Hari Ini, Rumi Dimakamkan

Hari ini, Rumi dimakamkan.

Penyebab kematiannya tidak ada yang tahu, atau sengaja ditutup-tutupi. Namun, aku tahu dari lebam birunya, ia tidak mati dengan segala bentuk kematian yang bernaskan ikhlas.

Ah, tapi di sini, siapa peduli? Kematian perempuan rupanya hanya seperti kabar angin saja: berlalu sekejap kamu mengalihkan mata. Dua jam setelah pemakaman, tidak ada lagi yang tinggal. Hanya aku dan bayanganku yang memanjang ke belakang.

Kenapa, ya? Entah, mungkin karena aku penasaran saja yang akan ditanyai penjaga kubur padanya.

Yang manakah duluan akan mereka tanyai, keputusannya menjadi pelacur itu atau ketidakberdayaannya menjalani hidup yang layak

Akankah hidup akan lebih mudah baginya setelah ini, tuntaskah semua itu dengan kematiannya yang pedih?

Langit menggunturkan petir, memberi peringatan ia meluruhkan bumi, namun aku tetap tidak bergeming. Angin yang kencang memadu pikiranku pada masa yang jauh dan hinggap di sana dengan waktu yang lama.

Keretaku akan berpacu, tapi aku tidak sanggup memecut kakiku untuk melaju.

 

1990

Rumi bukan perempuan tukang sodor pantat dan kemaluan, kebalikanya ia justru begitu pemalu.

Tetapi badannya memang molek sangat, membuat semua baju selalu menonjolkan lekuk tubuhnya. Wajahnya bening meneduhkan, bibirnya berisi menggoda. Semua itu lahir padanya seperti sebuah ketidak adilan bagi semua perempuan, dan ia benar-benar perempuan yang baik hati selama sepuluh tahun aku mengenalnya.

Semua orang mencemburuinya, dan di antara mereka, aku adalah orang paling cemburu. Aku sedikit bersyukur mereka tidak melihat Rumi dari mataku, sehingga tidak mungkin menguasai obsesi tidak masuk akal ini. Rumi lebih dari sekedar cantik, ia hidup dengan air dan penuh mimpi. Ia punya cita-cita menjadi arsitek. Aku sudah melihat gambarnya. Semua itu megah.

Sehingga ketika suatu malam ia datang padaku mengatakan akan menikah, aku tak bisa menahan diriku dari rasa bingung.

Hah?!”

“Aku hamil.”

Seluruh duniaku seakan luruh, meninggalkanku tanpa kata yang dapat mencapai lidahku.

”Fadli.” ia menelan ludah. ”Tidak apa karena kami menginginkannya

Ia berkata seperti itu, lalu menangis. Lirihannya yang alun seperti nyanyian kematian yang menyimpan kesedihan yang bengis dan lama.

”Apa-apaan?!” aku mendorongnya kasar. ”Jadi begitu, kau jual dirimu pada orang kaya itu, hah?! Juga mimpimu, dan siapa dirimu? Kau buang semua untuk jadi lacurnya, ya?!” 

Rumi menamparku.

”Kamu boleh mengoceh semaumu tapi jaga cara bicaramu! Kau tahu apa tentang aku?”

”Semua kecuali fakta kau diam-diam menyodorinya bokongmu.” aku semakin membara.

“Salah. Aku telah salah menilaimu.”

Ia tertawa, lalu matanya berputar melayangkan cara pandang yang tak pernah aku lihat sebelumnya: pandangan hina, yang pernah kutangkap saat usiaku enam tahun. ”Kenapa repot-repot? Kita ini perempuan.” Ia melerai tanganku kasar. ”Kita tidak butuh mimpi. Ingat kata Pak Hafiz si guru agama itu? Hawa lahir dari Adam. Jadi untuk apa bermimpi? Kita hadir untuk melayani mereka!”

”Kau tidak tahu apa yang kau ucapkan!”

”Maka coba saja buktikan sendiri! Hiduplah dengan layak, bersekolahlah, kejar mimpimu. Pastikan kamu tidak berakhir sama sepertiku.”

Setelah itu Rumi pergi dengan marah. Hentakan kakinya memantuk di balik pintu, meninggalkan baranya di manapun langkahnya berjejak.

Aku rasa ada yang retak di dada.

Akibat dari perdebatan kita terakhir itu, aku tidak datang ke pernikahannya.

