa gelap kehidupan anak muda Jepang di masa itu. Juga bagaimana mereka memandang hubungan pertemanan, peralihan ke hubungan yang lebih romantis, hingga isu kesehatan mental yang cukup mengena.
Berdasarkan cerita pendek Haruki Murakami yang terbit di tahun 2005, sutradara Daishi Matsunaga membuat sebuah film bergenre drama dengan judul yang sama, Hanalei Bay. Film ini diputar pada agenda skrining di festival film Rotterdam dan Jeonju.
Hanalei Bay memfokuskan cerita pada kisah kehilangan seorang ibu tunggal bernama Sachi (Yo Yoshida). Sachi yang tinggal di Jepang mendadak harus pergi ke Hawai setelah menerima kabar duka. Sang anak lelaki satu-satunya, Takashi (Reo Sano) meninggal akibat serangan hiu saat sedang berselancar di teluk Hanalei. Dalam rangka mengenang kematian puteranya, Sachi datang kembali ke teluk yang sama 10 tahun kemudian. Di sana, ia bertemu dua lelaki muda dan memulai cerita baru.
Menonton Hanalei Bay seolah diajak mengikuti perjalanan penerimaan duka seorang ibu. Dan bagaimana cara seseorang menghadapi kehilangan tragis nan tiba-tiba. Cara mengenang dan memproyeksikan kerinduan dan banyak sisi humanis lainnya yang ditampilkan.
Cerita pendek Haruki Murakami berjudul Barn Burning, nyatanya menginspirasi sutradara kenamaan Korea Selatan, Lee Chang Dong, membawanya ke layar lebar. Selain memenangkan kategori film terbaik di ajang Grand Bell Award tahun 2018, Burning juga memenangkan beberapa penghargaan festival film internasional seperti FIPRESCI Prize di Cannes Film Festival.
Melalui filmnya, kita akan mengikuti kisah lelaki muda bernama Jong Soo (Yoo Ah In). Ia hidup serabutan dan tinggal di daerah pinggiran. Suatu ketika, ia bertemu kembali dengan teman lamanya, Hae Mi (Jeon Jong Seo). Melalui Hae Mi, Jong Soo kemudian mengenal Ben (Steven Yeun), pemuda kaya raya yang jadi teman dekat Hae Mi.
Meskipun kelihatannya bergenre drama, Burning mengambil bentuk thriller psikologis yang unik dan dinamis. Penonton akan dibawa pada kompleksitas hubungan Jong Soo-Hae Mi-Ben dan perbedaan status ekonomi-sosial yang menganga antara mereka. Pun nasib Hae Mi di kemudian hari yang menjadi bahan diskusi di kalangan penonton.
Tidak seperti 3 film sebelumnya yang didasarkan pada masing-masing 1 karya Murakami, Drive My Car bertumpu pada 3 karya Murakami. Garis besar cerita didasarkan pada cerita pendek berjudul sama. Elemen cerita yang lain ditambahkan dari cerpen lain berjudul Scheherazade dan Kino.
Film Jepang arahan sutradara Ryusuke Hamaguchi ini masuk dalam 4 nominasi Academy Awards dan sukses memboyong titel Best International Film di ajang yang sama. Hamaguchi mengemasnya dalam film perjalanan slow-burn berdurasi 3 jam yang menuntut banyak kesabaran, pun menghadiahi penonton cerita reflektif yang cukup dalam.
Berkisah tentang seorang aktor-sutradara panggung bernama Yusuke (Hidetoshi Nishijima) yang harus melanjutkan hidupnya setelah sang istri, Oto (Reika Kirishima) meninggal dunia. Yusuke seringkali memutar memori kebersamaan masa lalu. Hingga banyak rahasia yang terbuka kemudian.
Suatu hari, Yusuke diperkenalkan pada seorang gadis muda yang berprofesi sebagai supir, Misaki (Toko Miura). Misaki bertugas mengantar-jemput Yusuke dalam rangka latihan teater di Hiroshima. Pertemuan yang terlihat biasa saja ini ternyata menimbulkan dinamika menarik antara keduanya.
Nah, sebagai harukist, membaca tulisan Haruki Murakami dan menonton film-film adaptasinya menjadi pengalaman yang terasa baru dan berbeda. Dari keempat film di atas, mana yang sudah pernah kamu tonton?
Part-time writer, full time-doctor. Menggemari Haruki Murakami, Park Chan Wook, dan iced-Americano. Instagram @mariamonataliani
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!