Hari-Hari menjadi Santri

Aku masih mengingat dengan jelas hari pertama ketika kakiku menginjak halaman Pondok Pesantren Al Amin. Hari itu langit tampak begitu cerah. Matahari bersinar terik seolah ingin menyambut siapa saja yang datang. Namun di balik suasana yang terang itu, hatiku justru dipenuhi berbagai perasaan yang bercampur menjadi satu. Ada rasa bahagia karena akhirnya aku bisa menuntut ilmu di tempat yang selama ini hanya kudengar dari cerita orang-orang di sekitarku. Akan tetapi, ada rasa sedih yang sulit kuungkapkan karena untuk pertama kalinya aku harus berpisah dengan keluarga dalam waktu yang tidak sebentar.

Perjalanan menuju pesantren sebenarnya sudah sering kubayangkan jauh-jauh hari. Aku membayangkan akan menjadi santri yang kuat, mandiri, dan mudah beradaptasi. Namun kenyataannya tidak semudah yang ada dalam pikiranku. Saat mobil yang mengantarku perlahan keluar dari gerbang pondok, aku melihat bapak berdiri di sana sambil melambaikan tangan. Beliau tersenyum seperti biasanya, tetapi aku tahu senyum itu menyimpan perasaan yang sama denganku.

Aku berusaha tersenyum balik meskipun mataku mulai terasa panas. Ketika mobil itu benar-benar menghilang dari pandangan, ada bagian dalam diriku yang terasa kosong. Saat itu aku sadar bahwa kehidupan yang selama ini kujalani telah berubah.

Hari-hari pertama di pesantren terasa sangat panjang. Semua terasa asing. Aku harus mengenal lingkungan baru, menyesuaikan diri dengan aturan yang berbeda, dan hidup bersama banyak orang yang sebelumnya tidak kukenal. Jika di rumah aku terbiasa melakukan segala sesuatu dengan santai, di pesantren semuanya berjalan teratur sesuai jadwal.

Sebelum azan Subuh berkumandang, para santri sudah bangun. Suara alarm bersahut-sahutan dari berbagai sudut kamar. Setelah salat berjamaah, kegiatan langsung berlanjut hingga malam hari. Ada mengaji, sekolah, hafalan, piket kebersihan, belajar bersama, dan berbagai aktivitas lainnya.

Pada minggu-minggu pertama, aku sering merasa lelah. Tubuhku belum terbiasa dengan rutinitas yang begitu padat. Bahkan terkadang aku masih terbangun di malam hari karena teringat suasana rumah. Aku merindukan hal-hal sederhana yang dulu sering kuanggap biasa.

Aku merindukan suara ibu yang membangunkanku setiap pagi. Aku merindukan aroma masakan yang memenuhi rumah menjelang waktu makan. Aku merindukan bapak yang sering memintaku membuatkan secangkir kopi ketika beliau sedang bersantai. Aku bahkan merindukan suara televisi yang menyala di ruang tengah dan obrolan kecil bersama keluarga sebelum tidur. Hal-hal yang dulu terasa biasa, ternyata menjadi sesuatu yang sangat berharga ketika tidak lagi ada di dekatku.

Selain rasa rindu, aku juga mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan teman-teman baru. Aku termasuk orang yang tidak mudah membuka percakapan. Ketika teman-teman lain terlihat cepat akrab dan saling bercanda, aku lebih banyak memilih diam. Aku takut salah bicara. Aku khawatir perkataanku akan membuat orang lain tidak nyaman.

Akibatnya, pada hari-hari awal aku sering terlihat menyendiri.

Suatu malam setelah kegiatan belajar selesai, aku berjalan menuju balkon di lantai dua asrama. Udara malam terasa sejuk setelah hujan yang turun sejak sore. Dari tempat itu aku bisa melihat halaman pondok yang mulai sepi. Lampu-lampu di beberapa sudut masih menyala, sementara sebagian besar santri sudah kembali ke kamar masing-masing.

Aku berdiri memandang langit yang gelap.