Terakhir kudengar kabar, anaknya sudah lahir. Ia keluar dari sekolah tepat setelah ia melahirkan anaknya (meski ketika itu ia memang tidak pernah lagi datang), menjadikannya resmi seorang berijazah SMP, tanpa pengalaman kerja, tanpa apa-apa. Lalu kini mereka pindah ke tempat yang jauh, dan aku tidak pernah lagi berkontak dengannya. Ternyata ia serius mengemban peran menjadi seorang ibu itu.

Sehingga tak ada yang membuatku akan pernah lagi memikirkannya, selain melihatnya sebagai perempuan yang hina.

Nyaman, kan, hidupmu dengan pria kaya raya itu? Merasakan imbas manis dari kekayaan ayahnya yang besar, cukup menghidupimu hingga anak cucu.

Dalam absennya, dengan perlahan ingatan Rumi kabur di bayang waktu. Aku mulai sibuk dengan segala kelulusan, segala ujian yang menanti, dan persiapan masuk kuliah. Aku tak pernah sempat menemui dunia luar di mana bukan tentang kuliah. Hingga beberapa bulan kemudian, aku dinyatakan diterima di salah satu perguruan tinggi negeri, jujuran Sastra Inggris.  

Namun terkadang, pada malam seperti ini kenangan itu mengejar. Kadang aku bermimpi tentangnya; tentang Rumi, tentang mimpinya, dan tentang menjadi manusia. Saat itu, ketika mimpi terasa jauh, benarkah ia tidak menantikannya?


1996

Namun Rumi, nampaknya kamu benar tentang satu hal—tidak, kau mungkin benar tentang semuanya.

Hidup memang tidak dirancang untuk perempuan.

Mungkin seperti dirimu yang menghamba cinta, kutemukan diriku juga pasrah padanya. Aku tidak bisa menghalau sepi yang meradang dan kebutuhan untuk dapat mecinta. Dua tahun setelah kelulusan, aku dilamar, dengan haru kujawab “Iya”. Setelah itu pun aku melahirkan anak. Kemudian persis sepertimu, aku kini seorang ibu.

Aku selalu berpikir bahwa aku dapat mengatasi semuanya, saat aku masih begitu belia dan naif. Suami, anak, karir, sosial, pekerjaan, dan aku memang menghadapi itu dengan cukup baik. Aku adalah perempuan karir yang baik, seorang istri yang baik, seorang ibu yang baik. Tetapi tidak ada yang dapat sanggup menanggung semua itu: memperhatikan semua selagi tetap dituntut untuk tetap waras, cekatan, dan cantik. Demi memperjuangkan itu semua, dalam prosesnya justru aku kehilangan seorang anak.

Seperti bayang-bayang teror, pengalaman itu menghantuiku dan memojokanku melakukan satu hal: melepas semuanya. Karir, status sosial, dan teman-teman.

Kini aku adalah ibu rumah tangga yang sibuk mengurusi dapur, memasak untuk anak dan suami, mengantar mereka dan menyambutnya pulang. Aku sibuk membangun hidup yang bukan milikku.

Dan kau tahu Rumi? Sepertinya tidak ada perempuan yang akan siap menjadi ibu. Tidak akan ada yang siap dengan kesendirian ini, ketika anakmu pulang dengan sebuah cerita, dan suamimu dengan kehormatannya. Sedang kau, terbelakang dan jauh, tak punya sepotong kisah untuk dibagi, sendiri, asing. Siang ketika mereka pergi, aku menangis.

Malam ini, aku memimpikan tentang hari itu; percakapan kita yang begitu belia. Kamu tertidur di sebelahku, hangat napasmu menyembur kulitku. Tak pernah kuberpikir akan  menakar harga masa muda itu.

Aku terbangun dengan tangis, menangisimu.

 

2022

Ketika anakku sudah semakin besar dan mulai lupa pada rumah, aku mulai mencicipi lagi rasa kehidupan dan terlana. Hanya saja aku seorang yang sudah uzur dan terlalu banyak merokok. Kesehatanku menurun begitu drastis sehingga tidak banyak pula yang dapat kulakukan. Tetapi dengan sisa napas yang mulai tersendat, kucoba kembali  memandangi hidup.

Pada suatu hari di bulan September, aku memutuskan mengunjungi Surabaya seorang diri.

