Harga Sebuah Buku

Ia teringat sebuah kalimat yang terlontar dari laki-laki yang sedang berada di hadapannya dua bulan lalu. Tepat saat mereka meresmikan status berpacaran. Tidak banyak yang tahu ketika itu. Hanya teman dekatnya, dan teman dekat boyfriend-nya, begitu ia menyebutnya saat bercerita kepada kakaknya tempo hari. Memang menggelikan, tapi namanya falling in leuv, kita semua begitu, kan?

Kakaknya mengingatkan agar adiknya itu berpacaran secara sehat. Artinya, mereka harus tetap fokus pada studinya di kampus, sehat seperti slogan MBG ini hari tentu saja.

“Soal itu gak usah khawatir, Sayang,” kata Difa kepada kakaknya yang tengah menyelesaikan orderan jahitannya. Lalu, sebelum pergi ia sempat menggodanya dengan mencubit pipinya yang kanan hingga ia mengaduh.

Difa bergegas ke kamar karena harus segera ganti baju untuk bertemu dengan boyfriend-nya di Kafe Pojok yang tak jauh dari kampus. Mereka akan mengerjakan tugas bersama-sama namun lebih tepatnya, ia akan menyelesaikan tugas artikel sang kekasih karena tenggat waktu yang sempit dan tugas lain yang menumpuk. Namun, saat sibuk memilih baju, teleponnya berdering. Ia hanya menoleh dan membiarkannya hingga mati. Kemudian berdering kembali, namun ia tak menggubris sama sekali. Ia sibuk memilih beberapa warna baju yang telah menggantung di tangan sebelah kanan. Sejurus kemudian notifikasi pesan baru terlihat di layar handphone paling atas.

Yes! Sepertinya ini cocok untuk meet up hari ini,” katanya sambil memandang dirinya yang berada di cermin. Lalu, ia mengambil handphone yang tergeletak di atas meja belajarnya.

Dif, disuruh ke kampus sekarang juga sama Prof.

Begitu tulis sahabatnya melalui pesan WhatsApp.

“Besok aja, ah. Nanggung, sudah siap nih,” katanya kepada dirinya sendiri. Ia tidak membalas pesan sahabatnya. Kemudian ia mengambil baju warna navy yang telah dipilihnya tadi. Saat hendak mengganti bajunya, notifikasi pesan baru masuk lagi. Ia membuang napas kasar. Lalu, mengambil handphonenya kembali di atas meja. Ia membuka kasar layarnya dengan sedikit memanyunkan mulutnya.

“Aku sudah sampai di Kafe, kamu di mana?” kata Robet, laki-laki yang bisa meluluhkan hatinya hanya dalam waktu dua minggu. Mata Difa terbelalak membaca pesannya. Lalu, ia segera mengganti bajunya tanpa menghiraukan pintu kamarnya yang tidak tertutup rapat.

“Oke, aku jalan sekarang,”

Suasana kafe sepi namun tidak menenangkan karena berada tepat di pinggir jalan raya. Beberapa kendaraan seperti, motor, mobil, becak, delman, truk, bahkan bus berlalu lalang memadati jalan aspal yang juga tak terlalu mulus karena dimakan mulut-mulut rakus. Sesampainya di sana, mata Difa langsung tertuju kepada lekaki bertopi coklat, kaos pendek warna hitam yang dipadukan dengan celana jeans warna krim, dan tak lupa sebuah ransel hitam duduk santai di sampingnya.

“Maaf, tadi macet,” katanya. Robet sontak menoleh mendengar suara pacarnya yang muncul dari belakang.

“Iya, gak apa-apa, Lov,” katanya sambil melempar senyum paling manis karena ciri khas yang timbul di pipinya, lesung pipi. “Duduk dulu, minum, sudah ku pesankan.”

“Terima kasih banyak,” katanya setelah meneguk jus jeruk yang ada di hadapannya. “Gimana, Beb?” tanyanya.

“Santai, minum saja dulu, atau mau pesan makanan langsung?” kata Robet dengan tubuh setengah berdiri untuk memesankan seporsi makanan kesukaannya. Nasi goreng spesial, tidak pakai telur, dan pedas level 5. Tapi, Difa menggelengkan kepalanya.

“Artikel kemarin sudah aku selesaikan tadi malam. Jadi, tinggal kamu kumpulkan hari ini sesuai dengan jadwal,” katanya.

“Kamu memang terbaik, Lov,” katanya sontak memegang tangan kiri pacarnya dan menatap kedua bola matanya yang berwarna agak kecoklatan.

“Gak usah lebay,” timpalnya. Lalu, ia menarik tangannya. Begitu juga dengan Robet. Ia meminta maaf karena sudah lancang. Saat tengah asik berbicara, notifikasi pesan berbunyi dari handphone yang belum dikeluarkan dari dalam tasnya. Ketika membaca pesannya, ia hanya membuang nafas kasar.

“Kenapa?” tanya Robet. “Ada masalah apa?”