Entah mengapa malam itu rasa rinduku kepada rumah datang begitu kuat. Berbagai kenangan bersama keluarga muncul satu per satu di dalam pikiranku. Aku mencoba menahannya, tetapi tanpa sadar air mata mulai jatuh.

Saat itulah aku mendengar suara seseorang di sampingku.

“Aku juga pernah merasakan hal yang sama.”

Aku menoleh dan melihat Lula, teman sekamarku.

Lula dikenal sebagai sosok yang ramah. Ia mudah bergaul dengan siapa saja dan hampir selalu terlihat ceria. Karena itu aku sedikit terkejut mendengar ucapannya.

“Maksudnya?” tanyaku pelan.

Lula tersenyum kecil.

“Waktu pertama kali masuk pesantren, aku juga sering menangis diam-diam. Aku kangen orang tua, kangen rumah, bahkan pernah ingin pulang.”

Aku menatapnya dengan heran.

Selama ini aku mengira hanya diriku yang merasa kesulitan beradaptasi.

Lula kemudian mulai bercerita tentang pengalaman awalnya menjadi santri. Ia mengatakan bahwa semua orang membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Tidak ada yang langsung merasa nyaman sejak hari pertama.

“Kita cuma sedang belajar,” katanya. “Belajar mandiri, belajar menghargai waktu, dan belajar menjadi pribadi yang lebih kuat.”

Aku mendengarkan setiap kata yang ia ucapkan.

Malam itu kami berbicara cukup lama. Untuk pertama kalinya sejak masuk pesantren, aku merasa ada seseorang yang benar-benar memahami apa yang sedang kurasakan.

Sebelum kembali ke kamar, Lula mengatakan sesuatu yang sampai sekarang masih kuingat.

“Percayalah, suatu hari nanti kamu justru akan merindukan masa-masa di pesantren.”

Saat itu aku hanya tersenyum kecil. Dalam hati aku merasa sulit mempercayainya.

Bagaimana mungkin aku bisa merindukan tempat yang sekarang justru membuatku sering menangis?

Namun waktu ternyata memiliki caranya sendiri untuk memberikan jawaban.

Hari demi hari berlalu. Aku mulai memberanikan diri untuk berbicara dengan teman-teman yang lain. Awalnya hanya percakapan sederhana, seperti menanyakan tugas atau meminjam alat tulis. Namun dari percakapan-percakapan kecil itu, perlahan hubungan kami menjadi semakin dekat.

Aku mulai merasakan hangatnya kebersamaan sebagai seorang santri.

Kami belajar bersama ketika menghadapi ujian. Kami saling membantu menghafal pelajaran. Kami berbagi makanan kiriman dari rumah. Bahkan ketika salah satu dari kami sakit, yang lain akan berusaha membantu semampunya.

Kebersamaan itu membuat rasa rinduku kepada rumah menjadi lebih ringan.

Aku mulai menyadari bahwa di pesantren, keluarga tidak selalu berarti orang-orang yang memiliki hubungan darah. Terkadang keluarga juga bisa hadir dalam bentuk teman-teman yang selalu menemani dalam suka maupun duka.

Selain itu, aku juga mulai menikmati berbagai kegiatan pondok.

Salah satu kegiatan yang paling kusukai adalah mengaji Kitab Al-Ibriz bersama Gus Zainurrohman pada waktu-waktu tertentu setelah Magrib. Aku selalu menantikan momen itu.

Suasana surau yang tenang, suara para santri yang menyimak dengan khusyuk, serta penjelasan Gus Zainurrohman yang sederhana tetapi penuh makna membuat kegiatan mengaji terasa begitu berkesan.

Beliau tidak hanya menjelaskan isi kitab, tetapi juga sering menyelipkan nasihat tentang kehidupan.

Suatu malam, beliau menyampaikan sebuah pesan yang sangat membekas dalam ingatanku.

“Terkadang Allah memberikan sesuatu yang tidak kita inginkan, dan menunda sesuatu yang sangat kita harapkan. Semua itu bukan tanpa alasan. Di balik setiap ketentuan-Nya selalu ada pelajaran yang harus dipahami.”