Sebuah bentuk penghargaan diri mungkin, karena siapa yang merayakan hidup sebagai seorang ibu?

Tidak ada jelasnya tempat yang aku pikirkan setelah turun dari stasiun itu. Aku hanya merasa ingin merokok sebentar sehingga aku ngacir ke taman dekat sana yang sepi orang karena hari kerja. Di sana aku terbaring menghirup kota yang asing.

Namun ketika hendak aku menyulut api, seseorang menyenggolku dan rokokku pun jatuh. Bersalah, ia pun mengambilkannya untukku. ”Maaf.”

Sejenak mata kita berpapasan. Aku langsung mengenali gemerlap hijau mata itu—tidak pernah ada gemerlap mata lain yang pernah sehijau miliknya.

”Rumi?” kupanggil namanya.

Ia tertegun dan langsung ngacir, aku mengejarnya. Hadirnya Rumi hampir seperti lubang hitam yang menyeret semua benda di alam semesta kepada intinya dan begitulah aku tak bisa melepas bayangnya. Kami berlarian sepanjang jalan dan gang sempit. Aku tak bisa lagi membiarkannya berlalu.

Rumi semakin terpojok, di depannya dinding yang tinggi menghadap wajahnya dan ia tak berkutik. Aku kehabisan napas, terengah-engah menghampirinya. ”Sedang apa kau di sini? tanyaku menyentak.

Aku? Seharusnya aku yang tanya, sedang apa kau di sini?!” Rumi langung mendorongku menjauhinya.

”Keluar dari sini sekarang!”

Aku menahan tangannya. ”Dengar, aku minta maaf tentang perdebatan kita terakhir kali.

Rumi terlihat gelisah, ia tidak mendengar apa yang kukatakan, dan kakinya tidak berhenti bergerak.

Aku tidak memperhatikannya tadi, tetapi karena momen yang lama, aku dapat memandnginya dengan seksama. Sama sepertiku, Rumi hampir berkeriput, tetapi balutan riasan wajah yang tebal menutup usia uzurnya—sejak kapan ia berias  setebal itu?

Turun kebawah, wajahku memerah—dadanya yang tebuka dan ketat, hampir seperti menggodaku. Sebenarnya, seberapa jauh Fadli mengubahnya?

Aku dengar langkah kaki, seseorang berlari ke arah kami. Ya, lelaki, dengan badannya yang besar. Ia berteriak sepanjang jalan yang tak kusadari sebelumnya, ”Heh lonte!!!”

Aku tak megerti, siapa yang dia panggil? Hanya ada aku dan Rumi. Tetapi kegelisahan Rumi mengurai jawab pada tanyaku. Ketika berada di hadapan kami, aku tidak sempat bereaksi ketika ia mulai memukul keras Rumi hingga darah bercecer dari kepalanya yang menghantam kayu usang.

”Gila ya, bisa-bisanya kabur lagi ngelayanin Pak Dhani. Kamu pikir Pak Dhani itu siapa, hah?!” ia menghantam wajah Rumi lagi.

Rumi mengaduh kesakitan dan meminta ampun, tetapi lelaki itu tidak mendengarnya dan terus memukulinya. Aku yang bingung dan ketakutan mencoba melerai, tapi badanku dihantamnya. Aku mencoba berteriak, dan kepalaku dibenturkannya juga.

Pusing dan berkunang-kunang, aku mencoba berdiri tetapi kepalaku terlalu pusing dan aku rasa aku ambruk di gang itu. Aku mencium bau tanah yang ditera air, barulah aku tahu malam itu akan hujan. Tetapi aku tak sempat pergi dan justru tertidur di sana.

Sungguh liburan yang sial.

Aku rasa baru dapat merasakan lagi tubuhku setelah pingsan beberapa jam karena aku begitu haus dan lapar. Ketika bangun, di atasku adalah dinding yang kumuh, dengan penerangan seadanya. Aku tidak tahu sedang berada di mana, tetapi Rumi ada di sebelahku.

”Jangan bicara apapun,” katanya sambil memberiku minum.

”Tinggallah di sini sampai membaik. Ketika kamu rasa sudah bisa berjalan, pulanglah. Anakku tidak bisa tidur di kamarku yang kecil.”

”Kau tinggal di sini? Sejak kapan?” tanyaku bingung. ”Di mana Fadli?”