“Gak apa-apa. Biasa, dosen dengan seenaknya meminta datang ke kampus,” katanya sambil membalikkan layar handphone mengantisipasi agar pesan baru yang masuk tidak mengganggu waktu pacarannya.

“Semua dosen emang begitu,” balas Robet. “Oh iya. Maaf banget, kamu jangan marah ya. Dalam minggu ini, aku dan teman-teman komunitasku sedang mempersiapkan demo ke gedung DPRD jadi kita gak bisa banyak ketemu dulu,” katanya dengan menekuk wajahnya.

Difa tersenyum, mengangguk pelan, lalu meminum jus jeruk yang ada di hadapannya.

“Satu lagi. Aku mau minta tolong lagi. Tapi, kamu jangan marah, ya. Ada tugas artikel baru dari dosen killer-ku,” jelasnya.

Difa terdiam sejenak, kemudian tersenyum dan mengiyakan permintaan kesayangannya

“Kamu sibuk juga, ya?” tanya Robet.

“Gak masalah, kok,” jawabnya. “Sudah tugasku sebagai pacar buat membantumu.”

*

Kampus ramai. Motor dan mobil terparkir rapi. Taman dan halaman bersih, hanya terlihat satu dua daun kering yang jatuh kembali setelah disapu dan petugas kebersihan tengah asik berbincang ditemani secangkir kopi hitam dan sepiring bakwan. Namun, hati Difa tak serapi dan setenang suasana pagi ini. Ia harus bergegas ke ruang dosen karena sudah dicari dari kemarin. Jantungnya berdebar sangat kencang, jari-jemarinya erat memegang tas, dan kedua alisnya mengkerut. Bahkan beberapa teman kelas yang menyapanya sia-sia belaka karena ia tidak menoleh sedikit pun.

Setelah sampai di ruang dosen, suasana kontras dengan di luar. Ruangan mereka sepi, yang terdengar hanya detak jam dan bunyi air yang menetes dari keran pencuci tangan yang belum diperbaiki atau mungkin tidak ditutup rapat.

Difa mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan namun memang tampak kosong. Akhirnya, ia memilih untuk duduk di sebuah sofa panjang warna hitam. Beberapa menit kemudian terdengar suara ketikan dari salah satu ruangan yang berada di dalam ruang dosen tersebut. Suara keyboard itu terdengar dari ruangan yang pintunya tertulis Prof. Akrom Tanggok.

Jari-jemari Difa semakin erat memegang selempang tasnya serta kaki kanannya mulai bergerak-gerak. Lalu, ia memaksakan kakinya berdiri kemudian berjalan menuju ruangan itu. Pagi yang damai terasa mencekam. Keringatnya mengalir deras. Saat dekat dengan pintu ruangan Akrom Tanggok. Ia mengetuk perlahan.

“Masuk!” katanya dari dalam ruangan tanpa menghentikan ketikannya.

Difa membuka pintunya dengan sangat pelan namun pertolongan saat ini terasa tepat sekali baginya karena orang yang ditakutinya tidak ada di ruangan. Hanya seorang asisten dosen yang tengah duduk di samping mejanya sambil menyelesaikan tugas yang diamanahkan kepadanya. Tanpa sengaja, hembusan nafasnya yang berat tiba-tiba keluar dari mulutnya.

“Kenapa?” tanya Asdos itu. “Silakan duduk!”

Ia tercengang dengan tumpukan buku yang ada di samping komputernya. “Kemarin saya dipanggil untuk menghadap Prof. Kira-kira ada apa, ya?”

“Atas nama Difa? Betul?” tanyanya

Difa mengangguk cepat.

“Begini, karena kamu tidak mengerjakan tugas UTS dan tugas kelompok maka Prof. memberikan tugas lain membeli 3 buku karya beliau dan mengulasnya minimal menjadi 10 halaman,” jelasnya.

Difa terhentak dan matanya terbelalak. Sontak ia meminta keringanan kepadanya. Namun, Asdos itu menggelengkan kepalanya serta fokus kembali ke layar komputernya.

Tubuh Difa lemas setelah keluar dari ruang dosen. Wajahnya layu seperti bunga yang tak pernah disiangi pemiliknya. Ia memilih duduk di sebuah kursi yang tersedia di sebelah ruangan tersebut. Tempat itu biasanya digunakan mahasiswa ketika menunggu dosen atau hanya menunggu temannya yang dipanggil ke ruang dosen. Nama Robet, sejurus kemudian muncul di kepalanya.

Beb, bisa ketemu?

Namun tak ada balasan. Ia mengetik lagi pesan untuknya,

Kita ketemu ya, setelah jam kuliah

Tetap tak ada jawaban. Tenaganya semakin melemah, untuk itu, ia menyandarkan punggungnya ke tembok sambil memejamkan mata. Tak lama, notifikasi pesan baru masuk.

Aku masih bareng teman-teman. Lagi rapat. Memang kenapa? Kemarin kan aku udah bilang, tidak bisa ketemu dulu dalam minggu ini.

