*Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.
—Tan Malaka

Kami pergi ke sebuah sekolah dasar di kecamatan Ciampel, Karawang  pada Kamis, 7 Februari 2019. Rute perjalanan yang cukup ekstrem. Dari mulai jarak yang lumayan jauh dari pusat kota Karawang. Jalan-jalannya terjal dan berbatu. Daerah itu seperti terisolir saja. Sebab berada di daerah lahan perhutani. Kami sampai menggunakan mobil offroad segala.

Kami ke sana membawa buku-buku bacaan untuk para murid di kelas jauh SDN Kutanagara II. Itu benar-benar “kelas jauh” secara harfiah. Kelas jauh SDN Kutanagara II dibangun secara swadaya oleh masyarakat dengan jarak yang cukup jauh dari pusat kota. Kini ia sedang dalam tahap pembangunan ulang karena sempat roboh pada November tahun lalu. Apa boleh buat sekolah yang awalnya dibangun untuk anak-anak Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) ini, bangunannya memang sudah lapuk..

Ketika sekolah tersebut roboh, kami dan kawan-kawan komunitas lainnya mengadakan aksi solidaritas. Kami menggalang dana dan berjualan. Komunitas Semesta Literasi sendiri membuka donasi secara online dan berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp. 2.800.015.

Sampai saat ini kelas jauh SDN Kutanagara II masih memprihatinkan. Dengan jumlah murid sekitar 80-an, mereka cuma punya tiga ruangan kelas, tanpa ruang guru. Pasca rubuhnya sekolah mereka, para siswa belajar di bawah tenda yang dibangun swadaya pula oleh masyarakat. Ada sih beberapa tenda juga yang dipinjamkan oleh dinas sosial sebagai ruang belajar mengajar sementara.

Masalahnya pembangunan ulang kelas jauh SDN Kutanagara II ini sangat lambat. Salah satu sebabnya adalah pendanaannya terhambat. Dalam keterangan bapak Syafrudin atau Pak Amud selaku komite sekolah, hal ini disebabkan kelas jauh SDN Kutanagara II berada di atas tanah milik PERHUTANI. Itu pula yang menjadi penyebab dinas pendidikan tidak bisa membantu, seperti yang dituturkan oleh Bupati Karawang, Ibu Cellica.

Permasalahan tidak berhenti sampai situ saja. Fasilitas-belajar-mengajar-sementara ini juga telah menujukkan tanda-tanda rusak karena selain dimakan waktu, juga sering tertimpa sisa-sisa reruntuhan bangunan. Kami melihatnya sendiri. Saat kami membawa buku-buku sumbangan saja, terlihat sekali betapa bingungnya mereka menyimpan buku-buku sumbangan tersebut. Untuk menampung 80 orang siswa saja, mereka cuma punya tiga ruang kelas. Boro-boro perpustakaan.

Meski kondisi sekolah tersebut mengiris hati, kami tertegun melihat murid-murid Kelas Jauh SDN Kutanagara II sangat bersemangat sekali dalam belajar. Ini kontras sekali dengan anak-anak yang bersekolah di kota-kota besar yang masih sempat-sempatnya mabar mobile legend atau membicarakan Saih Halilintar dan bintang youtube bergelimang “kemewahan” lainnya.

Ya, ampun. Kami berharap bisa sekaya keluarga Gen Halilintar, sehingga urusan dana perbaikan sekolah ini bisa kami kelarin secepatnua, aliih-alih buat beli mobil mahal buat konten youtube.

Antara kami dan anak-anak ini nyatanya tak jauh berbeda. Sama-sama tidak punya kekayaan seperti keluarga Halilintar. Meski agak sedikit ironi, ada kelegaan tersendiri membantu sedikit meringankan orang kesulitan pas kondisi kami tak jauh berbeda sulitnya.  

Saya benar-benar penasaran, apakah status tanah Perhutani sedemikian besarnya sehingga bisa menghalangi kepentingan para siswa dan guru di sini?

Kalau seluruh dinas-dinas ini tidak bisa menyelesaikan masalah begini, kita bisa bertanya: bagi anak-anak di kelas jauh tersebut gunanya dinas-dinas ini apa sih?

Profil Penulis

Ahmad Rafiuddin Wahar