”Aku sudah bercerai dengannya sejak 2008,” jawab Rumi santai, tidak mengindahkan mataku yang tertegun pada kalimatnya. ”Ini, makan dan pulanglah. Jangan berlama-lama di rumah seorang lacur.”

Rumi membawakanku nasi kuning, yang aku terima dengan banyak tanya tetapi tak dapat kuutarakan. Kulihat ia juga tak mau bicara banyak.

Sepertinya langit sudah malam, tetapi aku belum bisa begitu tegak melangkah pergi. Sedang Rumi tengah merias wajahnya dan memilih baju. Seperti waktu itu, riasan tebal dan baju terbuka. Lalu tanpa mengucap selamat tinggal, ia pergi.

Aku tidak tidur malam itu atau meniggalkan kamar, sehingga aku memiliki banyak waktu luang untuk memaknai dinding keropos itu, atap kumuh itu, foto Rumi dengan—yang kutaksir anaknya—yang mulai berjamur itu, menandai ia sudah lama tinggal di sini.

Apa yang membuatnya hingga setepuruk ini? Di mana Fadli yang kaya raya itu?

Kulirik buku di meja rias samping kasur dan mengambilnya. Isinya catatan kecil; tagihan air, kosan, nama-nama pria yang aku tak tahu. Namun, aku begitu tertarik pada bukunya sehingga menghabiskan satu malam membacanya. Aku mencari-cari lagi, dan melihat satu buku merah bersampul yang isinya catatan tentang seks dan laki-laki dalam datar buku sebelummnya.

Sebenarnya, seberapa jauh hidup telah mengecewakannya?

Pagi tiba tetapi aku hanya diam di kamar ini, hingga bunyi pintu terbuka mengalihkanku. Rumi sudah kembali. Ia melepas sepatunya.

”Kenapa kau tidak kembali saja langsung? Bukankah banyak yang perlu kamu urus, wanita karir yang sukses?”

Wajahnya biru, dan terdapat sobek di dekat bibirnya yang masih mengucur darah. Aku memutuskan tidak berdebat dengannya. ”Duduklah, biar aku obati lukamu.”

Di luar dugaan, Rumi menurut. Ia duduk tepat di sampingku sedang aku membersihkan lukanya dan memberinya obat. ”Aku tidak akan men-judge-mu,kataku sambil menekan lukanya. ”Meski aku tidak tahu, aku mengerti rasanya. Apa yang terjadi?

Yah, aku seorang ibu, Kir.” ia tersenyum getir. ”Kamu pikir hidup ini milikku?”

Aku menekan lukanya. ”Mungkin kalau kamu tidak buru-buru dan terlalu bernapsu, kamu akan jadi seseorang sekarang, tidak harus hidup seperti ini.”

”Sebenarnya, aku tidak menginginkan anak itu, dan tidak juga menginginkan Fadli,” Rumi meringis ketika aku menekan lukanya terlalu kuat. ”Fadli memaksakan semuanya padaku, termasuk persetubuhan itu.”

Aku tercenung, dan tanpa menungguku menemukan kata-kata, ceritanya mengalir lagi. Kau tahu ayah dan ibuku miskin, tak pernah benar-benar memperjuangkan mimpiku. Ketika berita itu sampai padanya, sumringah mereka. Langsung saja pernikahan itu digelar tanpa mendengar kehendakku untuk menolak.”

”Sempat aku berpikir untuk membunuh mereka.” Matanya menerawang. ”Tetapi dengan kesendirianku memaknai mimpi, aku semakin sadar, bukankah ujung cerita ini akan sudah ditetapkan, apalagi selain menjadi ibu? Jadi aku menerima lamarannya.”

”Namun kamu benar tentang satu hal; seharusnya kita terlebih dahulu menjadi manusia sebelum mengemban peran ibu. Aku tidak mempersiapkan apa-apa dan semua dariku hilang. Selama menikah, aku terlalu bergantung pada Fadli yang tidak bisa apa-apa, dan ketika usaha bapaknya mati ia ikut mati bersamanya. Anak-anakku kelaparan. Ibu mana yang tega melihat itu? Jadi kukorbankan semuanya, termasuk anak-anakku. Kubiarkan mereka membenci ibunya yang jalang.”