Difa menghempaskan kedua tangannya ke atas pahanya lalu memejamkan matanya kembali. Beberapa mahasiswa yang berlalu lalang melihatnya iba.

“Tuhan, dari mana aku dapat uang buat beli buku-buku itu?” katanya. “Aku gak mungkin minta ke Kakak, karena hasil jahit bajunya tak seberapa,”

Difa duduk di sebuah bangku di bawah sebuah pohon di taman dekat dengan fakultasnya. Tak banyak yang berlalu lalang karena sejak jam tiga sore. Sebagian besar mahasiswa sudah pulang ke rumah atau kos masing-masing. Sedangkan matahari mulai kembali ke peraduannya, dan ia masih sibuk dengan cara mendapatkan uang lalu membeli buku, mengulas, dan mendapatkan nilai ujian akhir semester dengan nilai bagus. Kemudian, ia berpikir untuk jujur saja kepada pacarnya.

Beb, aku butuh uang. Kamu masih sibuk? katanya melalui chatting.

Ini berkaitan dengan kelulusan semester ini.

Ia mengirimkan kekasihnya pesan lagi. Namun, tak ada jawaban hingga azan Magrib berkumandang. Kemudian, ia memilih untuk beranjak dari tempat duduknya karena tidak mungkin ia berada di area kampus yang sudah sepi dan agak gelap karena sebagian lampu tidak dihidupkan. Ia berjalan ke arah jalan raya dengan wajah berkerut. Matanya tak berani memandang ke sekeliling kampus. Kepalanya menunduk dan memilih untuk melihat ke satu arah.

Saat berada di ruas jalan, sebuah notifikasi masuk. Ia mengambil handphonenya dengan gerakan sangat cepat. Pucuk dicinta ulam pun tiba, Robet membalas pesannya.

Buat apa? Aku lagi sibuk! balasnya.

Difa mengepalkan tangan saat membaca pesannya. Matanya nanar namun ia menahan untuk tidak membalasnya dalam kondisi panas. Ia tidak ingin hubungannya kandas begitu saja karena zaman sekarang sulit mendapatkan cowok seperti Robet: setia, tampan, aktif, dan royal.

Keesokan harinya, perempuan itu memilih untuk tidak masuk kampus. Pikirannya selalu terbayang wajah Prof. Akrom yang jarang senyum dan irit berbicara dengan mahasiswanya jika tidak perlu. Kemudian, ia mengacak-acak rambutnya serta mengusap wajahnya kasar. Setelah itu, pesan baru masuk.

Kamu di mana? Di kelas? tanya Robet.

Ia tiba-tiba melonjak membaca pesan tersebut. Matanya terbuka lebar dan begitu pun dengan senyum di bibirnya.

Aku izin gak masuk hari ini,

Aku ke rumahmu.

Setelah membaca pesannya, Difa bergegas dari atas ranjang, mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi. Ada pun kakaknya yang sedang menyelesaikan pesanan jahitnya berteriak dari luar agar pelan-pelan mengambil dan menuangkan air ke sekujur tubuhnya. Namun, ia tidak menghiraukan itu.

Saat tengah merias wajahnya, suara motor Satria terdengar diparkir di halamannya. Kemudian, ia melangkah ke arah jendela untuk memastikan yang datang adalah pacarnya. Ia melihat sosok di atas sepeda motor itu terlihat lebih tampan dari biasanya dengan jaket kulit hitam dipadukan dengan celana jeans serta kacamata warna hitam. Lalu ia memencet bel dan setelah itu meneleponnya. Ia mengabarkan sudah ada di luar.

“Aku keluar dengan Robet dulu, kak,” kata Difa. Kakaknya mengiyakan tanpa bertanya pergi ke mana karena ia juga kenal dengan pacar adiknya.

“Kita di taman dekat sini saja ya,”

Mereka berdua duduk di atas rumput Jepang yang baru saja di potong. Semuanya terlihat rapi. Begitu juga dengan bunga-bunga yang bergoyang ke kanan dan ke kiri dengan gerakan yang lembut karena angin tidak terlalu bertiup kencang.

“Aku bawa uang yang kamu butuhkan,” katanya. “Semoga bisa menyelesaikan masalahmu.”

Mata Difa tiba-tiba berkaca-kaca mendengarnya karena ia kira Robet tidak peduli dengan masalahnya. Sontak ia memegang erat kedua tangan pacarnya lalu berterima kasih atas bantuannya.

“Tapi, sementara waktu KTPmu jadi tangguhannya karena aku mendapatkan uang itu dari pinjol,” jelasnya.

Mata Difa terbelalak mendengar penuturan pacarnya yang tiba-tiba menundukkan kepalanya. “Dan aku juga meminjam uang itu atas namamu karena butuh untuk keperluan komunitas.”

Tulisannya bisa dibaca di beberapa media online seperti kompasiana.com, kabarmegapolitan.com, zonabanten.com, dan womenandcve.id.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!