Kalimat itu terus terngiang dalam pikiranku.

Aku mulai merenungkan banyak hal.

Mungkin selama ini aku terlalu sibuk memikirkan apa yang tidak kumiliki. Aku terlalu fokus pada rasa rindu dan berbagai kesulitan yang kuhadapi, sehingga lupa melihat begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan.

Sejak saat itu aku berusaha untuk lebih banyak bersyukur.

Aku belajar menerima keadaan dengan lebih ikhlas. Aku belajar memahami bahwa tidak semua hal harus berjalan sesuai keinginanku. Aku belajar meminta maaf ketika melakukan kesalahan dan belajar memaafkan ketika orang lain melakukan kesalahan kepadaku.

Proses itu tentu tidak berjalan sempurna.

Masih ada hari-hari ketika aku merasa malas. Masih ada saat-saat ketika aku mengeluh karena tugas yang menumpuk atau jadwal yang padat. Kadang-kadang aku juga masih menangis karena rindu rumah.

Namun bedanya, kini aku tidak lagi merasa sendirian.

Aku memiliki teman-teman yang siap mendengarkan cerita dan keluh kesahku. Aku memiliki guru-guru yang selalu membimbing dengan penuh kesabaran. Aku juga memiliki lingkungan yang terus mengingatkanku untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Tanpa kusadari, pesantren mulai mengubah cara pandangku terhadap kehidupan.

Aku menjadi lebih menghargai waktu.

Aku belajar bahwa setiap menit memiliki nilai yang berharga. Aku belajar hidup lebih sederhana dan tidak bergantung pada orang lain untuk melakukan hal-hal kecil. Aku juga belajar bahwa kesuksesan tidak datang secara instan, melainkan melalui proses panjang yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan.

Beberapa bulan kemudian, aku berdiri kembali di balkon yang sama.

Balkon tempat aku pernah menangis karena merasa begitu jauh dari rumah.

Saat itu matahari mulai tenggelam di balik pepohonan. Langit berubah warna menjadi perpaduan jingga dan keemasan yang sangat indah.

Aku memandang pemandangan itu sambil tersenyum.

Anehnya, kali ini aku tidak merasa sedih.

Aku memang masih merindukan keluarga, tetapi rasa rindu itu tidak lagi membuatku merasa lemah. Justru rasa rindu itu menjadi pengingat bahwa ada orang-orang yang selalu mendoakan dan menantikan keberhasilanku.

Di tempat itu aku mulai menyadari betapa banyak hal yang telah berubah dalam diriku.

Aku bukan lagi santri baru yang pemalu dan sering menangis diam-diam.

Aku telah belajar menghadapi kesulitan. Aku telah belajar menerima perbedaan. Aku telah belajar bahwa setiap perjalanan hidup selalu membawa pelajaran yang berharga.

Saat itu aku teringat kembali ucapan Lula beberapa bulan lalu.

“Suatu hari nanti kamu akan merindukan masa-masa di pesantren.”

Kini aku benar-benar memahami maksudnya.

Pesantren bukan hanya tempat untuk belajar ilmu agama. Pesantren adalah tempat seseorang belajar mengenal dirinya sendiri. Tempat untuk belajar hidup sederhana, menghargai kebersamaan, memperbaiki akhlak, dan menumbuhkan kesabaran.

Di balik jadwal yang padat, aturan yang ketat, serta berbagai tantangan yang harus dihadapi setiap hari, terdapat pelajaran-pelajaran hidup yang tidak akan ditemukan di sembarang tempat.

Aku percaya, ketika suatu hari nanti masa-masa ini telah berlalu, aku akan mengenangnya sebagai satu bab terbaik dalam hidupku.

Pada akhirnya, setiap air mata yang jatuh, setiap kerinduan yang pernah terasa berat, dan setiap perjuangan yang dijalani selama menjadi santri akan berubah menjadi kenangan yang berharga.

Memiliki nama pena Diarysenjakudankamu_ . Mulai menulis sejak 2022. Instagram @americanodbshot_

One thought on “Hari-Hari menjadi Santri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!