Diam terasa mencekik, tapi aku rasa tidak ada kata diperlukan saat ini. Aku masih menyeka tulangnya yang semakin rapuh terakhir kali aku melihatnya.

Aku menatap sekeliling dan edarku berhenti pada foto anak perempuan dibingkai samping kasurnya. Cantik. Aku pun tak bisa acuh kala mata Rumi menjadi begitu lembut memandanginya, atau menghentikan bibirku untuk bersuara,

”Yah, ibu. Sebuah azab, barangkali.”
Aku tertawa kecil. ”Kamu juga tidak salah, Mi. Aku rasa kamu telah benar dalam berbagai hal.”

Mata kami bertemu, dan kutemukan lagi bahasa itu. Suatu pengertian yang teduh, bercampur dari aroma masa kecil dan kedewasaan yang kurang dinanti. Aku dan Rumi terkekeh kecil dengan pedih. ”Yah, siapa menyangka anak seperti kita ini akan dapat melakonkan peran ini.”

”Dan mengembannya seumur hidup,” tambahku.

Rumi tertawa dengan air mata di ujung kelopak birunya. Hidup telah tidak adil bagiku tetapi lebih buruk untuknya. Ia memandang ke atap, berbisik, Kalau mereka tumbuh besar, aku hanya ingin kembali pada-Nya.” Rumi meremat tanganku kuat ”Tetapi bisakah Tuhan menerimaku yang kotor ini,”

Kugenggam tangannya untuk menenangkannya. ”Kamu telah memenuhi peranmu dengan baik, baik sekali. Untuk menjadi ibu, ataupun seorang istri, ucapku.

Rumi tersenyum. Bulir yang singgah di matanya kini jatuh di pipinya. ”Tidak ada yang pernah mengatakan itu padaku.”

Ia pun menangis. Rumi menghabiskan setengah jam untuk menangis dan aku di sana, menyeka wajahnya yang basah. Riasan wajahnnya sudah hilang dibanjiri air matanya, dan yang tersisa adalah isakan yang tak mejamu kata.

Hei, kasih tahu aku, apa yang kamu harapkan? Aku bersumpah akan menebusnya seumur hidupku.”

Rumi berhenti sejenak, lalu terbahak. Hal yang tak pernah aku lihat dan aku bayangkan. Ia tertawa hingga kerutan di matanya membentuk jalur bulan, begitu cantik andai ia sendiri dapat melihatnya.

”Baiklah kalau begitu, janji penuhi aku satu hal. Bagaimana pun nanti caranya aku mati, tolong kuburkan aku dengan layak.”

 

2025

Sebenarnya, apa arti kebebasan untuk perempuan, atau hidup, atau mati? Sebab Rumi dan aku tidak menemukan arti dari itu.

Begitu pun kamu, kurasa, karena, bukankah dengan itu kamu menjadi ibu? Mengemban peran istri, menghamba pada anak dan suami. Menyiapkan bekal, membereskan rumah, memperjuangkan hidup mereka dan menaruh dirimu di belakang. Lalu tanpa pernah menggenggam bentuk kebebasan, kita mati.

Rumi, ketika aku waktu itu aku bertanya,

Apa yang kamu harapkan?

Pertanyaan itu berlari kembali padaku. Kemduian seperti tawamu yang mengurai pedih, mengisi kosongnya tangki harapanmu, aku pun menemukan diriku tak menemui makna menjadi bebas, atau mengharap padanya. Bisakah kita benar-benar bebas?

Apakah akan lebih berarti jika aku menjadi mayat, terkubur bersamamu?

Hari semakin gelap dan bajuku basah kuyup. Dingin mulai lebih dalam menusuk, dan meski aku ingin menatapimu lebih lama, kakiku berkhianat. Mereka memaksaku pergi sebelum kereta terkahir berpacu meninggalkanku. Sehingga di sinilah aku, stasiun yang mengantarkanku kembali.

Keretaku berpacu lagi, mengantarku pulang ke rumah suami dan anak-anak. Kembali mengemban peran seorang istri dan ibu.

Lahir di Tangerang, 2002. Menyukai sastra dan jatuh cinta pada puisi-puisi Sapardi. Tidak suka jus pisang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!
trendbet | vaycasino | mariobet | mariobet giriş | mariobet | mariobet giriş | mariobet | mariobet giriş | roketbet | roketbet giriş | roketbet | roketbet giriş | hiltonbet | hiltonbet |